Sore telah datang, memancarkan sinar matahari oranye yang menelusup masuk ke dalam keca jendela ruang kerjanya. Dasha membangunkan tubuhnya, dia merenggangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal sekali saat ini.
Dia menatap pada tumpukan dokumen yang ada di depannya saat ini. Untung saja pekerjaannya sudah selesai dan besok hari, dia hanya perlu memberikan dokumen ini kepada Bara untuk meminta tanda tangan.
"Hari pertama yang melelahkan." Dia mengambil tas nya dan keluar dari ruangan itu. Masih ada beberapa karyawan yang tengah asik dengan pekerjaan mereka masing-masing saat ini.
Dasha tersenyum kepada mereka. Saat ini, dia harus berinteraksi dengan lingkungannya kerjanya dulu.
Saa wanita itu akan masuk ke dalam lift nya, tiba-tiba saja namanya dipanggil oleh seseorang, membuat wanita itu langsung menengok dan melihat Bara dengan Luna di sana.
Diam-diam, Dasha berdecak kesal. Dia hanya ingin pulang dengan tenang, justru dia harus menghadapi dengan iblis itu.
Tak ingin membuat namanya menjadi buruk, Dasha menghampiri mereka dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?"
"Ada beberapa dokumen di dalam ruangan ku. Bawa dokumen itu menuju mobil ku sekarang."
Rasanya, Dasha ingin sekali menolak perintah dari pria itu. Namun, tak mungkin juga dia melakukan hal tersebut, Dasha tentu tak ingin dipecat karena membangkang dengan bos sendiri.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Dia memasuki ruangan Bara dan melihat setumpuk dokumen yang ada di atas meja.
"Aku rasa sudah menjadi babu nya saja," gumam Dasha. Dia mengambil tumpukan dokumen itu dan berjalan dengan sangat lambat, sangat berat sekali barang bawaannya saat ini, membuat wanita itu hanya hanya bisa berjalan dengan sangat lambat sekali saat ini.
Dia berjalan di belakang Bara, tetapi saat mereka memilih untuk masuk ke dalam lift pribadi, Dasha baru saja mengingat bahwa dirinya tak boleh untuk masuk ke dalam lift itu, sehingga dia beralih ke lift lainnya.
"Hey, kau mau ke mana "
Langkah Dasha berhenti, dia menjawab, "Ke lift."
"Kau masuk lift sini."
"Namun---"
Ucapan Dasha terhenti kala dia merasakan tatapan tajam dari Bara, membuatnya tak bisa berdalih. Wanita itu mengangguk dan masuk ke dalam lift itu.
Percayalah, saat ini Dasha merasa menjadi nyamuk saja, mengganggu mereka yang sangat mesra.
Sialan sekali. Ini baru hari pertama kerjanya, terapi kesabarannya memang benar-benar diuji oleh pria itu.
Belum lagi, tangannya yang terasa sangat pegal saat ini, karena membawa beban yang berat.
Pintu lift terbuka, mereka berada di basement saat ini. Bara mengambil kunci mobilnya, dia menekan sebuah tombol yang ada di sana, hingga suara muncul dan menunjukkan di mana letak mobilnya.
Tak terlalu jauh.
"Taruh di kursi belakang."
Dasha menatap pintu mobil yang ada di hadapannya saat ini. Bagaimana cara dia membuka pintu ini jika kedua tangannya saja dipakai untuk memegang setumpuk dokumen ini? Sungguh, aneh sekali.
"Aku akan membantumu untuk membuka pintu ini." Luna membuka pintu tersebut dan tentu saja, Dasha tak tulus mengucapkan kata 'terima kasih' kepada wanita itu.
Mungkin, hanya pencitraan saja yang diciptakan oleh Luna.
"Kau bisa kembali, ingat besok jangan datang terlambat."
Dasha menghembuskan napasnya dengan lega. Dia berbalik pergi dari tempat ini, tubuhnya sudah benar-benar tak tahan berada di tempat ini, dia ingin cepat-cepat sampai ke rumahnya.
***
"Bara, aku rasa seperti mengenal Dasha. Wajahnya sangat tak asing sekali di mata ku. Aku yakin, pasti pernah melihatnya di tempat yang lain." Luna menyampaikan keluh kesah nya. Dia menggigit jarinya, berpikir lagi siapa Dasha sebenarnya.
Namun, usahanya itu berakhir sia-sia. Dia bahkan, tak mengingat sedikitpun tentang pria itu, membuatnya merasa cemas sendiri sekarang.
"Sialan, aku bahkan melupakan siapa dia sebenarnya."
"Sepertinya hanya seorang yang tak penting. Lagian juga, untuk apa kau memikirkan dia. Dia hanya wanita biasa."
"Namun, aku merasakan firasat buruk."
Bara menggeleng pelan. Tangannya terangkat, dia mengelus pelan rambut Luna, hingga membuat wanita itu menegok.
"Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang, lebih baik kita makan malam bersama, apakah malam ini kau mau menginap di rumah ku?"
Luna tersenyum senang. Saat dia akan menjawab ucapan dari Bara itu, sebuah dering telepon menggagalkannya. Dia mengalihkan pandangannya, mengambil ponsel nya itu.
"Sebentar, Rita menelpon ku."
Bara berdecak kesal saat nama itu diucapkan oleh Luna. Tentu saja dia sangat mengenal siapa itu Rita, wanita yang mengatur seluruh jadwal Luna, hingga membuatnya jarang bersama dengan Luna.
"Halo, Rita. Ada apa?"
Kening Luna mengkerut saat dia mendapatkan jawaban dari Rita. Matanya sempat melirik ke arah Bara, lalu dia langsung membuang mukanya. "Aku tak bisa menghadiri acara itu. Aku lagi bersama dengan Bara saat ini," ucap Luna dengan nada suara yang sangat kecil, berusaha agar Bara tak mendengar ucapannya.
Namun, Bara bukanlah tipe pria yang mudah dibodohi. Meski dia tak tahu apa yang diucapkan Rita, tetapi dia yakin, pasti Rita telah menyampaikan jadwal Luna untuk malam ini, hingga membuat Luna gagal lagi bersama dengannya malam ini.
"Ck, aku tak bisa. Aku bersama Bara. Persetanan dengan acara itu---"
Luna terdiam saat dia mendapatkan ancaman dari Rita. Wanita itu menggigit jarinya dan berucap, "Baiklah, aku akan datang." Dia langsung memutuskan sambungan telepon itu.
"Ada apa?" tanya Bara, dia memperlambat laju mobilnya, karena dia yakin pasti ada sebuah pembicaraan yang membuatnya kesal.
"Malam ini, aku harus menghadiri acara di tempat Bos ku. Anaknya baru saja lulus dari S2 dan seluruh model harus datang ke sana," ucapnya dengan gugup.
"Tak bisa dibatalkan?"
"Tidak. Ini acara yang wajib aku datangi, jika tidak aku akan dikeluarkan dari agensi dan nama mu bisa di Blacklist."
Bara tertawa pelan, ternyata masih ada yang berani mengancam kekasihnya ini. Ingin rasanya Bara bergerak untuk mengancam balik bos dari Luna, tetapi sebisa mungkin dia tak marah sekarang.
"Ya, kau bisa menghadiri acara itu."
"Namun, bagaimana dengan acara malam ini. Kau lupa---".
"Tak masalah, aku mengerti dirimu, kok." Mobil Bara berhenti, tepat di depan sebuah gedung yang mewah di depan sana. "Kau bisa pergi dan acara kita bisa dimundurkan."
Luna mengangguk dengan tak yakin. "Maaf." Sebelum dia meninggalkan mobil itu, Luna langsung mencium pipi Bara.
Setelah melihat Luna yang pergi dari sini, Bara langsung memukul setir mobilnya beberapa kali. "Mengapa kau tak bisa mengalah dengan pekerjaan mu itu?"
Selama ini, Bara berusaha mengerti dengan karir Luna.
Namun, entah sampai kapan. Tentu saja dia memiliki batas kesabarannya dan Bara hanya bisa berharap kalau Luna tak melebihi batas itu.
