Bab 11

1293 Words

Setelah sarapan pagi yang dilalui dalam diam, Kenanga membereskan piring-piring kotor ke dapur. Aroma nasi kuning masih samar tercium di udara, bercampur dengan kehangatan yang baru terasa di antara mereka. Revan masih duduk di sofa, pandangannya terpaku pada layar televisi. Kenanga tahu ini adalah kesempatannya. Ia tak mau membiarkan momen kebersamaan ini berlalu begitu saja. Dengan tekad yang baru, ia mendekati suaminya. "Mas Revan," ucap Kenanga manja, suaranya melunak, penuh kerinduan yang membuncah. Ia menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahu Revan. "Apa?" jawab Revan, nadanya masih datar, namun tak ada penolakan dari tubuhnya. "Maaf, tadi malam Kenanga ketiduran, jadi enggak bisa menjawab panggilan telepon Mas Revan," Kenanga berujar pelan, tangannya bergerak mengusap lembut d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD