"Niko, Mama sudah pastikan anak itu adalah putri kandung kamu. Kita harus mengatur rencana untuk membawa anak kamu ke dalam keluarga kita. Jangan sampai lebih lama tinggal bersama keluarga miskin itu. Mau jadi apa anak kamu nanti." Gita Wiratama, Ibu dari Niko Wiratama berbicara dengan lantang.
Niko yang duduk di seberangnya menggenggam tangan Mila, istrinya, untuk menguatkan perempuan itu. Niko tahu pembahasan tentang anak pasti akan membuat Mila sedih.
"Ma, lain kali aja bicaranya, ya. Mila pasti capek habis pulang dari rumah sakit. Dia butuh istirahat."
Gita melihat pada Mila, kemudian berkata, "Mila, ini demi penerus keluarga kita. Mama harap kamu bisa mengerti. Dia satu-satunya harapan kita. Kondisi kalian belum memungkinkan untuk mempunyai anak sendiri. Kalau suatu saat kamu bisa hamil anak Niko, kamu nggak usah khawatir, anak kamu yang akan menjadi pewaris sah keluarga ini. Bukan anak haram itu."
Mila hanya diam tidak menjawab perkataan ibu mertuanya. Hatinya sudah sakit saat mengetahui kalau suaminya mempunyai anak di luar nikah, dan sekarang mertuanya ingin membawa anak itu untuk masuk ke rumah mereka. Kondisinya yang baru saja menjalani operasi pengangkatan saluran tuba, membuatnya sangat sensitif saat membahas tentang keturunan. Kondisi Niko juga yang memiliki penyakit kesuburan membuat mereka berdua kesulitan untuk melakukan program hamil.
Mila adalah anak dari rekan bisnis Wiratama. Mereka menjodohkan anak-anak mereka agar bisnis mereka semakin besar. Karenanya Gita sangat menyayangi menantunya itu. Walaupun setelah sepuluh tahun menikah Mila belum juga bisa hamil.
Niko sebenarnya merasa tercubit hatinya, ketika ibunya mengatakan anak yang dilahirkan Nira adalah anak haram. Bagaimanapun Ayuni adalah putrinya, tentu saja dia tidak suka mendengar anak itu dihina apalagi oleh ibunya sendiri.
"Hasil tes DNA itu sudah sangat jelas membuktikan Ayuni anak kamu. Jangan buang waktu lagi Niko. Mama tidak mau Ayuni menjadi semakin tidak terkendali kalau lebih lama diasuh perempuan murahan itu," ucap Gita kembali bersuara.
"Benar Niko, anak itu mirip sekali sama kamu. Kalau kamu lihat dia secara langsung kamu pasti bakal langsung tahu kalau itu anak kamu," kata Surya sambil tersenyum. Walaupun Nira melahirkan anak perempuan tapi itu lebih baik daripada tidak ada keturunan sama sekali.
Niko melihat pada Mila yang terlihat tidak nyaman. Istrinya itu pasti merasa sakit hati padanya juga keluarganya. "Iya Pa, Ma, aku akan usahakan untuk segera membawa Ayuni ke sini. Soal Nira, Mama sama Papa nggak usah khawatir. Uang bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah," jawab Niko cepat karena ingin segera mengakhiri pembicaraan itu.
Gita dan Surya tersenyum mendengar perkataan putranya. "Dia anak kamu, jadi kamu berhak untuk mengasuhnya Niko. Hah ... Mama sudah tidak sabar ingin membawanya ke rumah ini," ucap Gita sambil memeluk suaminya.
"Aku masuk ke kamar dulu ya, kepalaku pusing Ma, Pa." Mila bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamarnya di lantai dua. Dia sudah tidak bisa menahan sakit hatinya mendengar mertuanya membicarakan anak haram dari suaminya.
Mila membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Kalau Niko tidak punya kekurangan mereka pasti sudah menendangku seperti perempuan itu."
Niko menyusul Mila ke dalam kamar dan duduk di pinggir tempat tidur. "Sayang, jangan terlalu dipikirkan ya. Kamu pasti bisa hamil dan melahirkan anak kita sendiri. Setelah itu Ayuni akan kita dikembalikan pada Nira," kata Niko sambil menggenggam tangan istrinya.
Mila menatap suaminya dalam diam. 'Seharusnya dia meminta maaf padaku karena punya anak di luar nikah, bukannya membahas anak yang belum tentu akan tumbuh di dalam rahimku. Aku masih punya satu indung telur yang sehat, tapi keadaannya bahkan lebih memprihatinkan,' batin Mila.
Mila menghela napas kasar, dia merasa lelah dengan keadaan ini. "Aku ngantuk, mau tidur. Aku nggak mau dengar pembahasan ini lagi." Mila membalik tubuhnya dan memeluk gulingnya.
Niko menekuri lantai, perasaannya tidak menentu. Masalah di perusahaan sudah cukup membuatnya pusing, sekarang ditambah dengan ibunya yang terus menginginkan anak Nira dibawa ke rumah mereka.
Terbayang kembali wajah Nira yang menangis memohon pertanggung jawaban dirinya. Niko bisa melihat dari jendela kamarnya, bagaimana ibunya menendang Nira dari teras rumahnya. Rasa bersalah mulai menyusup ke dalam dadanya.
"Dia ternyata benar mengandung anakku. Maafkan aku Nira," bisik Niko.
Ada sedikit rasa senang dalam d**a Niko mengetahui dia mempunyai anak dari Nira. Setelah penantiannya bersama istrinya selama bertahun-tahun, dia mendengar ibunya bercerita melihat anak perempuan bersama Nira yang memanggilnya 'ibu'.
"Apa kabar kamu Nak? Maafkan Ayah selama ini
tidak tahu kamu ada."
Bersambung