BAB 12 - Taruhan Terlarang

1111 Words
Yiven berjalan kembali ke ruang makan privat yang ditempati Nadine, wanita kesekian yang berusaha dijodohkan dengannya oleh sang ibu. Udara dingin dari AC ruangan itu terasa mencekik, seolah menolak keberadaannya. Yiven berhenti sejenak di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam. Wajahnya yang tegang dan penuh gejolak emosi harus segera ditukar dengan topeng datar dan sopan yang selalu ia kenakan di hadapan orang lain. Nadine sedang menyesap latte-nya dengan elegan. Ia mendongak dengan tatapan bertanya ketika Yiven kembali duduk di hadapan meja yang baru saja mereka tinggalkan sepuluh menit lalu. "Nadine," Yiven memulai, suaranya terdengar formal dan sedikit kaku. "Maaf. Tapi sepertinya pertemuan kita harus diakhiri sampai di sini." Nadine meletakkan cangkirnya perlahan. Ekspresinya tidak menunjukkan kekecewaan, hanya sedikit rasa ingin tahu yang terselubung. "Ada urusan mendadak, Yiven?" Yiven mengangguk, mengarang skenario dengan lancar. "Ya. Ada pasien gawat darurat yang membutuhkan saya segera, untuk konsultasi terkait operasi besok. Saya harus segera kembali ke rumah sakit. Ini mendesak." Nadine tersenyum tipis, senyum yang terasa terukur dan profesional. "Ah, saya mengerti. Tentu, urusan pasien lebih penting. Saya harap operasi besok berjalan lancar." Ia mengambil kartu namanya dan menyodorkannya ke Yiven. "Mungkin kita bisa melanjutkan percakapan kita yang tertunda ini, lain waktu. Tentu saja, setelah urusan pekerjaan Anda selesai." Yiven menerima kartu itu tanpa melihatnya, memasukkannya ke saku jas. "Terima kasih atas pengertiannya, Nadine. Suatu kehormatan bertemu dengan Anda." Setelah pertukaran basa-basi yang terasa seperti negosiasi bisnis alih-alih kencan buta, Yiven bangkit dan meninggalkan ruangan. Langkah kakinya, yang semula cepat dan terarah, mendadak melambat ketika mencapai lorong utama. Di sana, tiga pintu di depannya—ruang ketiga dari ujung koridor—adalah pintu yang tak berani ia tatap lurus. Ruangan di mana tadi ia melihat Nayla sempat masuk sebelum menghilang di balik pintunya. Yiven berjalan perlahan, kepalanya miring sedikit ke kanan, matanya seperti kamera yang berusaha menangkap bayangan sekilas di balik tirai tebal yang menutupi kaca pintu. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ia hanya ingin melihat wajah Nayla, yang serupa dengan orang yang ia rindukan, sekali lagi. Dia tidak melihat apa-apa. Ruangan itu terlihat kosong, atau mungkin pandangannya terhalang sudut. Yiven tiba-tiba berhenti total. Dia sadar, berdiri di tengah lorong malam-malam, mencuri pandang ke ruangan kosong, hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan. Dia menyadari betapa konyolnya tindakannya. Yiven seolah berubah menjadi penguntit yang mengejar bayangan masa lalu. Rasa jijik pada dirinya sendiri muncul. Ada apa denganku? gumam Yiven frustrasi. Ia segera berbalik, memanggil sopir pengganti, dan pergi. Mobil hitam mewah itu melaju tenang membelah jalanan malam Jakarta. Lampu-lampu kota yang bergerak cepat di balik kaca jendela mobil terasa seperti rentetan waktu yang berputar mundur. Yiven menyandarkan kepala, memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Pandangannya kosong, menembus lapisan kaca, dan jatuh jauh ke belakang. Yiven teringat tahun kedua kuliahnya, saat ia pertama kali melihat Maria. Saat itu adalah pekan orientasi mahasiswa baru (Ospek). Yiven, yang sudah menjadi mahasiswa senior, sedang tergesa-gesa menuju perpustakaan. Di tengah hiruk pikuk lapangan, di antara lautan almamater berwarna biru tua, matanya sempat menangkap sosok seorang mahasiswa baru. Gadis itu berdiri di tengah kelompoknya, tertawa renyah. Senyumnya polos, secerah bintang utara, dan sorot matanya yang ayu memancarkan semangat yang murni. Yiven, yang sudah terbiasa melihat wanita cantik di lingkungan pergaulannya, secara aneh terkesima sesaat. Namun, ia sedang terburu-buru. Ia hanya memalingkan wajah, menganggapnya sekilas kecantikan yang mudah dilupakan. Setahun berlalu. Sosok gadis itu muncul lagi. Kali ini, pemandangan itu jauh berbeda. Di sudut kantin kampus yang ramai, Maria—nama gadis itu—duduk sendirian. Wajahnya menunduk dalam, memakan nasi ramesnya tanpa bersuara. Ia terlihat terisolasi, dijauhi, dan dikucilkan, padahal setahun lalu Maria adalah pusat perhatian yang akrab dengan teman-temannya. Tiba-tiba, suara tawa nyaring memecah fokus Yiven. Ia duduk satu meja dengan Andre, Mikael, dan satu teman mereka yang lain—semuanya teman satu angkatan yang secara fisik dekat, namun secara hati, Yiven sama sekali tidak peduli pada sifat buruk dan kebiasaan mereka mempermainkan wanita. Andre, yang duduk di seberangnya, menyenggol Mikael, dan berbicara dengan nada mengejek yang membuat Yiven memutar bola mata bosan. “Lihat cewek itu, Mikael. Walaupun agak lusuh, tapi dia cantik kan?” celetuk Andre sambil mengulum senyum bej*t. “Sayang, semester lalu, berita tentangnya tersebar. Ternyata dia anak pel*cur. Sejak itu dia dibully mati-matian. Geng-geng perempuan kejam banget, loh. Sampai sekarang dia dikucilin.” Andre tertawa jijik. “Sayang sekali wajahnya padahal cantik banget! Apa aku goda aja? Kasih uang sedikit juga mau kali, tidur sama aku.” Andre dan dua temannya yang ada di situ tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh kebencian dan pelecehan. Yiven hanya diam, tangannya yang memegang garpu mengepal. Dia sama sekali tidak peduli dengan latar belakang Maria. Dia juga tidak punya insting kesatria untuk membela wanita yang tidak dikenalnya. Yiven yang dulu hanya seorang lelaki sinis, yang hanya peduli pada dirinya sendiri. Namun, aneh. Wanita itu seolah terkunci di retinanya sejak detik pertama Yiven melihatnya. Wanita itu berhasil membuatnya penasaran. Yiven sepenuhnya terfokus pada Maria. Pada wajah ayu yang terus menunduk itu, yang seolah berusaha menghilang ditelan bumi. Bahunya tampak begitu ringkih menahan beban tatapan menghakimi dari seluruh kantin. Yiven terus terhanyut memandangi Maria, hingga ucapan Mikael yang datang tiba-tiba menusuk gendang telinganya. “Gimana kalau kita taruhan? Siapa pun yang berhasil meniduri cewek itu dalam waktu sebulan ke depan bakal dapat mobil Maybach milikku.” Mikael tersenyum lebar. Awalnya, Yiven sama sekali tidak tertarik. Mobil sekelas Maybach bisa ia beli dengan mudah, bahkan tanpa perlu beranjak dari kursinya. Itu bukan tantangan. Tapi tiba-tiba, amarah aneh dan dingin menyelimuti dirinya. Yiven tidak rela. Dia tidak rela senyuman yang setahun lalu dia lihat—senyuman polos dan murni, secerah matahari—akan Maria arahkan kepada salah satu dari tiga lelaki b*jingan di depannya. Dia tidak ingin Maria, dengan segala kesedihan yang sudah membebaninya, harus terjerumus lebih jauh ke dalam lumpur hanya untuk memenangkan taruhan nirwana yang picisan. "Aku ikut." Suara Yiven yang dingin dan tegas membuat ketiga temannya menoleh kaget, senyum Mikael seketika memudar. Saat itu, Yiven tidak tahu bahwa taruhan picisan itu adalah gerbang menuju samudera rasa sakit terhebat yang pernah ia arungi seumur hidupnya. Sebuah penderitaan yang terasa lebih dalam daripada tusukan pisau bedah yang membelah dadanya sendiri. “Sudah sampai, Pak.” Suara Pak Supir menyadarkan Yiven dari lamunannya. Cahaya lampu neon di depan pintu rumahnya yang megah, memaksa kenangan itu terputus di tengah jalan. Yiven hanya bergumam terima kasih, menerima kunci mobilnya, dan turun. Ia melangkah cepat menembus pintu masuk, melewati lantai marmer yang dingin, dan buru-buru menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya yang seolah remuk di atas kasur, seolah kasur itu adalah satu-satunya tempat ia bisa merasakan Maria lagi. Tubuhnya terbaring kaku, namun di kepalanya, memori tentang Maria, taruhan Maybach itu, dan senyum yang ia ingin lindungi, terus berputar tanpa henti. ........................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD