Pengakuan

1018 Words
"Mas Fajar?" Nira berlari memeluk laki-laki di depannya. "Mas Fajar kapan pulang? Aku kangen banget." Fajar adalah kakak Nira satu-satunya. Sudah tiga tahun dia merantau ke pulau seberang, menjadi karyawan perusahaan tambang. Setahun ini dia tidak pulang, tetapi kali ini tanpa kabar dia sudah ada di depan rumah, menanti kepulangan Nira dari sekolah. "Baru saja sampai. Eh lihat adikku diantar cowok pulang sekolah," Fajar berkata sambil mengacak rambut Nira. "Anak mana tadi? Kenapa antar pulang tidak sampai rumah?" Nira menggandeng lengan Fajar menuju rumah dan menjawab, "Dia cuma teman sekolah kok, Mas." "Ingat ya! Jangan mau diapa-apain, nanti hamil." Fajar menjawil hidung Nira. "Belajar yang rajin, sebentar lagi kan ujian." Nira menunduk mendengar perkataan kakak laki-lakinya. Entah bagaimana perasaan Fajar kalau tahu adik perempuannya hamil sebelum menikah. Selama ini Fajar begitu keras bekerja, menggantikan almarhum bapaknya, karena dia ingin menyekolahkan Nira sampai tinggi. Nira semakin menunduk, tidak tega memberi tahu kakaknya tentang semuanya. Mereka berdua masuk ke dalam rumah, di ruang tamu, Halimah, ibu Nira yang seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar sudah menunggu. "Anak-anak Ibu ayo masuk. Ibu sudah masak makanan kesukaan kalian." Nira menyendok makanannya dengan berat. Namun, agar kedua orang yang disayanginya tidak curiga, terpaksa dia memakan masakan ibunya dengan semangat. Malam harinya Nira mencoba menghubungi Niko, tetapi setelah menunggu sampai malam SMS yang dia kirimkan tidak mendapatkan jawaban. Sedang ingin menelepon dia tidak punya cukup pulsa. Dia kembali tidak bisa terlelap hingga dini hari memikirkan nasibnya. Esoknya Niko justru menghindar. Saat Nira menyapa dia berpura-pura tidak mendengar dan tetap sibuk mengobrol dengan teman-teman mereka. Bahkan saat temannya memberitahu kalau Nira menunggunya, dia tidak peduli. Mendekati waktu ujian sekolah, mereka semakin sibuk dengan belajar, juga les yang diikuti. Nira semakin tidak punya waktu untuk mendekati Niko. Semua pesan dan telepon yang Nira kirimkan tidak pernah dibalas Niko. Nira hanya bisa menangis sendirian, tidak tahu apa yang harus dilakukan sedang kehamilannya lambat laun tidak dapat lagi disembunyikan. Tapi untuk mengaku pada keluarganya dia tidak punya keberanian. Hingga ujian berakhir, Nira baru bisa bicara dengan Niko. Dia menarik paksa Niko untuk mengikutinya ke belakang sekolah. "Kenapa kamu menghindari aku selama ini!" Nira sudah kehilangan kesabaran. Niko diam dan membuang muka. Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu, Nira semakin geram karena tidak mendapatkan jawaban. "Kenapa diam! Niko, jawab aku," teriak Nira. Niko kali ini menatap Nira dengan pandangan tajam. "Aku yakin itu bukan anakku. Kamu mau menjebakku untuk bertanggung jawab, kan?" "Kamu jahat! Ini anak kamu. Aku masih suci saat kita pertama kali melakukannya. Kamu bilang mau tanggung jawab." Nira sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia memukuli d**a Niko dengan kencang. Niko mencoba menghentikan Nira dengan mendorong tubuhnya ke belakang sehingga menabrak dinding. Niko mengurung tubuh Nira dengan tangannya, "Dengar Nira! Jangan pernah temui aku lagi. Aku tidak peduli dengan anak haram ini. Jangan libatkan aku dengan kesialanmu. Masa depanku masih panjang. Dengar kau!" Niko memukul dinding di sebelah kepala Nira membuat gadis itu terlonjak takut. Setelah mengatakan itu, Niko pergi meninggalkan Nira begitu saja. Nira