Tiga jam setelah pisau bedah diletakkan dan lampu operasi dipadamkan, dunia bagi Yiven Mahendra masih terasa seperti panggung sandiwara yang sunyi. Ia sengaja mengatur pertemuan dengan Nayla di sebuah ruang konsultasi kecil yang privat, jauh di sudut lorong kardiologi yang sepi. Ruangan itu hanya berisi dua kursi, satu meja kayu, dan aroma kopi yang sudah mendingin—sebuah ruang yang sengaja ia pilih untuk mengisolasi "hantu" yang sedang ia buru. Yiven duduk tegak, namun ia bisa merasakan lonjakan adrenalin yang jauh lebih liar daripada saat ia menjahit katup jantung Fiona tadi. Menghadapi jantung yang berhenti berdetak adalah tugas medis, namun menghadapi wanita ini terasa seperti melangkah ke dalam ladang ranjau emosional yang siap meledak kapan saja. Pintu diketuk pelan, lalu Nayla mel

