Terpaan angin yang kencang hampir menembus kulit wajahku yang saat ini bahkan terhalang oleh helm. Kecepatan ku dalam berkendara juga sudah tak karuan lagi. Aku tidak peduli semua makian, juga sumpah serapah dari setiap pengendara lain yang mungkin tersalip atau mungkin secara tak sengaja tersenggol olehku. Yang saat ini ada di dalam pikiranku hanyalah pulang. Aku harus pulang, dan segera sampai di sana. Sampai di kampung halamanku. Berita terburuk sampai ke telingaku saat kawan lama tiba-tiba saja menelpon beberapa jam yang lalu. Mengatakan adanya satu kehebohan yang membuatku hampir saja tak bisa bernafas. Seluruh orang di Desa itu tahu. Serba-serbi gosip murahan, mengatakan Shera ada di sana. Kembang Desa itu sudah pulang, dan bukan hanya sendirian. Tapi juga bersama dengan. "Axel

