Bab 59

1873 Words

Pagi itu, aroma kopi dan roti bakar memenuhi udara ruang makan rumah besar di Kemang. Cahaya matahari menyusup lembut dari jendela, menciptakan suasana yang tenang dan penuh kehangatan. Zulfa sibuk di dapur kecil yang terhubung langsung ke ruang makan. Ia menyiapkan dua cangkir kopi hitam dan piring roti bakar dengan olesan mentega dan keju. Setelah selesai, ia membawa semuanya ke meja makan. “Silakan, Ayah,” ucap Zulfa pelan, menaruh cangkir dan piring di hadapan Dokter Rizal. Rizal menoleh, tersenyum hangat. “Makasih, Nak. Wah, kamu rajin banget. Baru beberapa hari tinggal bareng Ayah, rumah ini jadi hidup.” Zulfa ikut duduk di samping ayahnya, senyum kecil menghiasi wajahnya. “Zulfa senang bisa masakin Ayah, walau cuma roti bakar sama kopi.” Rizal tertawa kecil. “Justru karena

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD