Bab 77

1376 Words

Balkon kamar hotel itu terasa tenang. Angin malam Cimahi berhembus lembut, membawa aroma hujan yang masih menyisakan embun di udara. Dari atas, lampu-lampu kota tampak berkerlap-kerlip, seolah ikut menyaksikan pertemuan dua orang yang dulu pernah terhubung oleh cerita sepihak. Alfarez duduk bersandar santai di kursi rotan, cangkir kopinya mengepul di tangan. Najwa duduk di sebelahnya, dengan selimut tipis menutupi pundaknya, sesekali menggigit biskuit kacang yang ia bawa dari rumah. “Masih ingat nggak waktu kita SMA, kamu pernah marah banget pas aku bawain bunga ke lapangan basket?” Najwa tertawa kecil, mengingat momen itu. Alfarez menoleh, menyipitkan mata seolah berpikir. “Marah? Nggak tuh. Aku cuma sok cool biar kamu kapok.” Najwa mencibir. “Sok cool apanya? Kamu tuh jalan aja nggak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD