Di jantung markas musuh yang remang dan pengap, udara terasa berat seolah dinding-dinding tua di sana menyimpan bisikan kekuasaan dan kekej4man yang tak pernah benar-benar hilang. "Lapor, Tuan. Gadis itu sudah kami dapatkan. Saat ini dia telah kami kurung sesuai perintah." Suara pengawal itu terdengar tegang meski berusaha tetap tegas. Ia membungkuk dalam, terlalu dalam seolah sedikit saja kurang hormat bisa berujung pada sesuatu yang tak ingin ia bayangkan. Di hadapannya, kursi besar berlapis kulit hitam itu perlahan berputar. Decit… Suara halus dari poros besinya menggema di ruangan yang terlalu sunyi. Dan kemudian… sosok itu menghadap. Alberto. Senyum tipis terlukis di wajahnya bukan senyum yang menenangkan, melainkan seringai yang menyimpan sesuatu yang lebih gelap. Di sisi ka

