"Fajar, bangun, Nak." Halimah menangis setelah melihat kondisi anaknya. Dia mengelus wajah putranya, berharap bisa menyembuhkan luka di sana dengan sentuhannya. "Kenapa bisa begini, Jar."
Fajar terbaring di brankar UGD dengan mata tertutup. Wajahnya penuh lebam, matanya bengkak bekas pukulan dan ada perban yang melilit lengan kanannya. Dari hasil pemeriksaan, tulang lengannya retak dan harus segera dioperasi.
Berdasarkan penyelidikan polisi kemungkinan Fajar dirampok. Sepeda motornya tidak ditemukan, tetapi anehnya dompet dan ponselnya tidak diambil.
Fajar membuka matanya, dia menengok ke samping, menatap Nira sambil meringis menahan sakit. Digenggamnya tangan adiknya dan berkata lirih, "Maafin Mas Fajar, Nira. Mas gagal."
Nira hanya diam dengan wajah bingung. Saat itu tidak terlalu memikirkan kata-kata kakaknya karena berpikir kakaknya masih belum sadar sepenuhnya. Dia hanya berusaha menenangkan Fajar.
Akan tetapi, beberapa hari setelah Fajar pulang ke rumah, dia berkata pada Nira, "Nira, lebih baik gugurkan bayi itu!"
Nira menatap Fajar dengan pandangan tidak percaya. "Apa, Mas?" tanya Nira, ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
"Gugurkan bayi itu, Nira. Masa depanmu masih panjang. Kamu harus sekolah yang tinggi, jadi orang hebat dan sukses." Fajar menggenggam tangan adiknya, berusaha meyakinkannya.
"Mas, bayi ini tidak bersalah Mas. Dia anakku, walau bagaimanapun statusnya. Aku tidak mungkin membunuhnya." Nira mengelus perutnya. Dia sudah memeriksakan kandungannya pada tenaga kesehatan. Calon anaknya sudah berusia delapan minggu. Tenaga kesehatan juga sudah memberikan edukasi kehamilan di trimester pertama kepadanya. Nira sudah memutuskan ingin mempertahankan kandungannya.
"Nira, dengarkan aku." Fajar mengeratkan genggaman tangannya. "Orang tua Niko bukan orang sembarangan. Mereka bisa berbuat apa saja. Bahkan aku hampir mati kemarin saat pulang dari sana. Mereka mengancam akan melukaimu juga Ibu, Nira."
Mata Nira membeliak. Dia menggeleng dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Nira kaget mendengar pengakuan Fajar. Ternyata kakak laki-lakinya bukan dirampok tapi sengaja dilukai oleh orang suruhan keluarga Niko.
"Mas tidak punya kuasa untuk melindungi kalian, apalagi keadaan Mas Fajar seperti ini," tambah Fajar.
Nira melihat Fajar kembali. Luka-luka di wajah kakaknya hampir pudar, tapi tangannya masih digips. Untuk makan saja dia kesusahan, apalagi melindunginya dan ibunya. Nira kembali menunduk dan menangisi keadaannya. Dia tidak menjawab apapun lagi.
Setelah kelulusan, Nira semakin tidak punya peluang untuk menemui Niko. Nomor ponselnya mungkin sudah diblokir karena tidak pernah tersambung saat dia menelepon Niko.
Sampai ketika Nira mendengar kabar dari temannya kalau Niko akan berangkat belajar ke luar negeri, dia semakin gelisah. Walau bagaimanapun dia harus bicara dengan Niko dan berusaha sekali lagi untuk memintanya bertanggung jawab. Nasib anaknya dipertaruhkan.
Dia berusaha kabur dengan susah payah agar bisa menemui Niko. Setelah dipersilakan masuk, bukan Niko yang dia temui, tetapi kedua orang tuanya. Belum selesai dia menjelaskan maksud kedatangannya, Surya berdiri dari duduknya dan berjalan cepat menuju Nira.
"Keluar kamu dari sini." Surya menarik lengan Nira secara paksa, membuat langkah perempuan itu terseok-seok mengikuti langkah kaki Surya yang tegap dan lebar.
"Ah!" Nira meringis menahan sakit saat dia jatuh karena di dorong oleh Surya. Dia mengelus perutnya yang mulai membuncit, takut terjadi sesuatu dengan janin yang sedang dikandungnya. Tidak dihiraukannya kaki dan sikunya yang terasa nyeri karena berbenturan dengan paving blok setelah didorong dari teras rumah mewah itu.
"Jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi di sini, kalau kau tidak ingin terluka. Dasar perempuan murahan! Bisa-bisanya menjebak putraku agar mau bertanggung jawab untuk anak harammu," seru Surya dengan ekspresi wajah yang menyeramkan.
"Dasar perempuan licik. Sudah miskin, tidak tahu diri. Wajah buluk seperti itu mana mau anakku denganmu." Gita berkacak pinggang melihat Nira yang masih terduduk di bawah.
Nira kembali menangis mendengar hinaan mereka. Dia datang ke rumah itu untuk meminta pertanggungjawaban dari Niko, anak dari pengusaha properti itu, tetapi yang dia dapat hanya hinaan dan sumpah serapah.
"Om, Tante, saya mohon, saya hamil cucu kalian. Tolong saya, paling tidak biarkan Niko menikahi saya agar anak ini punya status. Setelah dia lahir tidak apa kalau memang kami harus berpisah," pinta Nira.
"Jangan pikir kami bodoh pel*cur. Kau bisa tidur dengan siapa saja, tapi meminta anakku untuk bertanggung jawab. Iyakan!" Gita berkata kemudian menendang pundak Nira hingga terhempas ke belakang.
"Nira!" Fajar berlari masuk ke halaman dan membantu Nira untuk duduk. "Kamu ngapain ke sini. Mas sudah bilang kan sama kamu, jangan berurusan dengan mereka lagi.
"Didik adik kamu baik-baik. Jangan kau pikir ancaman kami hanya main-main. Aku tidak segan-segan pada orang yang ingin menghancurkan masa depan putraku. Jangan mimpi menjadi bagian dari keluarga Wiratama," kata Gita.
"Satpam." Dua orang satpam yang datang mengekori Fajar langsung berlari ke arah Surya yang berteriak memanggil mereka.
"Usir mereka dari sini dan pastikan mereka berdua tidak akan pernah bisa masuk ke rumah ini lagi," kata Surya sebelum berbalik badan memasuki kediamannya.
"Baik, Tuan." Mereka membawa Nira dan Fajar dengan kasar.
"Dasar orang kampung, pake ngaku-ngaku temannya Mas Niko. Pergi sana jauh-jauh," usir seorang satpam.
Sejak saat itu Fajar meminta kepada Nira agar jangan berhubungan lagi dengan keluarga Wiratama. Dia berjanji akan ikut bertanggung jawab membesarkan anak yang sedang dikandung Nira. Dia bahkan masih mau membiayai kuliah Nira setelah Nira melahirkan.
Flashback end
Berbagai gunjingan karena melahirkan di luar nikah dari tetangga bahkan saudara sudah menjadi makanan Nira sehari-hari. Kalau bukan karena ibu dan kakaknya yang selalu mendukungnya, dia pasti lebih memilih untuk mengakhiri hidup bersama anaknya. Mereka sekeluarga sampai pindah rumah untuk menjaga kewarasan mereka.
Nira bertekad untuk menjadi orang sukses agar kelak tidak ada yang bisa menginjak kepalanya lagi. Dia akan memastikan keluarganya, terutama putrinya tidak merasakan lagi dihina karena tidak berpunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya dia diterima bekerja sebagai sekretaris di perusahaan yang bonafit. Dari sana dia punya banyak relasi dan pengalaman. Dia berpindah pekerjaan beberapa kali. Dan sekarang dia sudah tiga tahun menjadi sekretaris Yudha Pratama, CEO sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Selain bekerja, Nira juga mempunyai usaha yang dikembangkan bersama kakaknya. Salah satunya adalah restoran yang ada di tengah kota. Beberapa hari sekali dia akan berkunjung ke sana untuk mengecek, karena Fajar juga masih harus mengurus bisnis mereka yang lain.
Sampai karena kelalaian seorang karyawan yang menumpahkan minuman ke pakaiannya, dia harus bertemu kedua orang tua Niko kembali dengan mengenakan seragam pelayan, karena hanya itu yang bisa dipakai. Mereka beranggapan Nira adalah pelayan di restoran itu, sehingga bisa menertawakan dan menghinanya di depan semua orang.
Dua minggu setelah kejadian itu, mereka kembali datang ke restoran. Membuat keributan dan memaksa ingin menemui Nira.
Tanpa diduga, ternyata mereka menginginkan Nira menyerahkan hak asuh anaknya pada mereka. Mereka tidak tahu jika perempuan yang dulu mereka buang saat mengandung cucu mereka sekarang sudah bukan Nira yang lemah lagi.
Bersambung