Waktu berhenti bergerak bagi Yiven Mahendra. Empat puluh delapan jam. Jangka waktu itu terasa seperti pengulangan neraka yang ia lewati enam tahun lalu, namun kali ini, ia tidak sedang menunggu kepastian kematian di ruang tunggu yang dingin. Ia sedang menunggu kebenaran yang jauh lebih menakutkan daripada maut itu sendiri. Kebenaran yang memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali hantu atau justru membunuh sisa-sisa kewarasannya yang terakhir. Yiven sama sekali tidak meninggalkan rumah sakit. Kakinya seolah telah berakar pada lantai marmer ruang kerjanya. Ia menghabiskan sisa harinya di kantor, terkunci dalam kesunyian yang mencekik, mencoba menyusun alasan logis untuk menolak apa yang baru saja ia lihat, dengar, dan rasakan. Namun, logika medisnya yang tajam kini tumpul menghadapi rent

