BAB 13 Bayang-Bayang di Balik Pilar

1569 Words

Pernikahan yang seharusnya menjadi gerbang menuju ketenangan justru menjadi awal dari sebuah ketegangan baru. Maspur ternyata tidak benar-benar pergi. Penolakannya di malam resepsi bukan sebuah akhir, melainkan pemicu obsesi gelapnya. Bagi pria seperti Maspur, kekalahan adalah penghinaan, dan ia tidak terbiasa kalah dari seorang "arsitek daerah" seperti Prem. Teror itu dimulai dengan hal-hal kecil yang sistematis. Awalnya hanya sebuah mobil sedan hitam yang sama—mobil yang dipakai Maspur sebelumnya—yang terparkir di ujung jalan rumah Prem setiap pagi. Namun, saat Prem mendekat, mobil itu akan melesat pergi. Lalu, kiriman bunga tanpa nama mulai berdatangan ke galeri setiap jam satu siang, tepat saat jam makan siang Nia, dengan pesan yang sama di setiap kartunya: “Sejarah tidak bisa dihapu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD