Malam di Rumah Sakit Arga terlalu sunyi bagi kebanyakan orang. Namun bagi Yiven Mahendra, kesunyian itu justru terasa memekakkan telinga. Ia duduk terpaku di kursinya, menatap dinding ruang kerjanya yang dipenuhi sertifikat dan penghargaan yang kini terasa seperti pajangan tanpa makna. Kakinya seolah disemen ke lantai marmer; ia tidak bisa pulang, tidak bisa beranjak, bahkan tidak bisa memejamkan mata tanpa melihat bayangan wajah Nayla yang terlelap di IGD tadi. Setiap detik detak jarum jam di dinding seolah-olah berubah menjadi palu yang menghantam saraf-sarafnya. Kecemasan itu bermutasi menjadi kegelisahan yang liar, menggerogoti logika yang selama ini menjadi kompas hidupnya. Ia merasa harus melihat wanita itu lagi! Bukan karena tugas medis, melainkan karena jiwanya yang haus akan pemb

