6. Tingkah laku jesika

1809 Words
Di ruangan kerja, Jesika tengah menangis tersedu - sedu sambil mengambil tisu dan mengelap ingusnya yang berada di hidung mancungnya itu. "Hiks... hiks... Dasar es beku, kepala batu. Apa kepalanya itu berisi batu semua kali ya, tidak ada baik-baiknya sama sekali," Kata Jesika yang terus saja mengeluarkan ingusnya dan melempar tisu ke lantai, hampir semua lantai penuh dengan tisu bekas air mata dan ingus jesika." Dasar tiang listrik, dasar monster kejam. Masa princess secantik lautan ini di usir hiks... ," Jesika terus saja mengomel sambil memuji dirinya sendiri." Awas saja, jika bertemu dia lagi. Akan aku pastikan, jika aku akan mencekik dia biar mati sekalian. Huhuhuhu. Dasar tiang tidak berguna, Bikin susah orang saja," Jesika bahkan tidak kunjung berhenti mengumpat sosok Ando. Lihat saja akan aku balas semua tingkah lakunya nanti. Lihat saja na...!! Jesika menghentikan aksi mengumpatnya, karena terlihat pintu ruangannya dibuka oleh sosok Sanskar manager di perusahan ini Ckreek pintu dibuka terlihat Sanskar tengah tersenyum semanis mungkin pada dirinya. Mungkin saja begitu. Pikir Jesika yang masih sakit hati akan sikap Ando pada dirinya. "Hai Jesi," Panggil Sanskar dengan nada sok lembut. Jesika yang melihat Sanskar telah masuk keruangannya pun berhenti menangis. "Pak Sanskar, ada apa bapak kemari?" Tanya Jesika yang sedikit bingung. "Begini Jesika, tadi aku dengar kau di marahi oleh pak Ando ya?" Tanya Sanskar balik dan langsung mendapat anggukan kepala dari Jesika. "Iya. Bapak tahu gak? Jika si monster itu sangatlah kejam padaku. Bisa-bisanya di.....!!! Ma---maksud saya pak Ando," Kata Jesika dengan nada gugup. "Ya, sifatnya memang kurang baik. Itu sudah biasa, Biasalah orang kaya itu kan memang suka sombong dan dia itu tidak pantas di puji. Pak Ando itu bukan laki - laki yang baik, andai saja kamu tahu tingkah lakunya. Begh, kamu bakal jijik padanya. Aku yakin itu," Sanskar mulai berencana untuk menjelek - jelekkan sosok Ando di depan Jesika. "Maksud pak Sanskar apa? Bapak mau bilang kalau pak Ando itu bukan laki - laki yang baik, apa begitu?" Selidik Jesika karena belum begitu percaya akan ucapan Sanskar pada dirinya saat ini. "Ya, begitulah kau mana tahu, kaukan baru disini. Sedangkan aku sudah lama. Pak Ando itu bukan pria yang baik, dia itu playboy. Ingat, kau harus hati - hati saat berada di dekatnya. Apalagi saat kau bersama dengannya bisa - bisa kau di apa - apain lagi,!" Ujar Sanskar menatap sinis pada sosok jesika yang kelewatan polos itu. Jesika yang mendengar seakan - akan termakan semua ucapan Sanskar, Karena melihat keseriusan Sanskar tanpa menimbulkan rasa curiga sedikitpun pada sosok pria yang ada di depannya itu. Justru Jesika mulai mempercayai semua ucapan Sanskar tentang tingkah buruk Ando selama ini. "Ternyata si es beku itu bukan pria yang baik, ternyata ia sangat buruk Aku baru tahu sekarang. Aku kira dia itu baik, Ya. Walaupun dia itu pria yang sangat kasar," Jelas Jesika yang mulai menilai buruk Ando. "Iya itu benar. Kau harus mulai hati - hati sekarang, karena aku takut kau malah di perkosa... lagi. Kaukan tidak mengenal pak bos sebelumnya," Balas Sanskar dengan seringai jahatnya itu. "Sungguh, dia itu sangatlah menjijikkan bagiku. Mulai sekarang aku harus berhati - hati pada dirinya kalau perlu saat kami hanya berdua saja," Batin Jesika dengan perasaan takut - takut. "Ha-ha-ha. Jesi... Jesi, kau ini ternyata sangatlah polos. Baguslah, jika kau termakan ucapanku dengan begitu aku akan semakin mudah untuk bisa memiliki dirimu," Batin Sanskar dengan tawa puasnya." Oh iya, Jesi. Apa kau pernah di sentuh sebelumnya oleh pak Ando?" Tanya Sanskar menyelidiki. "I---iya pernah sih, se-sekali doang," Jawab jesi ragu-ragu. "Wah, itu sangat berbahaya bagi keselamatanmu itu. Lain kali kau harus hati - hati ya," Pesan Sanskar sambil menyentuh punggung mulus Jesika. Membuat Jesika merasa risih dan segera menjauh dari sosok Sanskar. "Maaf pak. Apa yang bapak sanskar lakukan," Jesika menatap tidak suka pada tingkah laku Sanskar yang seenak jidat seperti ini. "Oh. Ti---dak, apa - apa aku hanya ingin memberi dukungan saja untuk dirimu. Apalagi kau baru saja ter..???" Belum sempat Sanskar menyelesaikan ucapannya, Terlihat sosok Melodi di balik pintu menatap datar pada keduanya. "Tolong bawakan aku daftar nama-nama staf bulanan, karena aku harus menyiapkan gaji mereka dan sekalian suruh kakakku mengisi berapa dominanya yang harus aku berikan. Untuk para staf di perusahaan ini," Kata Melodi sambil menatap Sanskar dengan tatapan tak kalah tajam, setajam silet. "Ba---baik Nona," Jawab Sanskar sambil melangkah keluar tanpa berucap apapun lagi. Melodi menatap kepergian Sanskar dengan tatapan penuh arti, tanpa di ketahui oleh siapa pun. "Dan kau? Di panggil atasanmu ke ruangannya segera," Ucap Melodi berjalan pergi tanpa mendengar ucapan Jesika terlebih dahulu. Jesika yang mendengar ucapan Melodi pun ingin marah. Tapi tidak mungkin, karena posisinya sama sekali tidak berada di pihaknya. "Dasar es beku. Tadi mengusirku, sekarang meminta aku menemuinya. Mau dia itu apa sih? Dasar kepala batu," Gerutu Jesika sambil menghentak-hentakan kedua kaki mungilnya, tidak lupa gadis itu segera berjalan dan masuk ke ruangan Ando tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Ando yang tahu betapa tidak sopannya Jesika hanya mampu mengembuskan nafas lelahnya. "Apa kau tidak punya sopan santun? Lain kali aku mau kau mengetuk pintuku terlebih dahulu, kau paham itu kan?" Ando menatap ketua pada gadis itu. "Iya, kepala batu," Tanpa sadar Jesika menjawab hal yang berusaha ia hindari," Ma----maksud saya, ia pak Ando," Gugup Jesika. Ando berusaha untuk mengontrol emosinya walau emosinya sudah siap meledak mungkin. Kalau bukan karena nasehat adik perempuannya itu. Ando tidak akan sudi bersikap manis seperti ini, walau sikapnya itu terlihat manis. Tapi sebenarnya itu hanyalah terpaksa. Pria itu lakukan "Siapkan semua file - file dan segeralah ke ruang rapat. Ingat, jangan sampai ada yang terlewat. Kau pasti akan menerima hukumannya, kau paham maksudku bukan?" Selidik Ando, saat ia menatap Jesika seakan - akan dirinya tengah memberikan sebuah peringatan dan tidak ingin di bantah oleh gadis itu. Jesika bahkan langsung memberikan anggukan patuh dan keluar dari ruangan Ando. Tok! Tok! Tok! "Masuk," Suara Ando terkesan datar. "Maaf pak, jika saya menganggu anda, ini Nona Melodi meminta bapak untuk segera mengisi gaji bulanan untuk para staf kita." Jelas Sanskar. "Letakkan saja disana. Nanti akan saya isi setelah rapat saya selesai dan ya. Ajari gadis itu cara ber-prilaku dengan baik, Dia terlihat sangat liar aku tidak suka itu, Aku tidak mau kejadian itu terjadi lagi atau terulang. Aku tidak mau sampai adikku itu tahu dan aku juga tidak ingin dia menceramahi aku lagi. Kau mengerti kan Sanskar," Peringatan Ando yang tengah menahan dirinya, sungguh dia tidak suka di ceramahi seperti tadi. "Baik pak. Saya permisi keluar dulu,! Kata Sanskar sambil menundukkan kepalanya. ****** Jam 2 siang telah tiba, Semua berkumpul di ruang rapat. Ando duduk di tengah - tengah Sedangkan Jesika dan Melodi duduk di sisi kiri dan kanan, berdampingan dengan Ando yang berada di depan mereka dengan wajah sedatar karpet. Lain dengan Sanskar yang duduk di sebelah Melodi dan juga para staf lainnya. Beberapa rekan bisnis menatap kagum pada sosok Ando, bukan hanya tampan saja tapi juga betapa tegasnya dia. Rapat pun sudah di mulai sejak 10 menit lalu. "Jesika ambilkan aku proyek baru kita yang sempat aku berikan padamu kemarin," Ando memulai presentasinya di hadapan para rekan bisnis. Disisi lain Jesika sedikit bingung, karena dirinya belum hafal soal apa yang di maksudkan oleh atasan galaknya itu. Melodi yang melihat sikap jesika yang tengah kebingungan itu hanya bisa menghela nafas beratnya. "Kalau aku tidak membantunya bisa - bisa gadis ini mati di tangan kakakku, Sungguh aku merasa kasihan pada dirinya yang selalu dike-kan oleh kakakku itu..!!! Batin Melodi menatap kebingungan Jesika. "Astaga yang mana proyek yamg di maksud oleh es be...." Jesika menghentikan ucapannya saat melihat sosok Melodi yang tengah menarik sesuatu di bagian selipan di bawah file - file. Dan, tidak lupa menarik sebuah file yang bersampul berwarna biru muda tersebut ke atas, Jesika langsung menatap Melodi yang tidak melihat dirinya sama sekali, gadis itu justru tetap memasang wajah datar tanpa ekspresinya. "Jesika mana proyek baru yang aku ma.....!!! Jesika dengan cepat tersadar dari lamunannya, gadis itu segera mengambil file yang berwarna biru muda itu. Untuk ia berikan pada Ando. "Ini pak," Ujar Jesika gugup sambil menatap Melodi yang masih saja diam dengan majalah ditangannya," Duh. Tidak adik, tidak kakak sama-sama dingin. Bagai es beku yang tidak pernah keluar dari freezer mungkin," pelan tapi itu pasti terdengar jelas di telinga Melodi walau Melodi tidak menatap dirinya. "Jesika ambilkan file - file yang tadi aku berikan pada dirimu," Ando kembali sibuk menjelaskan kepada para rekan bisnisnya. "Ampun si tiang listrik ini minta ini itu. Huh kesel, dimana lagi file - file yang si tiang ini mau.." Lagi dan lagi jesika terhenti karena Melodi mengambil dari selipan yang berada di tengah dan menaikan beberapa file ke atas tepat di hadapannya. "Jesika dimana file - file i....." "Ini pak," Jawab Jesika yang masih bingung saat melihat tingkah adik dari atasannya itu," Dia diem, tapi dia mendengar semua ucapan si tiang itu." Omel Jesika yang tidak bisa berhenti mengoceh. Setiap permintaan Ando selalu di bantu oleh Melodi, Tanpa bersuara. Berbeda sekali dengan Jesika, karena setiap kali yang dilakukan oleh Melodi selalu saja Jesika berakhir mengomel tidak jelas. Bukannya berterima kasih Jesika justru tidak henti-hentinya mendumel. "Pantas saja jika kakakku selalu mengamuk saat bersamanya. Ternyata sikapnya begitu, Bagai kompor merindukan tabungnya. Astaga. Selamatkan gadis ini dari kemarahan kakakku tuhan," Batin Melodi sambil menggelengkan kepalanya, saat dirinya menatap Jesika yang tidak juga berhenti mengomel. "Terima kasih pada kalian semua, Seneng dapat bekerja sama dengan para tuan-tuan," Kata Ando sambil tersenyum tipis. "Mereka itu hanya terpaksa karena tidak punya pilihan lain, mau menolak monster tidak mungkin bisa-bisa mereka dibunuh di tempat." Ungkap jesika yang entah terlalu jujur mungkin. "APA kau bilang hah," Nada Ando mulai berubah membuat para rekan bisnisnya sampai tersentak kaget. "Aaaaa... Copot... Copot, hati - hati pak nanti jantungmu copot gimana jika anda berteriak seperti itu," justru jesika kembali membalas setiap ucapan Ando." UPS ma---maksud saya AAAA.," Tangan kiri Jesika ditarik paksa dengan cepat keluar dari ruang rapat, Ando yang melihat jika Jesika di tarik pergi begitu saja. Hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan amarah sebisa mungkin. "Benar-benar sudah sangat keterlaluan gadis itu. Benar - benar membuat aku marah hari ini, akan aku beri pelajaran nanti," Batin Ando menatap kepergian Jesika karena di tarik oleh Melodi secara cepat dan paksa. ***** Jesika menghembuskan nafasnya saat dirinya sudah tidak berada di dalam ruang rapat lagi. "Aaouuu. Ada apa ini Nona? Ini sakit sekali," Jesika meringis menahan nyeri di pergelangan tangannya. "Apa kau sudah kehilangan akalmu hah? Apa kau sudah bosan hidup, Bisa - bisanya kau berucap begitu pada atasanmu sendiri, Jika tadi aku tidak menolongmu sudah di pastikan kau akan di dipermalukan disana. Kau itu sebenarnya mau apa? Hah. Di beri kepercayaan kau justru berusaha untuk menghancurkannya. Dimana OTAKMU itu sebenarnya, hah. Dimana. Astaga Jesika, aku sungguh gak habis pikir akan tingkah lakumu itu,!" Bentak Melodi menatap tajam pada sosok Jesika. Kedua bola mata berwarna biru milik melodi seakan-akan menghipnotis sosok jesika. Membuat gadis itu bungkam seketika. TBC,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD