Penampilannya pagi ini, tampak sangat cantik sekali. Dia mengenakan celana hitam yang panjang, dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana itu, sedikit dia keluarkan ujung bajunya dan setelah itu, dia memakai jas nya, membuatnya tampak sempurna.
Rambut wanita itu hanya di urai saja. Dia mengambil jepit yang akan menghalangi poni nya untuk bebas bergerak. Setelah penampilannya dianggap sempurna, wanita itu tampak tersenyum senang.
"Aku akan bekerja." Dia mengambil tas nya, melewati dapur, melihat kakaknya yang sedang melapisi roti dengan selai. Saat Alex meninggalkan dapur untuk ke kamar mandi, Dasha langsung mengambil roti itu dan melaju pergi menuju ke bagasi untuk mengambil motornya.
Tak beberapa lama kemudian, Alex kembali, melihat piringnya yang kosong, padahal jelas-jelas tadi dia menaruh roti nya di sini.
"Apa di makan tikus?" Alex menggelengkan kepalanya dengan pelan, sangat tak mungkin sekali rotinya dimakan oleh tikus, lagian rumahnya ini terbilang sangat bersih.
"Aneh."
Sementara itu, Dasha yang sudah sampai ke tempat tujuannya, langsung membuka helm nya. Dia turun dari motornya dan menyiapkan penampilannya. Saat dia akan masuk ke gedung perusahaan itu, Dasha lebih dulu menengok ke arah kaca yang memantulkan penampilan dirinya.
"Sempurna." Dasha memasuki gedung itu, dia menyapa resepsionis yang kemarin mengantarkannya untuk sampai ke ruang HRD.
Dia menghampiri resepsionis itu terlebih dahulu dan berkata, "Apakah kau tahu di mana letak ruang kerja pak bos?"
"Berada di lantai 10, apakah perlu saya antarkan?"
Melihat kalau tak ada lagi resepsionis lainnya di sini, Dasha langsung menggeleng. Tak mungkin juga, meja ini ditinggalkan, takut-takut nanti ada orang asing yang masuk ke dalam perusahaan ini.
"Aku akan mencarinya sendiri." Dia pergi dari tempat itu, memasuki lift nya. Namun, lift itu tampak tak terbuka saat dia menekan tombolnya.
Sepertinya ada orang di dalam sana. Dasha menengok ke arah lift satunya, hanya lift itu yang kosong.
Dia memasuki lift kosong tersebut, saat pintu tertutup, samar-samar dia mendengar namanya yang dipanggil oleh resepsionis tadi. "Ada apa wanita itu memanggil ku?" Bahkan, sempat tadi, Dasha melihat sendiri wajah wanita itu yang sangat cemas saat dirinya memasuki lift ini.
Entah apa yang wanita itu takut, kan.
Saat lift sudah berada di lantai dua, pergerakannya langsung terhenti dan pintu itu terbuka, menampilkan seorang pria dengan penampilan yang sangat rapih sekali saat ini.
Wajahnya tampan, dia memiliki rahang yang indah sekali, juga rambut-rambut halus yang menghiasi rahang itu. Tatapan wajahnya datar, menyorot dirinya dengan tajam.
Dasha meneguk ludahnya dengan kasar, tentu saja dia tahu, siapa pria yang ada di depannya ini. Lantas dia pun melihat ke arah pin nama yang ada di d**a nya, membaca nama tersebut dengn sangat pelan.
Bara Adijaya.
Kabar yang menyebar saat ini kalau Bara adalah sosok pria dingin dan menyeramkan itu ternyata benar. Pria itu bahkan tak tersenyum dan tampak kesal saat dia berada di dalam sini.
Memangnya, kesalahan apa yang telah dilakukannya?
Dia memilih untuk memojokkan dirinya sendiri, agar tak berinteraksi lebih dekat dengan Bara. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk menggoda Bara.
Mereka belum saling mengenal satu sama lain.
"Karyawan baru?" tanya pria itu, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Saya----"
"Harusnya, kau tahu beberapa peraturan yang ada di sini." Setelah mengucapkan kalimat itu, pintu lift terbuka dengan lebarnya dan saat itu, Bara langsung keluar dari raung besi tersebut.
Memang apa salah Dasha? Apakah Dasha telah melanggar satu peraturan pagi ini? Sungguh, Dasha tak mengerti sedikitpun. Dia ikut keluar dari lift, seketika dia mendapatkan beberapa tatapan mata di sini, membuat wanita itu langsung merasakan gugup.
Mengapa dia menjadi pusat perhatian? Sungguh, Dasha merasa tak nyaman sekali saat dirinya menjadi pusat perhatian seperti saat ini.
Dia menarik nafasnya dengan kasar, mengangkat dagunya setinggi mungkin, lalu dia berjalan menuju ke ruang Bara, untuk memperkenalkan dirinya kalau dia adalah sekertaris nya di sini.
Langkahnya terhenti kala seorang wanita memanggil dirinya. Dasha menengok, tangan wanita itu melambai ke arahnya, menyuruh nya untuk mendekat. Dasha mengangguk, langsung menuju ke tempat wanita itu berada dan menatapnya dengan penuh tanda tanya dalam dirinya.
"Ada apa?"
"Aku tahu kalau kau adalah sekertaris baru di sini, tetapi kau harus tahu peraturan yang ada di sini. Lift yang baru saja kau masuki tadi, adalah lift pribadi Bos Bara, dan tak ada satupun orang yang boleh memasuki lift itu, selain Luna, kekasihnya."
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh wanita itu, membuat Dasha langsung terdiam. Apakah tadi, dirinya sudah melanggar sebuah peraturan? Astaga, kebodohan macam apa yang dilakukannya pada hari pertama bekerja ini.
Wajah Dasha berubah menjadi pucat, dia yakin citranya pasti sangat buruk di mata Bara karena telah melakukan kebodohan macam ini.
"Astaga, mengapa engkau begitu bodoh sekali, Dasha." Wanita itu memukul pelan kepalanya dan mengumpat kecil.
"Terimakasih kalau kau sudah memberitahukan aku informasi itu. Aku tak akan masuk lagi ke dalam ruangan tersebut, nantinya." Dasha berbalik, dia menatap pintu yang ada di depannya saat ini.
Bara Adijaya.
Tulisan itu sangat menjelaskan sekali, bahwa ruangan ini adalah milik Bara. Wanita itu mengambil napasnya dengan dalam, tangannya mulai terangkat dan mengetuk pintu itu secraa berkali-kali, hingga tak lama, pintu tersebut terbuka, menampilkan seorang pria yang tampak tak asing di mata Dasha.
"Ada apa?"
"Saya sekretaris baru Anda, Tuan." Dasha menundukkan kepalanya, dia sangat tak kuat sekali dengan intimidasi dari Bara saat ini, sangat menyeramkan sekali.
"Kau bisa langsung masuk." Bara berbalik, dia menuju masuk ke dalam ruangannya dan mengambil tempat duduk di kursi kebesarannya.
Tatapan matanya jatuh pada seorang wanita yang berjalan dengan begitu lambat menghampirinya, membuat dia harus menahan kesal.
Sampai akhirnya, Dasha sudah berada di depannya. "Maaf, tadi saya tak tahu bahwa lift itu hanya milik Anda."
Bara mengangguk, setidaknya wanita di depannya ini sudah sadar akan kesalahan yang baru saja diperbuat. "Tak masalah asal kau tak melanggar nya lagi," ucapnya, membuat hati Dasha merasa sangat lega sekali saat ini.
"Kau bisa memperkenalkan dirimu."
"Nama saja Dasha Reninta, saya adalah salah satu lulusan dari Universitas Indonesia dan ini adalah pengalaman bekerja saya untuk pertama kali."
"Saya harap, kau tak melakukan kecerobohan dan hasil kerja mu baik."
Dasha mengangguk. "Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan."
"Kau bisa langsung ke ruang mu, ada di samping ruangan ku." Bara mengambil sebuah kunci yang ada di laci nya dan melemparkan kunci itu kepada Dasha. "Kau bisa langsung bekerja."
Dasha berbalik, dia hendak pergi dari tempat tersebut, tetapi tanpa sengaja kakinya terkilir membuatnya terjatuh.
Astaga, kecerobohan macam apalagi yang dilakukan saat ini?
****
Dengan susah payah, Dasha menbangunkan tubuhnya, dia menengok ke belakang dan tersenyum kepada Bara yang menatapnya dengan datar tadi. "Maaf, saya tadi hanya terkilir saja."
Tak mendapatkan respon dari Bara, Dasha memilih untuk keluar saat ini. Dia menutup pintu ruangan Bara, tubuhnya bersandar di pintu itu, tangannya memegang dadanya yang naik turun.
Jantungnya akan berdetak dengan sangat cepat sekali.
"Astaga, semoga saja Bara tak ilfeel kepada ku." Entah mengapa, Dasha merasa sangat sulit sekali rasanya saat dia harus berhadapan dengan Bara yang memiliki aura intimidasi yang begitu lekat sekali.
"Aku tak boleh jatuh cinta kepadanya." Dia menarik nafasnya dengan kasar, berusaha untuk menetralkan emosinya saat ini.
Wanita itu menuju pintu yang ada di sampingnya. Dia langsung memasukkan kunci yang telah diberikan Bara tadi, pintu ruangannya itu terbuka, dia memilih untuk masuk dan melihat ruangan yang tampak lenggang ini.
"Sepertinya, aku harus menambahkan beberapa furniture di sini."
Sementara itu, Bara yang tengah berada di dalam ruangannya, hanya bisa menggeleng pelan saja saya dia melihat Dasha yang tampak sangat ceroboh tadinya. Bagaimana bisa dia memiliki sekertaris seperti itu? Sungguh, Bara tak akan berpikir bagaimana wanita itu bekerja dengan kecerobohan.
Untuk kesalahan yang wanita itu lakukan pada pagi hari tadi, maka Bara akan mewajarkan saja. Namun, jika ada kesalahan lagi yang wanita itu kerjakan, Bara tak akan diam, dia akan memecat wanita itu dari tempatnya kerja saat ini.
"Semoga saja, dia tak membuat ku pusing." Bara memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Untuk hari ini, dia hanya perlu membaca ulang beberapa kontrak yang harus ditandatangani nya, tak ada rapat atau peristiwa penting lainnya yang harus dikunjunginya.
***
Jam makan siang telah datang. Dasha yang masih berada di dalam ruangannya, memilih untuk menatap fokus lada laptop yang ada di depannya saat ini. Jadwal dari Bara sudah didapatkannya, dia hanya perlu menyampaikan jadwal itu pada esok hari dan saat ini, Dasha harus mengerti dulu tentang pekerjaannya.
Sampai tak berapa lama kemudian, telepon yang ada di depannya berdering, dia mengambil telepon genggam nya itu. "Dengan Dasha Reninta, ada apa?"
"Bawakan saya makan siang."
Suaranya yang datar itu, tentu saja Dahsa sangat mengenalnya. Dia langsung mengangkat tubuhnya, wanita itu harus menjalankan tugas yang akan diberikan untuk dirinya itu, tugas membawa makan siang.
"Makanan apa yang Tuan butuhkan?'"
"Salad buah, disertai dengan s**u sapi. Kau harus memesan makanan itu ke Restoran Apple."
Dasha menganggukkan kepalanya. Dia langsung meninggalkan ruang kerja nya itu dan memilih untuk membelikan makanan yang Bara butuhkan itu.
Salad buah di Restoran Apple.
Tak mungkin Dasha berjalan kaki hanya untuk membeli makanan itu saja, karena jaraknya sangat jauh, sekitar 5 KM dari tempatnya berada.
Untungnya, Dasha memiliki kendaraan bermotor yang membuatnya bisa cepat sampai ke tempat tujuannya. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, hingga tak beberapa lama kemudian, dia telah sampai ke tempat tujuannya.
Wanita itu memasuki Restoran tersebut dan memesan makanan yang Bara katakan tadi.
Dasha harap, makanan itu didapatkannya dalam waktu yang tak lama.
Dia tak ingin membuat Bara menunggu, hingga membuat pria itu merasa kesal sendiri kepada dirinya ini.
***
12.30
Dasha berlari dengan sangat cepat, dia menuju ke ruangan Bara dan langsung masuk, tanpa perlu mengetuknya dulu. Pemandangan yang dilihatnya saat ini, membuat wanita itu terdiam di tempatnya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali dan langsung menundukkan kepalanya.
"Maaf, Tuan, saya telah masuk tanpa mengetuk." Tangan Dasha bergetar saat ini, dia mengesampingkan rasa marahnya saat melihat Luna di sini.
"Kau harus tahu batasan mu. Sudah ada beberapa peraturan yang kau langgar untuk hari pertama bekerja."
Suaranya yang tegas itu, membuat Dasha lagi-lagi merasa cemas. Dia meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Kau bisa menaruh makanan itu ke atas meja sana." Dasha mengangguk. Dia langsung melangkahkan kakinya, menuju ke sebuah meja yang sudah ditunjukkan oleh Bara tadi, dia menaruh plastik tersebut ke atas meja.
Tatapan matanya selat bertemu dengan Luna dan secara susah payah, dia tersenyum kepada wanita yang sangat dibenci nya itu.
"Tunggu!"
Suara itu muncul saat dia hendak keluar dari tempat ini. Dasha membalikkan tubuhnya, melihat Luna yang tadinya berada di atas pangkuan Bara, kini sudah beranjak dan menghampirinya.
"Perkenalkan namaku Luna, aku adalah tunangan Bara."
'Oo, sepertinya dia sedang memperingatinya secara tak langsung.' Dasha tersenyum kecil, dia adalah wanita dan sangat mengerti dengan perasaan kaum nya itu.
"Saya Dasha, sekretaris baru di sini. Kebetulan ini adalah hari pertama saya bekerja." Sebisa mungkin, Dasha menunjukkan sisi ramahanya kepada kekasih dari bos nya ini, agar dirinya tak dicurigai oleh Luna sekarang.
Mungkin Luna lupa siapa dirinya, tetapi tidak untuk Dasha. Dia tak akan pernah melupakan apa yang telah Luna lakukan kepadanya.
"Sepertinya, saya harus kembali ke ruangan. Senang berjumpa dengan Anda." Dasha memilih untuk meninggalkan tempat itu sekarang juga, dia sudah sangat tak tahan berada dalam satu ruangan dengan iblis itu.
"Itu sekretaris baru mu? Cukup cantik, aku harap kau tak terpesona dengannya," ucap Luna seraya melihat ke arah Dasha yang sudah meninggalkan tempat ini. Dia kembali menuju ke tempat Bara dan duduk di pangkuan tunangannya itu.
"Tentu saja, aku tak akan terpesona dengan gadis seperti itu. Dia adalah gadis yang sangat ceroboh sekali, kau tahu ada tiga kecerobohan yang dilakukannya, tepat di depan ku untuk hari ini," papar Bara, tangannya menelusup dan memeluk tubuh Bara saat ini.
"Benarkah? Kecerobohan macam apa yang wanita itu lakukan?" Luna menoleh, melihat wajah Bara yang sudah ada di bahu nya saat ini.
"Pertama, dia masuk ke lift pribadi ku. Kedua, dia terjatuh tepat di depan wajahku dan yang ketiga baru saja terjadi."
Mendengar ucapan dari Bara, membuat Luna tertawa pelan. Dia tak bisa membayangkan betapa lucunya Dasha yang melakukan kecerobohan itu dan ekspresi Bara saat ini, tampak kesal sekali, karena Bara memang tak menyukai sebuah kecerobohan.
"Lalu, mengapa kau tak memecatnya?"
"Aku mendapatkan kabar, kalau gadis itu adalah salah satu lulusan terbaik, dia bekerja dengan cepat bahkan beberapa dokumen ini sudah diperiksanya dengan baik. Tak mungkin aku melepaskan wanita itu, apalagi ini hari pertama dia bekerja."
Tangan Luna terangkat, dia mencubit pelan hidung Bara dan berkata, "Ingat, kau jangan memuji wanita lain selain aku."
Bara terkekeh pelan, dia hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti apa yang dikatakan kekasihnya itu.
Bukankah dia sudah menjadi b***k cinta?