Langkah kaki Yiven berdentum di koridor rumah sakit, menciptakan irama yang tidak selaras dengan detak jantungnya yang liar. Setelah beberapa waktu menjaga Nayla yang masih belum sadar, ia sempat pergi melakukan visite ke bangsal pasien. Visite singkat yang terasa seperti berabad-abad, karena pikirannya tidak berada di sini, melainkan di pusat kegelisahannya, tertinggal di sebuah bilik IGD nomor empat, tempat seorang wanita dengan wajah masa lalunya terbaring tak berdaya. Begitu kewajibannya tuntas, Yiven nyaris berlari, mengabaikan tatapan heran dari para perawat yang biasanya melihat sang dokter sebagai figur yang selalu tenang dan terkontrol. Yiven sampai di depan tirai hijau yang kusam yang membatasi bilik itu. Tangannya gemetar saat memegang pinggiran kain kasar tersebut. Dengan sa

