5. Kemarahan Ando

1803 Words
Selesai Jesika berberes ia segera menunjuk ruangan Ando yang berseberangan dengan ruangannya, Seperti biasa bibir Jesika tidak dapat ia kontrol. Sehingga berjalannya saja tidak terlihat fokus sama sekali. Membuat dirinya sering kali mendapatkan masalah jika tidak segera mengubah sikapnya sendiri. "Hari ini, kalau dia marah-marah lagi, Akan aku racunin dia biar tahu rasa. Dasar es batu selalu cari masalah padaku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pa...!!!! Bruukkk AAAAAA Pekik Jesika saat tubuhnya menabrak seseorang lagi." MA-maaf Nona saya tidak se...??" Jesika menghentikan ucapannya saat dirinya menatap sosok Melodi yang tengah berdiri menatap dirinya, Membuat Jesika ketakutan, Jesika tanpa mengatakan apapun dirinya segera merapikan file - file Melodi yang sempat ia buat berantakan itu," Maaf Nona, ta---di saya itu tidak fokus maka-nya saya tidak sengaja me...!! Ucapan Jesika dipotong dengan cepat oleh Melodi. "Bukankah memang setiap hari kamu selalu begitu. Selalu melangkah dan berbicara tanpa henti, bukan hanya itu saja. Kamu, jika dikejutkan akan berbicara seenak hatimu. Bukan begitu," Nada ketus Melodi menyambut balasan Jesika. Jesika yang tahu jika ucapan Melodi memang ada benarnya pun langsung menundukkan kepalanya. Melodi mengambil file - file miliknya dari tangan Jesika dan tidak lupa gadis itu melangkah meninggalkan sosok Jesika yang masih mematung disana. Jesika bahkan melihat ke arah Melodi yang pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan apapun lagi. "Lagi-lagi aku menabraknya. Duh kenapa dia itu sangatlah galak, sangat mirip sama si es beku itu. Bedanya dia tidak memarahiku saja, Ah sudahlah. Masa bodoh deh yang penting aku selamat," Pikir Jesika sambil masuk ke ruangan Ando tanpa mengetuk terlebih dahulu. Di sisi lain tanpa Jesika sadari, jika sejak tadi Melodi tengah menatap dirinya di balik pintu ruangannya, Ando duduk sambil mengetik beberapa file - file di dalam laptopnya tanpa menyadari kehadiran Jesika yang tiba-tiba itu. "Permisi pak," Sapa Jesika dengan nada selembut mungkin. "Ehmmm," Suara singkat Ando, pria itu tanpa menoleh sedikitpun karena ia lebih fokus pada layar laptop di depannya saat ini. "Dasar tiang, kerjanya begini mulu. Mirip patung saja, Kenapa tidak ada tiang yang penuh dengan listrik biar di sambar sedikit biar kakunya itu hilang," Batin jesika berdoa semoga saja permintaanya itu bisa TERJADI. Jesika terus dengan lamunannya sambil mengomel tanpa henti di dalam hatinya. Bahkan panggilan Ando saja ia abaikan begitu saja. "Jesika tolong ambilkan aku pena, pena yang ini sudah tidak bisa aku pakai lagi. Tolong ya," Kata Ando yang masih fokus pada laptopnya, sedangkan Jesika masih diam dengan dunianya, yaitu dunia khayalannya. "Jesika tolong ambilkan aku pena," Ando kembali berbicara bahkan pria itu sampai mendongakkan kepalanya untuk sekedar menatap ke arah Jesika," Jesi. Jesika, tolong ambilkan aku pena kau dengarkan," Nada pelan menahan amarah yang sedari tadi berusaha pria itu tahan. Lain dengan Jesika masih diam tanpa merespon karena sibuk dengan pemikirannya itu, Sedangkan Ando terus saja memanggil - manggil sosok sekertarisnya itu. Tapi, tidak ada jawaban yang dapat Ando dapatkan. Membuat Ando murka pada Akhirnya. Blaakk "Jesika, kau ini niat bekerja apa hanya duduk saja hah?" Tanya Ando sambil berteriak, pria itu bahkan berdiri memukul meja dengan amarah yang sudah naik ke ubun - ubun. "Aah copot-copot. Iya. iya tiang listrik kenapa? Kenapa bapak tidak di sambar tiang listrik saja sih, biar wajah bekunya itu hilang, Ya. Duduk dong, masa kerja," Jawab Jesika tanpa terlebih dahulu di saring olehnya. "APA. kau bilang. Kau bilang aku apa?" Nada membentak," Kau bilang aku tiang listrik kalau bisa di sambar listrik itu maksudmu? Itu maumu, begitukah?" Teriak Ando penuh emosi. "Iya, benar sekalian di sambar listrik biar kakunya hilang sedikit ha-ha-ha," jawab Jesika sambil tertawa tanpa memikirkan perasaaan Ando yang sudah siap menerkam dirinya hidup - hidup. "Kau keluar dari ruanganku segera," Teriak Ando yang tidak bisa lagi menahan dirinya. "Enak saja, bapak saja sana Usss.. Ussss keluar sana," Ujar Jesika sambil mengibaskan tangannya seperti mengusir seekor kucing saja. Ando yang melihat kelakuan Jesika yang terlalu kurang ajar itu menahan amarahnya dengan mata setajam elang. Mata biru Ando menatap begitu tajam pada sosok jesika seakan - akan ada kobaran api memenuhi kepalanya mungkin. "Kau benar - benar tidak sopan padaku, kau tidak sopan pada bosmu sendiri Jesika. Kau dengar aku bukan? Aku memintamu KELUAR," Teriak Ando sekeras mungkin. "Bapak saja yang keluar kenapa harus saya," Kedua tangan Jesika dengan santainya memeluk perut rampingnya, Terlihat sekali Jesika berdiri dengan anggunnya. Jelas saja sosok Jesika terlihat anggun karena tubuhnya lebih cocok bekerja sebagian seorang model. Ketimbang menjadi seorang sekretaris, Tubuh putih mulus, tubuh ramping, rambut panjang dan mata cokelatnya begitu memukau. Ando menarik nafas dalam - dalam berusaha untuk menyemburkan api di dalam mulutnya jika ia bisa. Mungkin sudah sejak tadi Ando lakukan. Plakkk pringgg Suara gelas yang pecah saat di lempar oleh Ando hingga mengenai dinding ruangan serba putih dan biru muda itu, emosi Ando yang siap meledak kapan saja jika pria itu sudah tidak dapat mengontrol dirinya lagi. "Aaaaa.... Copot-copot, dasar Monster dirimu ini memang berniat me..." Ucapan Jesika terhenti sambil menutup bibirnya, karena dirinya sudah terlebih dahulu tersadar dengan apa yang ia lakukan saat ini," MA-maaf pak saya tadi gak sadar jika saya sudah berucap se....!!! Ando yang tidak bisa lagi mengontrol dirinya, dengan amarah yang sudah memuncak tanpa mengatakan apapun lagi. Pria itu langsung melempar dokumen ke bawah lantai dengan sangat kasar," Kau dengar aku, KELUAR. AKU BILANG KELUAR," Lagi dan lagi Ando membanting barang - barang miliknya dengan babibu Jesika yang melihat hal itu pun tersentak kaget sambil berlari keluar dengan air mata di kedua wajah cantiknya. Jesika berlari keluar tanpa melihat ke depan, hingga tubuh mungilnya lagi-lagi menabrak orang.. Brukk Lagi - lagi Jesika menabrak sosok Melodi yang baru ingin masuk ke dalam ruangan Ando, sehingga tubuh feminimnya hampir saja terjatuh jika saja Melodi tidak dengan sigap memegang sisi meja staf lain. Kedua mata biru Melodi menatap tajam pada sosok Jesika yang hampir mencelakakan dirinya. Semua staf menatap Jesika yang hampir mencelakakan adik kesayangan atasannya secara tidak sengaja "Hiks. Dia itu seperti monster yang begitu menyeramkan," Ujar Jesika sambil menangis sesegukan," Di---dia itu gak punya ha...?" Jesika yang baru sadar jika dirinya menabrak Melodi dan kini sosok Melodi tengah menatap tajam ke arahnya, membuat nafas Jesika seketika menjadi terputus-putus." Nona saya minta maaf, saya sungguh tidak berniat untuk me.,,!! Tadinya Melodi sudah siap ingin membentak gadis yang berada di depannya itu, Tapi melihat gadis itu tengah menangis akhirnya Melodi memilih bukam. Sepertinya ia masih bisa mengontrol dirinya karena dirinya juga tidak jadi celaka. Jadi tentu saja, Melodi masih bisa memaafkan dirinya. "Sudahlah itu tidak masalah. Kenapa kakakku mengamuk lagi? Apa yang kamu lakukan terhadap dirinya, apa kamu yang membuat dirinya semarah itu," Melodi melepas pegangan pada meja tersebut sambil menatap sosok Jesika yang masih berdiri di hadapannya itu. "i---itu karena saya suka sekali ceplas ceplos Nona dan saya melakukannya tidak melihat tempat terlebih dahulu. Dan. Dan, dia ta--tadi marah - marah padaku. Saya sangat takut Nona hiks.... hiks...," Isak tangis Jesika semakin menjadi-jadi membuat Melodi bungkam seketika. Lain dengan para staf yang tengah bergosip - gosip sambil menjelek - jelekkan sosok Jesika. "Dari kemarin dirinya sudah berbuat ulah hari ini pun sama...!!! Ucap staf wanita. "Iya, sampai pak Ando mengamuk begitu. Apa dia tidak bisa, tidak berbuat masalah 1 hari saja," Balas resepsionis. "Benar. Sudah tahu pak Ando itu tidak suka jika di ajak bercanda," Ujar wanita lainnya. "Ha-ha-ha. Biarkan saja, siapa suruh dia suka ceplas ceplos be..." "Jangan bergosip, Jika kalian masih ingin bergosip silahkan angkat kaki dari kantor ini. Pintu kantor ini dengan senang hati terbuka lebar untuk penggosip seperti kalian. Jika kalian masih berniat bekerja disini, silahkan kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Tapi, Jika tidak silahkan angkat kaki dari perusahaan ini," Kata Melodi dengan suara tegasnya, tidak lupa gadis itu bahkan sampai memberikan tatapan tajamnya pada para staf yang tengah menundukkan kepalanya." Dan kau, kembali ke ruanganmu sekarang," Perintah Melodi dengan nada tegas kepada Jesika. "Ba---baik Nona,"Jesika pada akhirnya berjalan pergi sambil menghapus jejak air matanya yang masih tersisa di sudut wajah cantiknya itu. Melodi pada akhirnya masuk untuk menemui Ando yang masih saja berdiri dengan wajah memerah, Dirinya terlebih dahulu menarik nafas dan menghembuskannya. Sambil berjalan menghampiri sosok Ando yang masih tidak menyadari kehadirannya. "Kenapa kakak melakukan hal seperti ini? kakak sadar ini kantor bukan kebun binatang," Nada ketus Melodi tidak membuat Ando merasa bersalah, justru gadis itu tengah berkacak pinggang di hadapan Ando. "Lalu aku harus apa? Gadis itu terus saja membuat diriku emosi, bukannya membantu justru membuat aku semakin gila. Kaukan tahu Mel, jika kakak itu tidak su...!" Kata - kata Ando terpotong oleh ucapan melodi kepada dirinya. "Tidak suka ada yang bercanda padamu, tidak suka jika ada yang melawan ucapanmu. Begitukan?" Pertanyaan Melodi seperti sebuah pernyataan yang harus Ando pahami. Gadis itu bahkan sambil menggelengkan kepalanya. Pria itu bahkan menatap ke arah Melodi, Dengan wajah datar sedatar karpet, Dengan bola mata biru sebiru lautan tentu bola mata itu sama persis seperti sosok adik perempuannya itu. "Kau jelas tahu Mel, jika kakak paling tidak suka di lawan dan kakak tidak suka mempunyai seorang sekertaris ceplas ce...??" Ucapan Ando langsung terhenti. "Tapi kakak yang memilihnya, tidak bisakah kakak merubah sedikit saja rasa dingin kakak itu pada seorang gadis atau seorang wanita? Kakak, apa kakak tidak ingat jika aku juga seorang gadis. Apa jadinya jika sampai kakak tidak bisa memikirkan perasaan seorang gadis, melihat tingkah kakak seperti itu membuat semua kaum wanita pun harus berpikir seribu kali untuk mendekati kakak," Ungkap Melodi dengan kedua mata yang sudah berkaca - kaca. "Untuk apa kakak merubah sikap kakak hanya untuk seorang gadis seperti dirinya, bukan kakak yang memilihnya tapi Sanskar yang memilih gadis ti....!!! "Tapi apa bedanya. Kakak sendiri yang menerimanya bahkan kakak tidak menolaknya bukan? Lalu siapa yang harus aku salahkan disini? Kakak yang bersalah untuk hal yang telah kakak lakukan tadi, Kakak ingatlah, jika kakak itu punya seorang putri. Apa kakak tidak berpikir jika putri kakak jelas sangat membutuhkan sesosok ma...." "Cukup MELODI. CUKUP.,! Bentak Ando yang mulai marah." Sampai kapan pun. Tania tidak butuh seorang mama, Dia sudah bahagia mempunyai papa dan tantenya. tidak ada yang kurang dari kita, aku merawatnya dengan baik sampai saat ini tidak ada yang kurang darinya. Bukan hanya itu saja, kasih sayangnya pun jelas tidak ada yang berkurang," Ujar Ando sambil duduk di kursi kebesarannya itu dengan wajah menahan amarah. Mendengar ucapan Ando, Melodi sungguh tidak habis pikir akan betapa keras kepalanya Ando. Melodi hanya mampu menggelengkan kepala saja, dirinya lebih memilih duduk di kursi menghadap Ando dengan tatapan cemas yang tidak luput dari wajahnya. Raut wajah Melodi berubah seduh, saat menatap sosok kakak tersayangnya itu. "Kakak berkata Tania bahagia akan apa yang kakak berikan padanya selama ini? Kata siapa kak. Kak, Tania saja baru berusia 5 tahun, dia tidak akan paham akan hal yang seperti ini. Dan kakak berucap Tania tidak butuh sosok seorang mama," Melodi tersenyum kecut bagaimana bisa kakaknya tidak mengerti keinginan putrinya sendiri. Mendengar ucapan demi ucapan Melodi, hanya diam yang bisa Ando lakukan saat ini. TBC,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD