Sekretaris CEO

939 Words
Nira meletakkan tasnya ke kursinya sesampainya dia di kantor. Dia segera menyeduh kopi setelah sampai di ruangan tempatnya bekerja. "Kamu sudah datang." Yudha masuk ke dalam ruangan yang memang menjadi satu dengan Nira. Melihat Yudha datang, Nira tersenyum, juga sekalian menyeduh kopi untuk bosnya itu. Selera mereka sama, kopi hitam tanpa gula. "Thanks, Nira." Yudha langsung menerima dan meminum kopi yang diulurkan padanya. Nira segera mengerjakan berkas yang diminta oleh Yudha. Mereka bekerja dalam diam, hanya suara ketikan dari keyboard yang memenuhi ruangan itu. "Bagaimana kabar Ayuni, Nira?" tanya Yudha di tengah keheningan. Nira melihat ke arah Yudha yang belum mengalihkan pandanganya dari laptopnya. "Baik, Pak," jawabnya. Terdengar dengkusan dari Yudha. 'Kenapa dia?' batin Nira. Setelah berkas sudah di-print, Nira segera memberikannya kepada Yudha. "Oke, aku memang bisa mengandalkan mu. Segera bersiap ya, sebelum makan siang kita berangkat menemui klien," puji Yudha. Nira hanya mengangguk lalu kembali ke mejanya untuk mengerjakan tugas yang lain. Siang harinya, setelah pertemuan dengan klien selesai, mereka melanjutkan untuk makan siang. "Anda beruntung punya sekretaris yang cekatan seperti Bu Nira, Pak Yudha," komentar Dirga, klien mereka. Yudha menatap Nira sebentar dan tersenyum tipis. "Iya, Anda benar Pak Dirga," ucapnya. Yudha memang tipe orang yang tidak terlalu banyak omong. Dia seorang duda tanpa anak, dulu istrinya ketahuan selingkuh saat dia baru pulang dari perjalanan bisnis. Dan sampai sekarang dia belum mau membuka hatinya untuk orang lain. "Ngomong-ngomong Bu Nira masih single, kan?" Dirga bertanya kepada Nira. Nira hanya tersenyum dan mengangguk. "Mau saya jodohkan sama anak saya?" tanya Dirga lagi. Nira tertawa kecil mendengar pertanyaan Dirga. "Pak Dirga bisa saja. Memangnya anak Pak Dirga mau sama saya," katanya lalu melanjutkan makan dengan santai. "Pasti maulah, Bu. Anak saya sudah tiga puluh tahun tapi kalau disuruh menikah masih belum mau juga, pasti kalau ketemu Bu Nira dia langsung mau." Dirga masih saja mencoba membujuk. "Ekhem! Saya sudah selesai makan. Ayo Nira, kita kembali ke kantor." Yudha sudah berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pak Dirga, tanda dia mau pamit dan kembali ke kantor. Nira sedikit tergagap karena masih mengunyah makanan. Dia mengelap mulut dan ikut berdiri mengikuti Yudha. "Kami pamit dulu Pak Dirga." Dijabatnya tangan Dirga dan membuntuti Yudha menuju mobil. "Kenapa buru-buru sih Pak?" Nira mencoba mengimbangi langkah kaki Yudha yang lebar. "Aku kebelet," jawab Yudha singkat. Nira mengernyit mendengar jawaban bosnya. "Ke toilet di sini saja Pak, dari pada Bapak nahan terlalu lama." Yudha menghentikan langkahnya mendadak membuat Nira menabrak punggungnya. "Aduh. Maaf Pak." Nira mengelus dahinya. Yudha membalikkan badannya ke arah Nira. "Kalau aku bilang kembali, ya kembali saja. Tinggal nurut aja apa susahnya, sih." Nira semakin heran dengan perubahan sikap Yudha. Di perjalanan ke kantor suasana mobil yang mereka tumpangi sangat hening. Mood Yudha sedang buruk, wajahnya ditekuk dan dia hanya diam menatap jalanan lewat jendela yang dia buka sedikit. Setelah sampai di kantor dia langsung keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Bu Nira, Pak Yudha kenapa?" Akmal supir Yudha bertanya pada Nira setelah Yudha keluar mobil meninggalkan mereka. "Nggak tahu, Mal. Horor banget nggak sih dari tadi." Akmal mengangguk membenarkan ucapan Nira. Tidak ingin membuang waktu, Nira juga segera keluar mengikuti bosnya ke dalam kantor. * "Pak Yudha, jadwal besok sudah saya kirimkan ke email bapak ya. Oh, iya, Pak Dirga minta ketemu sekali lagi sebelum proyek dimulai. Kalau bisa dalam minggu ini." Nira berkata pada Yudha di dalam lift sebelum mereka pulang. "Ya, kamu atur saja, nanti aku akan menemui dia sendiri. Kamu nggak usah ikut," perintah Yudha. Nira hanya mengangguk saja tidak berani membantahnya, kalau sedang dalam mode diam seperti ini di dekat Yudha agak merinding. Lebih baik dia cari aman. "Nira." Nira mendongak menatap Yudha di sampingnya. Tubuh Yudha yang tinggi membuatnya harus mendongak ke atas saat berbicara dengannya. "Ya Pak?" Yudha menatap Nira dengan mata elangnya. Glek! "Lain kali lebih profesional, jangan membahas urusan pribadi dengan klien. Aku tidak suka." Mulut Nira membuka dan menutup, bingung harus berkata apa. Ternyata sedari siang Yudha marah karena itu. "Baik Pak." Nira menjawab singkat. "Dan aku sudah bilang, jangan panggil saya 'pak' jika kita tidak sedang membahas pekerjaan." Kali ini, kening Nira mengerut dalam mendengar pernyataan Yudha yang terdengar aneh karena berlawanan dengan ucapan sebelumnya. Dia bilang harus profesional, tapi kemudian meminta untuk jangan memanggilnya dengan embel-embel 'pak' padahal hubungan mereka juga hanya sebatas atasan dan bawahan. 'Ting' Pintu lift terbuka. Yudha melangkah keluar dari lift. "Kau mau di sana sampai kapan, Nira?" "Ah, iya." Nira mengekor di belakang Yudha menuju tempat parkir lalu berjalan menuju mobilnya sendiri. Saat akan menstarter mobilnya, kaca mobilnya diketuk. "Pak Yudha?" Nira menurunkan kaca mobil. "Ini, untuk Ayuni. Oleh-oleh dari Korea, ibuku baru dari sana." Yudha menyerahkan paper bag yang lumayan besar dan melesakkannya ke dalam mobil. Lalu dia pergi begitu saja sebelum Nira menjawab apapun. "Makasih Pak." Nira berteriak agar Yudha mendengar suaranya. Yudha hanya melambaikan tangannya. Nira membuka paper bag itu, dua buah sweater berwarna merah marun dan pink. Juga dua buah kotak coklat. Nira tersenyum. "Ayu pasti suka." Dia mulai menjalankan mobil menuju restoran. Ayuni sudah mengabari akan menunggunya di sana. Nira sudah berganti baju dengan baju santai, celana baggy dan kaos lengan pendek oversize, karena dia sudah janji akan mengajak Ayuni ke taman bermain sepulangnya bekerja. Setelah sampai di restoran, Nira langsung masuk ke dalam. Hari ini cukup melelahkan karena harus menghadapi 'manusia es' seharian. Langkahnya berhenti saat melihat di meja paling pojok putrinya tengah berbincang dengan seorang laki-laki. "Siapa itu?" tanya Nira dalam hati. Nira berjalan menghampiri meja Ayuni, masih menebak-nebak siapa gerangan laki-laki yang sedang bersama putrinya. "I bu?" Ayuni mendongak memanggil Nira. Laki-laki di depan Ayuni berbalik menghadap Nira. "Mau apa kau kemari!" Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD