Adrian Maulana "Adrian! Kamu ... kamu sakit ya! Coba sini ibu pegang dulu!" Ibu berjinjit menyentuh dahiku menggunakan punggung tangannya karena tubuhku yang memang lebih tinggi. Aku memutar pandangan dengan jengah. Sepertinya apa yang baru saja ku utarakan adalah hal yang benar-benar membuat mereka terkejut hingga mengira aku sakit. Dan sakit dalam kasus ini tentu saja bukan sakit biasa yang ada pada bagian luar tubuh. Mereka pasti mengira aku sedang sakit jiwa sekarang. "Gimana, Bu? Adrian panas? coba pastikan yang betul," tanya Bapak pada Ibu. "Enggak kok, Pak. Ini anak kita kayaknya baik-baik aja," kata ibu memberitahukan hasilnya setelah menyentuh keningku. "Nggak mungkin itu pasti Adrian lagi sakit," balas Bapak tak ingin kalah. "Tapi beneran ndak panas, Pak!" jawab ibu lag