hanya bisa kembali menangis, tubuhnya luruh ke bawah. Dia menangis seorang diri di belakang sekolah sampai hari gelap. Setelah puas menangis, barulah dia beranjak untuk pulang. Nira berjalan gontai menuju rumahnya. "Nira, kamu dari mana saja!" tanya Fajar seraya menghentikan motor di samping Nira, dia baru saja hendak pergi mencari adiknya itu. "Naik!" Fajar memerintah. Nira menurut tanpa banyak protes. Sesampainya mereka di rumah, tanpa basa-basi, Fajar kembali menginterogasi Nira. "Nira. Katakan sama Mas Fajar, kamu dari mana? Kenapa hampir magrib begini kamu baru pulang? Ujian sudah selesai, harusnya kamu pulang lebih awal kan?" Nira diam tidak menjawab dan hanya memainkan resleting tas yang ada di pangkuannya. "Nira!" Nira mengangkat wajahnya karena kaget dengan bentakan Fajar. Ekspresi wajah Fajar berubah saat menyadari wajah Nira yang sembab. "Nira kamu kenapa? Ngomong sama Mas Fajar. Ada yang nyakitin kamu, hah?" tanya Fajar mendekati Nira dan mengelus rambutnya. "Ma-maaf, Mas." Nira menangis lagi. Fajar memeluk Nira, mencoba menenangkannya. Setelah tangis adiknya reda, Fajar kembali bertanya, "Nira bilang ada apa? Jangan buat Mas sama Ibu bingung." "Aku ... a–aku ... Maafkan aku, Mas ... Bu. Aku ... a-aku hamil!" kata Nira terbata-bata. Ruang tamu sederhana itu hening sejenak. Hanya tangisan Nira yang terdengar di sana. "Apa bocah laki-laki yang mengantarmu waktu itu ayah dari janinmu?" suara Fajar terdengar bergetar. Dia menahan marah juga kecewa pada adiknya. Nira mengangguk. "Dia sudah tahu kamu hamil?" tanya Fajar lagi. Nira kembali mengangguk. "Lalu bagaimana? Dia akan bertanggung jawab, kan?" Kali ini Nira hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir dari Fajar, hanya tangisan dengan sesenggukannya semakin keras. "Nira, jawab!" Mas Fajar menggebrak meja di hadapannya. Nira terlonjak karena kaget, tidak pernah sekalipun dia melihat Fajar marah selama ini. Nira mengangkat wajahnya menatap kakaknya. Bisa dia lihat mata merah dan rahangnya yang mengeras. Dia menengok ke arah ibunya yang duduk di kursi yang lain. Bahu wanita yang sudah melahirkannya itu berguncang dan tengah tersengal dengan tangisannya. "Ma–maafin aku Mas ... Bu ...." Nira menangis semakin keras. Dia berlutut di depan kakak dan ibunya, rasa sesal tidak ada guna, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. "Beritahu alamat laki-laki itu. Aku akan bicara pada orang tuanya," kata Fajar. Nira memberikan alamat yang dia tahu adalah rumah orang tua Niko. Dia berharap Fajar bisa menyakinkan orang tua Niko untuk menikahinya. Fajar berangkat saat itu juga dengan tangan terkepal. Nira dan ibunya menunggu dengan gelisah, tetapi sampai tengah malam Fajar tidak kunjung pulang. 'Kriiing Kriiing' Ponsel milik Halimah berdering keras meminta perhatian. Siapa yang menelepon tengah malam begini? Setelah mengangkat teleponnya, air mata ibu Nira mengalir membuat Nira khawatir. "Ada apa, Bu?" tanya Nira setelah ibunya menutup teleponnya. "Masmu di rumah sakit, Nir. Dia ditemukan di pinggir jalan dalam keadaan tidak sadarkan diri penuh lu-ka," Halimah bicara sambil menangis dan memeluk Nira. Mereka berdua lekas bersiap menuju rumah sakit. Motor Halimah dibawa Fajar, sehingga mereka harus berjalan ke jalan besar untuk mencari bus yang akan membawa mereka ke rumah sakit. Penyesalan semakin menghantui Nira. Kalau saja Fajar tidak datang ke rumah Niko, saat ini dia pasti baik-baik saja. "Maafkan aku, Mas ...." Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD