Yiven turun ke lantai bawah, mengikuti naluri perutnya yang lapar. Ruang makan Keluarga Mahendra didominasi oleh marmer gelap dan aroma kopi mahal. Di sana sudah duduk Ratna, ibunya, seorang wanita anggun yang memegang kendali sosial keluarga, dan Laura, kakak perempuannya, seorang desainer terkemuka yang ketenarannya sudah mencapai kancah internasional. “Akhirnya kau bangun, Sayang,” sapa Ratna, nadanya hangat namun berbalut nada kritik. Yiven hanya berdeham, mengambil roti bakar, dan mengisi piringnya. Ia mencoba sebisa mungkin mengabaikan tatapan tajam ibunya. “Jadi, tentang Nadine,” Ratna memulai, meletakkan pisau perak di samping piringnya. “Kenapa gagal? Ibu sudah sangat lelah melihatmu terus melajang, Yiven. Nadine itu putri dari klan Pramudya, kariernya di London cemerlang, dia

