Azan Zuhur berkumandang syahdu, memecah keheningan apartemen yang masih diselimuti sisa-sisa kehangatan pagi. Revan perlahan membuka matanya, menatap Kenanga yang masih terlelap dalam pelukannya. Wajah istrinya terlihat damai, sedikit lelah, namun memancarkan kebahagiaan. Dengan berat hati, Revan perlahan melepaskan pelukan Kenanga, mencoba agar tidak membangunkannya. Kenanga sedikit menggeliat, namun tak sampai terbangun. Revan meraih tongkat yang tersandar di dekat nakas. Dengan hati-hati, ia mencoba melangkah, merasakan nyeri di kakinya, namun tekadnya untuk mandiri lebih kuat. Ia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya, lalu mengenakan pakaiannya. Meskipun lumpuh sementara, Revan tak ingin merepotkan istrinya, apalagi setelah malam yang begitu intim. Ponselnya bergetar. Nam

