Seperti tidak makan tiga hari, bakso penuh biji cabai itu lenyap dalam lima menit. Indra gemetar sampai baksonya tak kunjung habis. Es buah kelapa rasanya terlalu nikmat setelah makan pedas. Citra sampai menghabiskan dua gelas padahal Indra belum minum seteguk pun. Hanya meneguk ludahnya saja sudah cukup. Tangannya masih gemetar melihat Citra yang mengipasi wajahnya kepedasan. "Wah, bener-bener mantap nggak ada dua-nya." Citra menggeleng tidak tahu lagi harus berkata apa. Melihat mangkuk bakso Indra yang masih setengah. "Kok belum habis? Pengiritan, ya?" "Astaga, orang macam apa yang aku jadiin teman?" Indra meletakkan sendok di mangkok kasar. Kemudian melengos meraup wajahnya. Kembali menghadap ingin mencakar wajah Citra membuat Citra mendelik. "Kamu buat mas penjual bakso rugi sambal

