6. Tinggal Bersama

2010 Words
Dasha meringis kecil, dia merasakan sakit di kepalanya saat ini. Secara perlahan, wanita itu membuka matanya. Dia melihat pada sebuah lampu yang menyinari nya dengan sangat terang sekali, hingga membuat matanya terasa perih. "Di mana ini?" Sungguh, tubuh Dasha terasa sangat lemas sekali, bahkan sangat sulit untuk digerakkan. "Jangan dipaksakan, jika kau sedang sakit." Secara perlahan, wanita itu membuka matanya. Dia menyipitkan matanya, melihat seorang pria yang ada di depannya saat ini. "Tuan Bara?" tanya Dasha, dia mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha untuk memfokuskan pandangannya agar dia bisa melihat objeknya dengan baik. "Ya, ini aku." Dasha menggeleng tak percaya. Untuk apa Bara di sini? Tentu saja Dasha tak memiliki kepentingan dengan pria itu. Namun, apa terakhir yang terjadi sebelum dia tertidur? "Kau kecelakaan dan aku adalah pelaku nya. Maaf, jika aku menabrak motor mu itu." "Hah!" Dasha meringis pelan, dua merasa perih di rahangnya karena secara seketika dia bereaksi tadi. "Ya, apakah kau lupa jika kau baru saja kecelakaan semalam?" Dasha berpikir sejenak. Dia berusaha mengingat kejadian malam tadi, di mana dirinya yang baru saja pulang bekerja, menaiki motor dengan kecepatan yang terbilang stabil, juga dirinya memasang headset di telinganya, hingga membuat wanita itu tak mendengar suara sedikitpun di jalanan. "Lalu, aku terjatuh karena ada yang menabrak motorku." Dasha mengangguk, dia ingat kejadian itu, kejadian yang membuatnya pingsan saat itu juga. Lalu, pandangan Dasha teralihkan. Dia melihat pria itu yang memakai pakaian persis seperti kemarin. "Apakah kau tak bekerja hari ini?" "Tidak." "Kenapa?" "Aku harus menjagamu." "Ada kakak ku yang bisa menjaga ku--- "Kakak mu sendiri yang bilang, kalau dia sedang bekerja keluar kota, hingga berhalangan untuk menemuimu." "Hah." Kakaknya pergi keluar kota untuk bekerja? Pekerjaan kakaknya adalah seorang penulis, yang bahkan tak perlu untuk keluar rumah. Diam, mengendap di dalam rumah, dia bisa menghasilkan uang. Sepertinya, ada yang sedang kakaknya itu rencanakan saat ini. "Kakakmu juga mengatakan kalau kau harus tinggal di rumah ku, sampai sembuh." "No!" ucap Dasha. Ada apa dengan kakaknya itu? Astaga, kakak macam apa yang membiarkan anaknya tinggal dengan pria asing yang bahkan sudah memiliki calon istri. Ini, bukanlah rencananya, tetapi kakaknya itu justru menghancurkan semuanya. "Aku bisa tinggal sendiri di rumah. Lagian juga hanya luka kecil biasa. Jadi, kau tak perlu repot-repot untuk menampung ku." "Tidak, ini adalah amanat. Kau tetap tinggal di rumah ku, bersama ku." Seolah tak menerima sedikitpun penolakan, Bara memilih untuk meninggalkan Dasha. Tangannya mengambil benda pipih berbentuk persegi yang ada di kantong celana nya. Luna telah mengirimkan pesan kepadanya, seperti biasa dia menanyakan kabarnya pagi ini. Tak ingin berkomunikasi dalam bentuk pesan, Bara memilih untuk langsung menghubungi Luna, agar dia bisa mendengar suara langsung suara dari kekasih nya itu. "Morning Luna, apa yang kau lakukan pagi ini?" 'Aku sedang olahraga. Apakah kau sudah makan?' "Belum, mungkin nanti." 'Ingat, kau harus menjaga kesehatanmu agar tak lagi sakit.' Luna berucap dengan sahtat khawatir. Dia tahu benar bagaimana kecerobohan dari kekasihnya ini. "Ya." Seorang wanita datang ke arahnya, membuat Bara langsung menengok. Dia melihat wanita itu membawa sebuah keranjang makanan. Sepertinya, sudah saatnya Dasha untuk makan. "Kebetulan aku ada urusan, aku tutup, ya, teleponnya." Setelah mendengar jawaban dari Luna, Bara langsung memutuskan sambungan telepon tersebut. Dia menghampiri wanita itu. "Ini sarapan untuk Nona Dasha." Wanita itu memberikan satu kotak makan yang terbuat dari alumunium untuk Bara. "Terimakasih." Bara mengambil kotak makan itu dan langsung masuk ke dalam ruang rawat inap yang ditempati oleh Dasha. Wanita itu sedang asik memainkan ponselnya, saat mendengar suara pintu terbuka, dia melihat Bara yang tengah berada di bingkai pintu dengan membawa sebuah kotak makan di tangannya. "Kau harus makan." Bata menghampiri Dasha dan dia mengambil tempat duduk di samping ranjang Dasha. "Aku bisa makan sendiri." Saat tangan Dasha hendak mengambil kotak makan itu, terlebih dahulu Bara menghalanginya dengan menjauhkan kotak tersebut dari Dasha. "Aku akan menyuapkan mu dan tak ada penolakan." Bara mulai membuka kotak makan itu, melihat makanan yang disajikan adalah nasi yang agak lembek dengan sayuran juga buah-buahan. Dia mulai menyuapkan Dasha satu-persatu suapan. Dasha merasa tak puas, Bara hanya menyuapkan setengah makanan saja dalam satu sendok. Dia ingin mulutnya penuh. "Apakah kau tak bisa menambahkan porsi untuk satu kali suapan? Aku rasa setengah sendok itu kurang." Bara menatap lekat Dasha. Selama ini dia sering menyuapi Luna dan kekasihnya itu sangat tak suka makan dengan mulut yang penuh. Sepertinya, Dasha cukup berbeda. "Jika kau tak mau, maka aku saja yang melakukannya." "Tidak." Dengan sengaja, Bara menaruh begitu banyak makanan dalam satu sendok, dia menyeringai dan mengarahkan ke mulut Dasha. Dan wanita itu membuka mulutnya dengan selebar mungkin, hingga porsi besar makanan itu cukup. Mulut Dasha sudah penuh saat ini, terlihat sangat menggemaskan sekali, membuat Bara tanpa sadar tersenyum kecil. Rasanya, dia ingin mencubit pipi Dasha yang gemuk itu. Sungguh, dia merasa sangat tak tahan dengan kegemasan Dasha. "Ayo, suapkan aku lagi." Tiba-tiba, Bara tersadar dari lamunannya. Dia menggeleng kecil, berusaha menghilangkan pikiran buruknya ini. 'Ingat, Bara. Kau sudah memiliki kekasih.' *** Setelah menyelesaikan makannya, Dasha memilih untuk mengirimkan pesan untuk makanya yang laknat itu. Bahkan sampai saat ini saja, Alex belum juga menjawab pesan sebelumnya. Memang sangat sialan sekali. Wanita itu menarik nafasnya dengan kasar. 'Lihat saja kau, aku akan memberikan pembalasan untuk mu setelah ini.' Entah ada maksud apa dibalik perbuatan dari Alex ini dan Dasha harus mencari tahunya. "Bara ... maksud ku Tuan Bara. Apakah aku tak apa-apa jika libur? Bagaimanapun juga aku baru kerja kemarin." "Tak masalah, siapa yang melarangnya?" "Anda tak akan memecat ku, 'kan?" "Tidak." Dasha mengelus dadanya dengan pelan. Kalau begini, maka dia tak perlu lagi melakukan pekerjaan itu. "Namun, gajiku---" "Tenang saja, semuanya aman. Kau akan tetap mendapatkan gaji di akhir bulan nanti." Dasha tersenyum puas. Ternyata,ada dampak positif nya juga jika Alex melakukan itu kepadanya. "Terimakasih, Tuan." Bara mengangguk. Dia melihat ke arah jam. "Apakah kau ingin jalan-jalan ke taman dengan ku?" "Tak masalah. Namun, aku tak mungkin berjalan." "Ada kursi roda." "Baiklah, kalau begitu aku mau ikut." Bara mengambil kursi roda itu, lalu dia menggendong tubuh Dasha, membuat tubuh wanita itu menegang. "Aku bisa bangun sendiri." *** Dasha memperhatikan pemandangan yang ada di depannya saat ini. Cukup indah baginya, bisa mencuci mata dengan melihat-lihat tanaman yang ada di sini. Dia menengok dari kanan dan kiri, ada beberapa perawat juga yang bisa dilihatnya atau pasien lainnya tengah menikmati pemandangan ini. "Kau butuh air?" tanya Bara. Dasha menggeleng. "Tidak." Wanita itu memilih untuk berpikir saat ini. Memikirkan kakaknya yang belum bisa dihubungi juga. Apa jangan-jangan apa yang dikatakan oleh Alex memang benar kalau pria itu sedang ke luar negri? Mungkin cukup mustahil, tetapi tak ada yang tak mungkin, bukan? "Bara." Bara yang fokus dengan ponsel nya, langsung mengalihkan pandangannya. Dia melihat Dasha dengan kening yang mengkerut saat ini. "Apa?" "Kekasihmu, apakah tak marah jika tahu kalau aku menginap di rumahmu itu?" tanya Dasha. "Aku tak akan memberitahu nya." Dasha membulatkan mulutnya. Diam-diam, dia menyeringai kejam saat ini, wanita itu merasa dia mendapatkan sebuah ruang untuk mendekati Bara. Setidaknya, dengan Luna yang tak tahu kalau Bara tengah menampungnya, Luna jadi tak berpikir negatif tentangnya. "Aku tak ingin menanggung risiko. Aku harap, suatu saat nanti, kekasihmu tak melabrak ku karena masalah ini. Aku tak masalah jika harus tinggal sendiri." Dasha berucap, dia harus cari aman saat ini. "Tenang saja, Luna tak akan tahu. Kita akan tinggal di rumah ku yang lain, sehingga dia tak akan mampir ke sana." Dasha menghembuskan napasnya dengan lega. "Baguslah kalau begitu." Setidaknya, dengan begini, dia bisa mendekati Bara dengan bebasnya. "Sepertinya aku ingin kembali saja ke kamar," ucap Dasha. Saat ini, berada di luar terasa sangat panas sekali, keringat telah membanjiri wajahnya, hingga membuatnya tak tahan berada di luar ruangan. Bara mengangguk. Terlebih dahulu, dia mengambil tisu yang tersimpan dengan baik di dalam kantong celana nya dan setelah itu, dia mengelap keringat di wajah Dasha. Dasha terdiam. Dia menatap wajah Bara dengan lekatnya. Mereka berada dalam posisi yang sangat dekat sekali, membuat Dasha bisa melihat dengan jelasnya wajah Bara. Astaga, ternyata pria itu sangat tampan sekali baginya. Alisha nya sangat tebal dengan bentuk rahang yang kokoh juga bibir merah tebal. Pantas saja Luna tergila-gila dengan kekasihnya. Namun, sayangnya saat ini Luna seringkali menyia-nyiakan kekasihnya. Jiwa pelakor Dasha mulai memberontak. Rasanya, dia ingin cepat-cepat memutuskan hubungan Bara dengan Luna. *** "Aku akan pergi sebentar, aku harap kau tak membuat masalah." Dasha menatapnya dengan lekat, lalu dia mengangguk dan membiarkan Bara pergi dari sini, lagian juga saat ini dia membutuhkan sendiri. Setelah melihat Bara yang pergi dari tempat ini, langsung saja Dasha mengambil ponsel nya. Dia menghubungi Alex saat ini, berharap bahwa pria sialan itu mau menjawab teleponnya. Saat suara dering itu diganti dengan suara berat dan serak, hari Dasha terasa lega. Akhirnya, Alex benar-benar menjawab teleponnya, membuatnya merasa sangat lega sekali. 'Ada apa kau menghubungiku?' Mendengar pertanyaan tanpa dosa dari Alex itu, membuat Dasha merasa sangat geram sekali. Apakah pria itu tak kepikiran telah membuat masalah dalam hidupnya? Sangat menyebalkan. "Sialan, apa yang kau lakukan? Kau bahkan menyuruh Bara untuk merawat ku." Terdengar suara tawa dari seberang sana, seolah apa yang baru saja Dasha katakan itu, hanya sebuah lelucon semata yang menarik tawa Alex. "Kau harusnya berterima kasih dengan kakak mu ini. Tanpa adanya diriku, aku yakin kau pasti akan gagal dalam menjalankan misi ini." "Namun, kau terlalu berlebihan. Menyuruh Bara untuk menjaga ku, astaga kalau Luna sampai tahu aku ada di rumahnya, semua rencana ini bisa hancur." 'Tenang saja, tak akan terjadi apa-apa. Percaya kepada kakak, di sana lebih baik kau mendekati Bara lebih bebas lagi, karena ada kesempatan emas ini. Good bye.' Sambungan telepon langsung terputus begitu saja, membuat Dasha menggeram kesal. Dia belum selesai berbicara dengan pria itu dan masih ada pertanyaan dalam dirinya yang membutuhkan sebuah jawaban, tetapi kakaknya itu memang sangat menyebalkan. "Sialan." Dasga menghembuskan napasnya dengan kasar. Di menengok ke arah jam, belum terlalu malam dan tak mungkin dia tertidur saat jam segini. Wanita itu memilih untuk membuka sosial media nya dan tanpa sengaja, dia melihat akun Luna yang lewat di beranda nya. "Ck, ternyata pria itu bertemu dengan Luna." Dia melihat Luna yang berfoto bersama dengan Luna saat ini. Bahkan, mereka terlihat mesra sekali. "Mungkin cukup sulit untuk memisahkan kalian, tapi tak ada yang tak mungkin. Aku pasti bisa." *** "Bara, malam ini aku menginap di rumah mu, ya." Luna berucap. Dia memajukan piringnya, di mana baru saja dia menghabiskan salad sayur yang terasa sedikit pahit bagi lidahnya. Bara tersenyum datar. Dia langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan kepada Luna. Tak mungkin juga pria itu membiarkan Luna menginap di rumahnya, karena dia juga harus menjaga Dasha yang ada di rumah sakit. "Maaf, tetapi aku ada urusan di kantor, sehingga harus lembur dan menginap di kantor." Luna menunjukkan wajah cemberutnya, dia tampak sangat kecewa sekali dengan jawaban yang baru saja Bara ucapkan itu. "Lain kali saja, ya." Dengan terpaksa, Luna mengangguk. Suasana hatinya sudah memburuk saat ini, dia mengambil jus alpukat dan meneguknya hingga habis. "Kau marah kepada ku?" "Tidak," jawab Luna dengan cuek nya. "Luna, kau harus mengerti---" "Kak Luna." Beberapa orang datang dan menghampiri Luna, membuat fokus keduanya teralih, melihat dua pria yang saat ini tampak bahagia karena bertemu dengan Luna. "Ya, ada apa?" tanya Luna dengan suara yang begitu lembut kepada kedua pria itu. Luna yakin, mereka pasti penggemar nya. "Bisakah kami berfoto dengan mu? Kami adalah penggemar mu." "Tidak---" "Bisa!" ucap Luna, memotong perkataan Bara. "Bara, kau tolong, fotokan kami, ya." Rahang Bara mengeras. Dia merasa kesal saat ini. Bagaimana bisa Luna membiarkan pria lain berfoto dengannya? Meski profesi Luna adalah sebagai artis, tetapi ada sebuah privasi tersendiri yang harus Luna jaga. Bara mengambil ponsel Luna, dia melihat dua pria itu yang mulai merangkul tubuh Luna. Rasanya Bara ingin marah sekali dan menghajar kedua pria itu, tetapi saat dia berada di puncak kemerahannya, pria itu melihat Luna yang melotot menatapnya, seolah memperingati dirinya untuk menjaga emosi saat ini. Bara mengambil beberapa foto mereka dengan acak, tak peduli jika hasilnya akan buruk. "Aku rasa, kau harus tahu batasanmu Luna," ucap Bara dengan wajahnya yang datar. Merasa muak berada di sini, Bara memilih untuk pergi. Dia membutuhkan sebuah ketenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD