Di penghujung visite pertama setelah operasi besar Fiona yang melelahkan itu, atmosfer di dalam kamar rawat kelas satu itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran sunyi. Yiven Mahendra sedang berdiri di sisi ranjang, jemarinya yang terampil memeriksa selang infus Fiona dengan presisi yang mekanis. Namun, di tengah kesunyian yang hanya dipecahkan oleh bunyi bip monitor jantung, Yiven tiba-tiba berujar pelan. Suaranya rendah, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita di sampingnya, seolah ia hanya sedang melontarkan sebaris kalimat tanpa arti ke udara. "Maria dulu tidak suka wangi antiseptik. Dia selalu protes jika harus berada dekat-dekat dengan rumah sakit." Kalimat itu sederhana, dingin, dan sangat personal. Namun, bagi Nayla Jeneva, kata-kata itu laksana mata kail yang tajam, dilempa