***
Bara menarik nafasnya panjang, dia sangat marah sekali saat ini, sungguh pria itu membutuhkan sebuah pelampiasan. Langsung saja, Bara menginjak gas mobil ini, dengan kecepatan yang tinggi. Melewati jalan raya yang tampak ramai pada malam hari ini, banyak orang yang menegurnya karena menjalankan mobil dengan ugal-ugalan, tetapi apa Bara peduli? Tentu saja tidak.
Namun, rasa ketidakpedulian Bara akhirnya punah saat tanpa sengaja dia menabrak sebuah motor yang berjalan dengan sangat lambat.
Bara memberhentikan mobilnya. Dadanya sudah naik-turun saat ini, nafasnya berhembus kencang, dia masih belum bisa percaya akan apa yang dilakukannya. Sampai tak berapa lama kemudian, beberapa pria mengetuk pintu mobilnya dengan kuat.
Bara langsung menoleh, saat ini tak ada kesempatan untuknya kabur. Pria itu membuka pintu mobilnya dan mendapatkan satu tonjokkan secara tiba-tiba.
"Apakah kau mabuk? Kau tak lihat bahwa di sini banyak pengendara lain selain dirimu? Sekarang, seorang wanita kau tabrak."
"Maaf, saya akan bertanggung jawab," ucap Bara dengan tegas nya.
Dia langsung menuju ke depan mobilnya, melihat seorang wanita yang saat ini berada di pangkuan seseorang. Motornya telah rusak pada beberapa bagian.
Bara menjatuhkan lututnya. Dia melihat wajah korban nya ini dan seketika, matanya melotot saat dia mengetahui kalau wanita itu adalah Dasha.
"Saya akan membawakannya langsung ke rumah sakit." Bara menggendong tubuh Dasha dan membawanya langsung menuju ke dalam mobilnya.
Dasha sudah pingsan, darah keluar dari pelipisnya, membuat rambutnya menjadi lembab saat ini. Tak hanya itu saja, lutut Dasha dan beberapa bagian lainnya.
Bara mencari rumah akut terdekat untuk membantu menyembuhkan Dasha. Hanya memakan waktu 5 menit, akhirnya dia menemukan juga. Pria itu keluar dari mobilnya dan menggendong tubuh Dasha.
Mulutnya berteriak, memanggil beberapa perawat yang membawakan keranjang rumah sakit. Tubuh Dasha diletakkan di atas bangsal itu, lalu didorong menuju ke UGD untuk pemeriksaan awal.
Bara menunggu di depan ruangan itu dengan cemas. Kakinya tak pernah berhenti melangkah, bolak-balik. Menunggu adalah sesuatu hal yang paling tak disukainya.
"Semoga saja dia tak kenapa-napa." Bara mendudukkan dirinya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Saat pintu UGD itu terbuka, Bara langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu. "Apa yang terjadi dengannya?"
"Dia hanya mengalami pendarahan, kemungkinan besar besok dia akan sadar."
Beberapa perawat keluar dari UGD dengan mendorong ranjang rumah sakit yang Dasha tempati. Bara mengikuti langkah mereka, menuju ke sebuah ruang rawat inap.
Namun, sebelum itu dia haus menghubungi saudara terdekat Dasha dulu. Harus ada sesuatu yang kini diurusnya, untungnya dia memegang ponsel Dasha dan mencari kontak nomor dari wanita itu.
Kak Alex.
Langsung saja Bara menghubungi nomor tersebut, telinganya mendengar suara seorang pria yang sangat cemas saat ini. "Adikmu sedang di rumah sakit, mengalami kecelakaan. Saya harap, kau bisa datang ke Rumah Sakit Medina saat ini."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, langsung saja Bara memutuskan sambungan telepon. "Saya titip sebentar dia, kebetulan ada beberapa hal yang harus saya urus," ucap Bara kepada beberapa perawat di sana.
***
Alex berlari dengan kencangnya, dia melewati lorong-lorong rumah sakit itu dengan kecepatan yang tinggi. Pria itu menatap pada pintu yang berada di depannya.
