Di ruang perawatan eksklusif rumah sakit milik Dokter Rizal, Zulfa duduk di kursi roda menghadap jendela. Matahari sore Jakarta menyelinap melalui tirai tipis, menerangi wajahnya yang pucat dan tatapan kosongnya yang menembus langit jingga. Di belakangnya, Dokter Alvian berdiri, menunduk penuh sesal. “Zulfa…” Zulfa tak menjawab. “Aku tahu aku telah mengecewakanmu. Tapi izinkan aku bicara untuk terakhir kalinya…” Zulfa memejamkan matanya, air mata jatuh pelan. “Mas Alvian, aku sudah dengar semua. Kenan… dia butuh ayahnya. Maya juga butuh pendamping yang bertanggung jawab.” Alvian berlutut di samping kursi roda. “Tapi yang aku cintai… hanya kamu, Zulfa. Tolong… berikan aku satu kesempatan…” Zulfa menggeleng lemah. “Cinta saja nggak cukup, Mas. Hidupmu sekarang bukan hanya tentang

