BAB 18: KONSPIRASI

1315 Words
Hari -hari selanjutnya berjalan seperti biasa, tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka, keduanya bersikap seakan sudah melupakan kejadian malam itu. Walau tidak mengatakan apapun, tapi Jackson sesekali memperhatikan Ali, entah mengapa dia jadi penasaran dengan asistennya itu. Walau Ali bukanlah Lisa, pikirannya selalu kembali pada cinta pertamanya itu saat melihat Ali. Sedangkan Ali, dia berlagak bodoh dan sengaja tidak menyadari tatapan Jackson. Dia tidak mau memancing pria itu bertanya macam-macam padanya. “Selamat siang, Pak Ronan,” sapa Jana saat melihat sepupu bosnya itu. “Siang, Jana. Apakah Jackson sedang ada tamu?” tanya Ronan dan dia berjalan melewati Jana saat wanita itu mengatakan kalau Jackson ada di ruangannya bersama dengan Ali. Dia sudah biasa masuk ke ruangan sepupunya tanpa ijin jika sepupunya itu sedang tidak ada tamu. Tidak seperti dirinya yang terkadang bisa menggunakan ruang kantornya untuk bermain-main dengan wanita, sepupunya yang lurus selalu menggunakan ruangan itu sesuai dengan fungsinya, ruang kerja saja. Ronan masuk ke dalam ruang kerja Jackson dan seperti biasa tidak menemukan hal yang akan membuatnya terkejut, hanya ada sepupunya dan asistennya yang sedang bekerja. Kedua pria itu menoleh padanya saat mendengar pintu dibuka. “Hai, Ronan. Apa yang membawamu kemari?” tanya Jackson. Ali hanya mengangguk pada Ronan untuk menyapa pria itu dan Ronan juga melakukan hal serupa, dia bukan penggila hormat, jadi selama menurutnya masih bisa diterima, dia tidak akan mengkomplain sikap Ali yang menurutnya terkadang terlalu cuek itu. “Aku ingin mengajakmu makan siang,” ajak Ronan. “Jadwalku setelah ini apa?” tanya Jackson pada Ali. “Tidak ada keluar kantor. Laporan ini juga sudah tidak banyak, mungkin akan selesai dalam dua tiga hari ini,” jawab Ali. “Baik, ayo kita pergi makan,” kata Jackson. Dia membereskan dokumen di mejanya dan bangun dari kursinya. Dia sudah melangkah sampai pintu ruangannya saat merasa kalau Ali tidak berada di belakangnya, jadi dia menoleh dan melihat kalau asistennya itu masih berkutat dengan tumpukan dokumen di meja. “Ali, tinggalkan saja itu, kita makan dulu. Nanti baru kita kerjakan lagi,” kata Jackson yang membuat Ali menoleh dengan bingung. Begitu juga dengan Ronan, dia tidak menyangka kalau Jackson akan mengajak Ali. Jika itu Mario, dia tidak heran, tapi ini Ali, si asisten baru. “Anda mengajak saya pergi makan?” tanya Ali memastikan. “Bukan, kau minum saja sambil melihatku makan.” kata Jackson meledek Ali. Dia mulai sependapat dengan Mario, bicara dengan Ali itu benar-benar harus to the point. Lihat saja, sekarang saja pria itu masih mempertanyakan maksud perkataannya. “Baik, nanti saya akan minum sampai kenyang.” jawab Ali datar yang membuat Jackson tertawa, seperti kata Mario juga, Ali memang lucu dan dia mulai merasakannya beberapa hari ini. Jackson tidak menyadari kalau sebenarnya hal itu terjadi sejak dia mulai membuka diri pada Ali, tepatnya sejak dia merasakan kalau Ali mirip dengan Lisa. Sedangkan Ronan hanya memperhatikan kedua pria itu, baru kali ini Jackson bisa cepat akrab dengan orang lain. “Kau membawa mobil sendiri?” tanya Jackson pada sepupunya saat mereka turun lift. “Ya.” jawab Ronan. “Kau mau makan dimana?” tanya Jackson lagi. “Di restoran Italia milikku saja. Aku ingin melakukan inspeksi mendadak disana. Kita langsung bertemu disana saja,” kata Ronan dan Jackson menyetujui. Mereka menggunakan mobil masing-masing untuk pergi ke restoran milik Ronan yang berada di salah satu mal besar di kota ini. Ronan yang tiba lebih dulu sedang memperhatikan restorannya saat matanya menangkap wanita pujaannya yang sedang duduk di sebuah meja bersama dengan adik pria itu. Dia tersenyum dan langsung berjalan ke meja tempat wanita itu duduk. Sissy sedang sibuk memilih menu yang ada di buku menu saat suara yang sangat tidak dia harapkan terdengar. Dia menoleh dan menatap kesal pada Ronan. Mengapa pria itu bisa ada di mal di siang hari seperti ini? Bukankah seharusnya pria itu berada di kantor? Dia baru saja selesai meluapkan kekesalannya karena bunga dan gombalan pria ini yang tidak ada hentinya, dengan bermain di wahana bermain yang ada di mall ini, dan sekarang pria ini muncul lagi di depannya. Benar-benar apes, maksud hati melupakan kekesalannya dan sekarang sumber