Alex yakin sekali kalau adiknya berada di dalam sana. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar, tangannya terangkat dan dia mulai membuka pintu tersebut.
Seorang perawat yang sedang duduk di dekat keranjang tidur pasien, tampak sedang asik memainkan ponsel nya.
Saat merasakan ada seseorang yang datang, langsung saja perawat itu membangunkan tubuhnya. Dia tersenyum kecil kepada Alex yang berada di bingkai pintu.
"Saya kakaknya. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Keadaanya sudah membaik. Kemungkinan besar, dia akan bangun di esok hari."
"Lalu, siapa yang menabrak dia?" tanya Alex dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dia sangat tahu bagaimana adiknya yang sangat tak mungkin menaiki motor secara ugal-ugalan, pasti ada sesuatu yang menyebabkan Dasha terjatuh.
"Untuk saya tidak tahu. Namun, tadi ada seorang pria yang menghantarkan dia, mungkin saja Anda bisa mengetahui dari dia."
Alex mengangguk paham, saat perawat itu pergi, dia langsung menghampiri adiknya. Matanya menatap pada infus, di mana cairan merah yang berada dalam kantong itu.
"Apa yang kau lakukan? Kau membuat kakak mu ini cemas sekali.'' Alex memegang tangan adiknya itu. Tak pernah sekalipun dia melihat adiknya yang berada dalam situasi seperti ini.
"Maaf."
Alex mengerutkan keningnya. Dia menengok ke belakang, matanya berkedip beberapa kali saat dia melihat seorang pria yang tengah berdiri di dekat pintu saja. .
Bara.
Mengapa bos dari adik nya itu berada di sini?
"Ada apa?"
"Aku tadi tanpa sengaja menabraknya." Bara berucap dengan jujurnya. Dia sudah siap jika mendapatkan amukan dari pria yang ada di depannya ini karena telah menyakiti Dasha.
Melihat kalau Alex tak bereaksi sedikitpun, membuat Bara bertanya-tanya.
"Kau harus bertanggung jawab," ucap Alex dengan wajahnya yang datar. Dia pandai menyimpan emosinya, sampai-sampai Bara tak menyadari bahwa saat ini, tangan Alex tengah mengepal dengan sangat kuat sekali, tetapi mengingat akan dendam dari adiknya, membuat Alex lansgung mengurungkan niatnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Merawatnya." Tampaknya, Bara masih tak mengerti dengan ucapannya itu, membuat Alex hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. "Aku memiliki sebuah pekerjaan yang ada di luar negeri dan lihatlah keadaannya, dia dalam keadaan seperti ini, tak mungkin aku meninggalkannya sendiri. Oleh karena itu, aku meminta tolong kepada mu untuk menjaga dia semasa aku pergi."
Bara berdecak kesal. Inilah yang paling sulit untuknya.
"Hanya sampai dia sembuh saja, setelah itu dia bisa keluar dari rumahmu." Alex berusaha membuat kata-kata yang persuasif, sehingga membuat Bara terpaksa mengangguk dan menyetujui apa yang baru djsa diucapkan oleh Bara.
"Baiklah, aku akan menjaganya." Bara menjawab dengan terpaksa, dianggap keputusan ini tak akan membuatnya menyesal. Lagian juga, semua ini atas kesalahannya. Jika saja tadi dia fokus dalam mengendarai, maka tak akan ada korban yang didapatkannya saat mengendarai mobilnya tadi.
Yah, setidaknya saat ini Bara mulai merasakan penyesalan.
"Maaf saya jika telah mencelakai adik mu," ujar Bara lagi.
Namun anehnya, Alex sama sekali tak terlihat bahwa dia marah. Hatinya justru merasakan hal yang sebaliknya. "Tak masalah, lagian juga ini hanya kecelakaan yang tak diinginkan," jawab Alex dengan santainya.
Lantas Bara mengerutkan keningnya dengan bingung. "Saya tak menyangka bahwa kau akan memaafkan kesalahan saya dengan sangat mudah."