“Ali, kemari. Hari ini aku akan mengajarimu cara menganalisa ini.” panggil Mario saat dia melihat Ali.
“Baik,” jawab Ali dan dia melangkah mendekat pada Mario. Dengan cepat mereka mulai terlibat pembahasan serius mengenai cara menganalisa jenis laporan salah satu anak perusahaan MM Corp.
“Ini sarapan Anda, Pak Mario,” kata Jana sambil meletakkan sebuah nampan berisi kopi dan roti. Jam masuk kantor di jam delapan dan pekerjaannya termasuk menyiapkan makan pagi untuk bos dan asisten bosnya. Kalau makan siang dan malam, tergantung pada keberadaan bosnya di kantor.
“Sarapanmu aku letakkan di mejamu, ya, Ali,” kata Jana pada Ali sambil meletakkan satu nampan kecil dengan isi makanan yang sama di atas meja Ali. Kemarin mereka sudah berkenalan dan mereka dengan cepat akrab, dan mereka sudah saling memanggil dengan nama. Ali memang cepat akrab dengan orang, karenanya dia juga cepat akrab dengan Mario dan mereka juga sudah saling memanggil nama, Mario mengatakan kalau sekarang posisi mereka sama dan lebih nyaman kalau Ali tidak terlalu kaku dengan terus memanggilnya 'Pak' sedangkan dia sudah memanggil Ali dengan nama.
“Terima kasih, Jana,” kata Ali sambil mengedipkan sebelah matanya dan dia langsung disikut oleh Mario yang melihat tingkahnya.
“Suaminya sangat posesif. Jangan sampai kau buat dia dipaksa berhenti kerja oleh suaminya dari sini, karena itu artinya pekerjaanmu akan semakin banyak!” omel Mario. Dia tidak mau masalah Jackson bertambah karena kegenitan asisten barunya.
“Ternyata sudah ada yang punya. Wanita cantik memang cepat sekali sold outnya,” kata Ali memuji Jana yang membuat wanita cantik itu tersipu. Sejak kemarin memang Ali kerap memujinya.
“Ali!” geram Mario.
“Baiklah. Baiklah. Jangan dimasukkan ke hati, ya, Jana. Mulutku memang sulit diam kalau melihat wanita cantik, jadi itu berlaku untuk semua wanita cantik,” kata Ali menjelaskan pada Jana yang mengangguk. Mario hanya menggelengkan kepala. Mungkin karena usia Ali yang masih muda, jadinya pria itu masih suka bersikap spontan.
“Aku akan mengantar sarapan untuk Bos,” kata Jana yang kembali ke mejanya untuk mengambil nampan terakhir yang tadi dia bawa untuk diantar ke dalam ruangan bos. Untunglah dia sudah cukup kebal dengan pesona pria tampan, jadi godaan Ali hanya numpang lewat di telinganya. Dia sudah sering melihat pria-pria tampan semenjak bekerja disini, mulai dari Jackson Martinez si bos, Mario Darlie si asisten, ayah bos si komisaris juga tampan walau sudah berumur, belum lagi sepupu casanova bosnya yang gantengnya terlalu, Ronan Nelson.
****
Ali dan Mario masih berada di ruang kerja Jackson walau sekarang sudah jam sembilan malam. Jana sudah pulang sejak jam enam tadi setelah memesankan makan malam mereka.
Jackson memperhatikan Ali yang sedang fokus merapikan dokumen yang baru saja pria itu cek. Dia agak penasaran dengan asisten barunya itu sejak kemarin. Pria itu minim ekspresi, seperti sekarang saja, tidak tampak gurat lelah di wajah pria itu walaupun mereka sudah bekerja seperti ini sejak pagi.
Mungkin yang diperhatikan merasa kalau dia memperhatikannya, Ali menoleh padanya dan mengangkat sebelah alisnya.
“Ada apa, Bos?” tanya Ali to the point.
“Kau tidak lelah?” tanya Jackson yang terpaksa bertanya karena kepergok. Biasanya orang hanya akan mengalihkan pandangannya dan tidak ada komunikasi setelahnya.
“Lelah,” jawab Ali jujur tanpa sungkan, yang membuat kening Jackson mengerut bingung dan Mario tertawa. Ali memang sesuatu sekali, bahkan di depan bos saja dia tidak basa basi.
“Jackson, Ali tidak mengerti bahasa kiasan dan lainnya. Tanyakan yang memang ingin kau tanyakan. Mulut dan otaknya tidak ada filter,” kata Mario yang membuat Jackson menoleh pada pria itu dengan raut bingung, sedangkan Ali tersenyum, dia tidak menyangka kalau Mario bisa secepat itu mengenali perilakunya.
“Ali, apa kau butuh istirahat?” tanya Mario memberitahu maksud Jackson.
“Tidak,” jawab Ali.
“Tapi tadi kau bilang kau lelah,” kata Jackson. Dia merasa kinerja Ali cukup baik dan dia tidak mau asisten barunya itu kapok bekerja padanya. Maksudnya mau menawarkan Ali untuk pulang lebih dulu dan beristirahat. Dia dan Mario sudah terbiasa kerja seperti ini, tapi dia khawatir Ali belum terbiasa
“Memang, kan, tadi bos nanyanya itu dan saya jawab,” jawab Ali dan Mario kembali tertawa.
“Maksud, Bos, kalau kau sudah lelah, kau bisa pulang dulu.” Mario kembali memberitahu Ali dan Ali menoleh langsung pada Jackson karenanya.
“Maksudnya, saya boleh pulang sekarang kalau sudah lelah?” tanya Ali pada Jackson dan pria itu mengiyakan.
“Apa lain kali saya juga boleh pulang saat sudah lelah?” tanya Ali lagi yang membuat Jackson terperangah dan langsung kesal. Nih bocah, dikasih hati, minta jantung, ya?
“Sepertinya, tidak. Kalau begitu biar saya terus bekerja saja seperti kalian hingga kalian juga pulang. Toh besok-besok juga saya akan terus berada di kantor ini selama Anda masih ada disini.” Ali menjawab pertanyaannya sendiri saat melihat reaksi Jackson dan Mario kembali tertawa.
“Kau tahu, Ali. kau benar-benar orang yang menarik!” kata Mario yang sangat terhibur dengan sikap Ali yang mengatakan semua hal yang ada di kepalanya dengan wajah datar dan tanpa rasa sungkan sama sekali, tidak peduli pada perasaan yang diajak bicara.
“Terima kasih. Sayangnya saya tidak tertarik pada pria,” kata Ali sambil tersenyum miring yang membuat Mario terperangah sebentar, lalu terbahak.
“Kau lihat, Jackson. Ali itu benar-benar lucu. Dia bicara terus dengan wajah datar walaupun perkataannya seringkali aneh. Aku jadi seperti sedang menonton stand up comedy!” kata Mario pada Jackson yang masih merasa tidak ada yang lucu kecuali sikap Ali yang memang menurutnya aneh.
“Apa hubungannya dia mengatakan kau menarik dengan kau tidak tertarik pada pria?” tanya Jackson pada Ali.
“Mario sudah mengatakan 'hal' itu lebih dari sekali sejak kami bertemu, dan biasanya itu menunjukkan ketertarikan, jadi lebih baik saya memberitahunya dulu, kalau-kalau dia ternyata tertarik pada pria,” jawab Ali.
“Kau memang aneh,” kata Jackson yang mulai pusing dengan jalan pikiran Ali.
“Mungkin aku bisa tertarik pada pria jika itu dirimu,” kata Mario yang masih terbahak. Kepercayaan diri Ali yang dikombinasikan dengan cara bicara pria itu memang unik.
“Mungkin suatu saat nanti aku juga bisa tertarik padamu jika kau masih bekerja disini,” balas Ali sambil menyeringai dan Mario tidak bisa berhenti tertawa.
****