Suasana di halaman rumah besar itu benar-benar memanas. Zulfa telah pergi dalam duka, dan kini hanya tinggal Alvian dan Maya yang saling menatap penuh amarah dan luka. “Apa maumu, Maya?” suara Alvian terdengar rendah namun tajam. “Kamu tahu apa yang kamu lakukan barusan? Kamu menghancurkan masa depan aku!” Maya menggigit bibir bawahnya, menahan isak dan amarah sekaligus. “Maafkan aku, Mas Alvian… kalau kehadiranku mengusik kebahagiaanmu. Tapi aku nggak bisa terus diam. Anakku— anak kita—berhak tahu siapa ayahnya!” Alvian melirik tajam ke arah bocah kecil di samping Maya. “Apa buktinya dia anakku?” Maya menatapnya dengan mata basah namun penuh tekad. “Karena aku hanya berhubungan denganmu, Mas.” Alvian mendengus sinis. “Oh, begitu? Lalu bagaimana dengan Dokter Arga? Jangan kira a

