Membuka Rahasia

890 Words
"Apa? Jadi ... mereka kakek dan nenekku?" Mata Ayuni berkaca-kaca saat bertanya pada Nira. Nira tahu putrinya pasti terkejut. Selama ini dia memang tidak pernah berterus terang tentang siapa identitas ayah biologis putrinya. Dia takut putrinya akan nekat menemui ayahnya jika dia memberitahukan semuanya. Dia tidak ingin keluarga Niko sampai melukai anaknya. Pelan-pelan Nira memberikan pemahaman sejak kecil kepada Ayuni, agar putrinya itu bisa berbesar hati menerima takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan dan juga memaafkan kesalahan yang sudah dirinya perbuat. Nira mengangguk. "Kamu pernah bertemu dengan mereka, Yu? Kamu kelihatannya nggak asing sama mereka?" tanya Nira penasaran. Ayuni mengangguk, dia menceritakan awal pertemuannya dengan Gita. Mereka pertama kali bertemu di minimarket. Gita kebingungan di depan kasir saat akan membayar minuman yang dibelinya karena dompetnya tertinggal. Ayuni yang kebetulan ada di belakangnya menawarkan untuk membayarkan dulu. Dari sana pertemuan kedua mereka terjadi, dengan alasan ingin mengembalikan uang Ayuni, Gita meminta nomor teleponnya agar gampang menghubungi. Setelahnya beberapa kali pertemuan tidak sengaja terjadi kembali. Nira berpikir sejenak, dia sekarang mulai paham. Dia dan orang tua Niko baru sekali bertemu di restoran, tetapi mereka tiba-tiba kembali datang menemuinya mengatakan menginginkan Ayuni. Ternyata mereka diam-diam sudah menyelidiki dan mendekati Ayuni. Nira berdecak karena kesal, teringat perlakuan mereka padanya. Dulu mereka tidak percaya Ayuni darah daging mereka, tapi sekarang mereka datang dan begitu yakin Ayuni adalah cucu mereka. "Mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk sama kamu kan, Sayang?" Nira memeriksa tubuh Ayuni, untuk memastikan putrinya baik-baik saja. "Aku nggak apa-apa Bu. Jadi ...." Ayuni menggigit bibirnya. Dia terlihat ragu ingin meneruskan perkataannya. "Ada apa? Bicara saja. Katakan dan tanyakan apapun yang ingin kamu ketahui. Ibu akan jawab," kata Nira sambil mengangkat dagu Ayuni. "Aku ... apa boleh ketemu Ayah?" Nira tersentak, tidak menyangka pertanyaan itu yang ingin ditanyakan. "Kamu mau bertemu Ayah kamu?" Nira memastikan lagi. Ayuni mengangguk pelan. "Mereka mungkin akan memisahkan kita kalau kamu memilih untuk bersama Ayah kamu, Sayang. Kamu lihat kan mereka benci sekali sama Ibu." Nira tidak akan menyembunyikan apapun lagi pada Ayuni. Umur Ayuni sudah enam belas tahun, dia pasti bisa memutuskan dengan penuh kesadaran. "Aku hanya mau melihat Ayah, bukan mau bersama Ayah, Bu. Aku mau melihat seperti apa laki-laki yang sudah membuangku itu." Air mata Ayuni menetes setelah mengatakan itu. Nira memeluknya erat. Setelah melepaskan pelukannya, Nira membuka semuanya pada Ayuni. Sudah saatnya putrinya mengetahui semuanya. "Dia putra tunggal keluarga Wiratama. Kamu pasti bisa menemukan fotonya di internet, mereka ... ya, keluarga terpandang. Sedang Ibu pada waktu itu hanya anak seorang guru honorer, tentu saja tidak sebanding dengan mereka. Kamu sekarang sudah besar, Ibu yakin kamu sudah cukup dewasa untuk mendengar semua ini. Dan satu lagi yang harus kamu tahu, Ibu nggak mau kehilangan kamu, Sayang." "Aku juga sayang sama Ibu. Ibu yang sudah membesarkan aku. Menjadi Ibu tunggal pasti nggak mudah dengan semua ejekan dan hinaan dari orang-orang. Aku nggak akan mungkin ninggalin Ibu," ucap Ayuni sambil tersenyum di akhir kalimatnya. "Ya udah pulang, yuk," ajak Nira. Untuk yang belum mengenal mereka, mungkin orang akan berpikir mereka berdua adalah kakak adik. Di umurnya yang ke tiga puluh enam tahun ini, penampilan Nira masih terlihat seperti gadis dua puluhan. Selain pakaian yang dia gunakan selalu modis, dia juga selalu menjaga tubuhnya agar tetap sehat dan bugar walaupun sudah mempunyai anak. Nira mengendarai mobil menuju rumahnya. Hanya dia, ibu dan putrinya juga seorang pembantu yang menghuninya. Sedang Fajar tinggal bersama istri dan kedua anaknya, hanya berbeda perumahan tidak jauh dari rumah Nira. "Bu, lagi ngapain?" sapa Nira pada ibunya. Halimah terkejut saat Nira menyapanya. "Nggak apa-apa, Nira. Ibu bosen di rumah cuma sama Bi Ros. Nggak ngapa-ngapain seharian. Makanya bengong." Nira melihat wajah ibunya yang seperti tengah memikirkan sesuatu dan kembali berkata, "Ibu kalau ada apa-apa cerita ya, Bu. Ibu punya Nira sama Mas Fajar, jangan dipendam sendiri kalau sekiranya ada yang mengganjal pikiran Ibu." Halimah menghela napasnya kemudian mengelus rambut Nira sebelum berucap, "Ibu kepikiran kamu. Tadi Ibu datang ke arisan ibu-ibu di sini. Mereka lagi-lagi nyinggung kamu." Hati Nira terasa sesak saat melihat ibunya berkata menahan tangis. Masalah yang dia buat dulu nyatanya tetap meninggalkan jejak sampai sekarang. Noda yang dia torehkan di wajah ibunya, tidak hilang walau sudah tujuh belas tahun berlalu. "Kalau kamu menikah mungkin Ibu sudah bisa tenang, Nira. Ada yang menjaga kamu sama Ayuni," ucap Halimah sambil menghembuskan napas keras. Nira tersenyum getir. "Siapa yang mau sama aku dengan tulus, Bu? Ibu tunggal dengan anak di luar nikah? Ibu nggak usah khawatir, prioritas Nira sekarang cuma Ibu sama Ayuni. Membahagiakan kalian itu yang jadi tujuanku sekarang, Bu." "Hah!" Halimah membuang napasnya dengan keras. Bosan dengan sifat keras kepala putrinya. Memang ada beberapa orang yang mendekati Nira. Tapi Nira paham mereka hanya mau dengannya, tidak dengan putrinya. Tentu saja dia menolak tanpa berpikir lama. Dia tidak ingin mengorbankan perasaan anaknya demi kebahagiaannya sendiri. Karena membahas pernikahan, ingatan masa lalu tiba-tiba menyeruak. 'Kalau kita menikah aku mau punya anak yang banyak sama kamu.' Perkataan Niko kala itu kembali terngiang. Nira ingat dulu dia begitu berbunga-bunga mendengar kalimat itu keluar dari mulut Niko, selepas dirinya menyerahkan kesuciannya pada Niko. Tapi sekarang ingatan itu justru mendatangkan rasa jijik karena pernah berhubungan dengannya. 'Aku memang selalu berdoa untukmu. Tapi bukan kebaikan yang kudoakan. Tapi hukuman yang setimpal untukmu dan keluargamu,' batin Nira sambil mengepalkan tangannya. Dia kembali melihat ibunya, semakin nelangsa dengan penyesalan masa lalunya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD