Setelah makan malam selesai, Revan menghela napas dan melihat jam tangannya. “Sudah malam. Saya kembali ke hotel dulu, Rasya,” ucapnya sambil berdiri. “Asisten saya sudah menunggu di parkiran.” Rasya mengangguk sopan. “Siap, Pak Revan. Terima kasih waktunya.” Citra ikut berdiri. “Saya bareng Mas Rasya saja,” ucapnya sambil tersenyum menggoda, matanya melirik Rasya sekilas. Revan hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum pergi ke mobil yang dikemudikan asistennya. Di dalam mobil, Revan hanya diam menatap ke luar jendela, pikirannya kembali pada Kenanga. Rasa bersalah perlahan menggerogoti ketenangannya. Ia membuka ponselnya, mengetik pesan, lalu menghapusnya sebelum terkirim. > “Apakah aku mulai melangkah ke arah yang salah?” pikir Revan. Sementara itu, di mobil Rasya dan Cit