kekesalannya malah muncul di depan muka. Setidaknya, di rumahnya dia tidak akan melihat wajah Ronan! “Tidak kusangka akan bertemu denganmu disini,” kata Ronan. Pria itu lalu menyapa Albert yang dia ketahui adalah adik dari wanita incarannya. “Kak Ronan sedang apa disini? Ada janji bertemu orang?” tanya Albert. “Aku ada janji makan siang dengan Jackson. Kurasa sebentar lagi dia datang. Boleh kami bergabung?” tanya Ronan yang tidak mau melewatkan kesempatan mendekati Sissy. Wanita itu sangat gigih menghindarinya, segigih usahanya mendekati wanita itu. “Tentu saja,” jawab Albert yang tidak menyadari kalau kakaknya bete. Dia berpikir kalau Jackson adalah tunangan kakaknya, jadi wajar saja kalau mereka makan siang bersama Jackson dan sepupunya. Tanpa ijin, Ronan langsung duduk di sebelah Sissy yang membuat wanita itu langsung mendesis kesal. Ronan tertawa melihat reaksi Sissy, selama ini tidak ada seorangpun wanita yang akan menghindar saat dia mendekatinya, kecuali yang satu ini. “Kau menyukai makanan Italia?” tanya Ronan pada Sissy dan wanita itu hanya balas menatapnya sinis. Hal itu menarik perhatian Albert, dia langsung menyadari kalau Sissy tidak menyukai Ronan. Dengan tidak tersinggung, Ronan menjelaskan menu-menu makanan disana kepada Sissy dan Albert. Ini adalah salah satu restoran miliknya dan dia bermaksud membuat Sissy kagum padanya. Tidak lama Jackson dan Ali datang. Jackson cukup terkejut saat melihat tunangannya dan calon adik iparnya berada di kursi yang sama dengan Ronan. “Kebetulan sekali aku melihat Sisilia dan Albert saat masuk kesini. Bukanlah lebih baik kita makan siang bersama,” kata Ronan menjelaskan. Albert yang sejak tadi memperhatikan interaksi Ronan dan Sissy dengan bingung sekarang bertambah bingung karena baik Sissy maupun Jackson hanya memberikan salam seadanya dengan kalimat ‘hai’, Jackson tidak tampak seperti pria yang tergila-gila pada tunangannya hingga mengirimkan bunga setiap jam setiap hari. Lalu, bunga yang setiap jam diterima kakaknya itu dari siapa? Disaat dia masih berkutat dengan pikirannya sendiri, dia mendengar suara yang sangat dia kenali. Pria yang merupakan asisten Jackson itu bersuara saat memesan makanan. Albert tidak mungkin tidak mengenali suara itu. Walau suaranya sekarang agak berat, tapi dia mengenali nada suara yang digunakan pria itu, tepatnya wanita itu. Saat acara pertunangan Sissy, dia hanya merasa kalau wajahnya terlihat tidak asing, tapi ternyata bukannya tidak asing, tapi tidak dia menyangkanya. Dan saat mata syoknya bertatapan dengan Ali(sandra), wanita itu memberikan senyum smirk yang tidak akan dia salah tangkap. Itu senyum persekongkolan Lisa! Dengan pucat dia langsung menoleh pada kakaknya yang menyadari tatapannya, tapi berlagak bodoh. Dia kembali melihat pada asisten Jackson itu dan melihat kalau tidak ada interaksi sama sekali antara Sissy dan Lisa, seakan mereka tidak saling kenal, padahal mereka sahabat sejiwa. Hanya ada satu kemungkinan yang bisa dia simpulkan, yang sudah pasti tidak dia sukai. Dia menghela nafas kasar. Pasti ada konspirasi besar disini jika Lisa yang seorang pewaris perusahaan besar dan setahunya sudah tinggal di Amerika, sekarang tiba-tiba menjadi asisten Jackson dalam wujud laki-laki. Dia yakin ini semua pasti ada hubungannya dengan pertunangan Sissy dan Jackson. Dia menatap iba pada Jackson Martinez yang dia yakin adalah menjadi korban dari konspirasi ini. Poor Jackson. Albert mulai menyesali kepulangannya dari London kali ini. Sebenarnya kepulangannya terakhir ke Jakarta juga membuatnya menyesal, karena saat itu dia menjadi martir dalam rencana Morin untuk membuat Om Darius menyatakan cintanya. Saat itu jantungnya hampir lepas ketika semua senjata api diarahkan padanya saat pernikahan pura-puranya dengan Morin. Dan sekarang, ada konspirasi lagi pada rencana pernikahan Sissy, yang dia yakin kalau itu karena kakaknya itu tidak menginginkan pernikahan ini. Rencana ini pasti sangat mengerikan kalau sampai kakaknya itu membuat Lisa kembali dari Amerika untuk membantunya. Dia benar-benar berharap kakaknya tidak akan membawanya ikut serta dalam rencana apapun itu, yang bahkan tidak ingin diketahuinya sama sekali. Tuhan, tolong jauhkan aku dari masalah yang akan dibuat oleh kakakku dan para sahabatnya ini! Jerit Albert dalam hati. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD