Bab 58

1508 Words

Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul enam. Matahari masih malu-malu muncul dari balik tirai awan, namun di ruang tamu rumah megah milik Dokter Rizal, Dokter Alvian sudah duduk dengan santai. Berpakaian casual, mengenakan kemeja linen biru muda yang digulung hingga siku dan celana jeans gelap, Alvian terlihat gagah dan rapi—meskipun gayanya santai. Aura dokter muda itu tetap memancarkan kharisma yang tidak bisa diabaikan. Di tangannya, segelas teh hangat yang disuguhkan Bi Ijah mengepul pelan. Nenek Lastri duduk di sampingnya, membuka obrolan ringan tentang cuaca dan taman belakang rumah. Sementara itu, di lantai dua… Zulfa masih terlelap di kasur empuknya. Ia terbangun dengan suara lembut ketukan pintu. “Mbak Zulfa… bangun, Nak. Dokter Alvian sudah datang dari tadi,” ucap Bi Ijah dari

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD