Suasana pelataran parkir Rumah Sakit Arga mendadak berubah menjadi panggung yang mencekam. Angin malam yang berembus membawa aroma aspal basah dan dinginnya embun, seolah turut membekukan waktu tepat setelah teriakan parau Yiven membelah kesunyian. Nayla Jenava masih tersungkur. Lututnya yang menghantam semen terasa mati rasa karena syok, namun perih yang menyengat di telapak tangannya yang tergesek kasar menjadi satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak pingsan. Suara teriakan itu—nama itu—adalah sebuah serangan yang jauh lebih mematikan daripada peluru mana pun. "Maria". Nama itu terasa seperti belati yang menusuk punggungnya, menembus lapisan identitas palsu yang ia jahit selama enam tahun, menuntut pertanggungjawaban atas segala sandiwara yang ia bangun dengan darah dan air mata

