Bab 56

1462 Words

Setelah beberapa menit berbincang hangat, Revan menepuk bahu adiknya sekali lagi lalu berdiri bersama Kenanga. "Oke, kami balik ke meja, ya. Selamat melanjutkan makan malam romantisnya, Dokter Alvian dan Nona Zulfa," godanya sambil mengedipkan mata jahil. "Kak!" seru Alvian pelan, merasa malu. Zulfa hanya tersenyum kikuk, pipinya memerah, apalagi ketika Kenanga juga menoleh dan berbisik, "Manis, kalian berdua..." Setelah makan malam usai, Alvian dan Zulfa pun keluar dari kafe. Mereka tak lupa menghampiri meja Revan dan Kenanga, membungkuk sopan sambil berpamitan. "Terima kasih, Kak, Mbak Kenanga. Kami pamit duluan, ya." "Hati-hati di jalan," balas Revan, masih dengan senyum penuh makna. Malam itu, udara Jakarta cukup hangat. Lampu-lampu kota berkilauan dari balik kaca mobil yang mel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD