Euforia sangat mendukung. Waktu seolah tidak bergerak. Antara sadar tidak sadar mereka menahan napas. Melihat cerminan diri di bola mata bagaikan kristal. Tidak ada protes, hanya bahasa kalbu yang mereka tahu. Hingga seseorang datang membuka pintu tanpa mengetuk membuat mereka langsung mengerjap sadar dan Panji menurunkan Citra segera. Mereka berdeham menguasai diri masing-masing. "Maaf, Pak. Saya nggak lihat apa-apa. Tapi di depan ada perempuan yang kemarin datang. Dia nyari Bapak," ujar karyawan Panji teramat sopan. Dia ragu akan pergi dan menutup pintu atau menunggu Panji menjawabnya. "Ah, iya. Aku akan ke sana." Panji berlagak santai. Pura-pura batuk menutupi dengan tangannya. Pandangannya juga tak jelas ke mana. Citra pun demikian. Dia bahkan enggan melirik Panji. "Baik, Pak. Pe

