Rasa penasaran Alfarez tak juga reda, bahkan setelah Najwa mengayuh sepedanya menjauh. Gadis itu… Najwa Aurellia Ramadhani. Nama yang sudah lama terkubur dalam memorinya, namun kini muncul kembali dengan wajah yang jauh berbeda dari gadis SMA yang dulu ia kenal. Dulu, Najwa adalah adik kelasnya di SMA—cerdas, aktif, dan terang-terangan menyatakan suka padanya. Bukan sekali dua kali, tapi hampir setiap kesempatan. Najwa tak pernah menyembunyikan rasa sukanya. Ia sering tiba-tiba muncul di perpustakaan, berpura-pura membaca buku sambil duduk di meja yang sama dengan Alfarez. Kadang-kadang, Najwa bahkan rela duduk berlama-lama di kantin hanya untuk sekadar menyapa. “Mas Alfarez, kamu suka es krim rasa apa?” “Mas, hari ini kamu ganteng banget, deh.” “Boleh nggak aku duduk di sini?” Alfare

