7. Mansion Luas

2014 Words
Empat hari, hanya membutuhkan waktu segitu Dasha berada di rumah sakit. Hari ini, dia akhirnya keluar juga dari rumah sakit, membuat hati Dasha terasa sangat lega sekali. Dia tak terkurung lagi di rumah sakit yang mendominasi bau obat-obatan ini. "Kau tampak senang sekali," ucap Bara, dia memperhatikan raut wajah yang Dasha tunjukkan hari ini, bahkan senyum manis itu tak kunjung terbenam sampai saat ini. Dasha memandang dirinya. Dapat Bara lihat sebuah lesung pipi yang membuat wajah Dasha tampak menggemaskan. "Tentu, aku sangat tak tahan di sini. Kau tahu, aku sendiri ingin bekerja mulai besok." "Namun, kaki mu belum sembuh." "Kata siapa?" Dasha membangunkam tubuhnya. Kakinya berdiri di atas lantai yang terasa dingin. "Lihat ini!" Dasha mulai melompat dengan tinggi nya, membuat Bara melotot melihat itu. Dia langsung datang dan menghampiri Dasha, memegang bahu wanita itu agar menghentikan aksinya yang membuatnya ngilu. "Sudah." Dasha menurut, dengan senyum yang tampak tak bersalah itu, dia berkata, "Kau lihat bukan, aku sudah sehat." "Ya." "Kalau begitu, aku bisa bekerja besok." Jika Dasha pikir-pikir, dia merasa sangat bosan sekali jika tak melakukan aktivitas sedikitpun. Wanita itu ingin menghabiskan waktunya dengan melakukan kegiatan yang tampak menyenangkan dan bermanfaat, daripada hanya duduk atau tidur tak jelas yang bahkan tak memiliki manfaat baginya. "Namun, kau harus ingat, kalau kau tak boleh untuk cepat lelah. Saat ini, tanggung jawabmu ada di tangan ku." Dasha mengangguk. Setelah itu, mereka sama-sama keluar dari ruang rawat inap nya Dasha itu, menuju ke basement yang berada di lantai paling bawah. Mereka memakai lift untuk mengantarkan ke basement. "Di mana mobil mu?" Bara mengeluarkan kunci nya dan menekan sebuah tombol yang ada di sana, hingga satu mobil mengeluarkan sebuah bunyi yang mengagetkan Dasha. "Ayo, ke sana." Dasha menurut. Dia masuk ke dalam mobil Bara yang tampak mewah ini. Hanya ada dua kursi saja yang tersedia di sini, membuat Dasha semakin kagum dengan tempat ini. "Perjalanan mungkin menghabiskan waktu 30 menit, kau bisa tidur untuk mengisi waktu selama itu." "Sejauh itu ternyata." Dasha mulai menyandarkan tubuhnya. Dia juga merasa sangat lelah sekali dan sepertinya, membutuhkan tidur saat ini. "Baiklah, aku akan tidur sebentar saja." *** Bara menghentikan laju mobilnya. Dia menatap mansion yang ada di depannya ini. Mansion yang jarang ditempatinya, tetapi ada beberapa pelayan yang bertugas untuk selalu menjaganya. Tak ada yang tahu tentang mansion ini, bahkan Luna sekalipun. Niatnya, Bara akan mengajak Luna untuk tinggal di mansion ini, setelah mereka menikah nanti. Namun, entahlah, apakah wanita itu akan setuju dengannya atau tidak. Apalagi, letak mansion ini berada di tempat yang cukup jauh dari perkotaan. Hanya ada pepohonan lada kiri juga kanan rumah sekitar sini, membuat siapa saja akan memilih untuk meninggalkan tempat ini. Namun, berbeda dengan Bara. Dia justru menyukai tempat ini, karena ada sebuah ketenangan di dalamnya. "Semoga saja, Dasha tak membuat sebuah masalah." Ada rasa takut dalam diri Bara, dia takut kalau Luna tahu jika dia menampung seorang gadis di rumahnya, pasti wanita itu akan marah kepadanya. Namun, Bara juga harus ingat akan janjinya dan dia memiliki sebuah tanggung jawab yang sangat besar dan tak bisa kabur dari tanggung jawab itu. Lagian juga, kakak Dasha sendiri yang sudah menitipkan wanita itu secara langsung dan Bara tak bisa menolaknya. "Ayo, kita keluar." Dasha mengangguk. Dia keluar dari mobil ini. Wanita itu berdecak kagum melihat bangunan yang ada di depannya, sungguh indah sekali di matanya, apalagi letak bangunan ini bisa dibilang berada di tengah hutan, membuat sebuah ketenangan datang menghampirinya dan membuatnya menjadi lebih tenang. "Aku baru tahu, kalau ada seseorang yang membuat rumah ini di tengah hutan," ucap Bara. "Rumah ini membuat ku tenang." "Kau benar. Aku senang kau mengajakku ke sini." Dasha melihat beberapa pelayan saat ini yang tampak asik bekerja, sepertinya Dasha tak akan sendiri di sini. Hatinya cukup tenang, dia memiliki teman bicara di sini. "Ayo, kita masuk." Bara memegang tangan Dasha, mereka memasuki rumah itu. Pintu itu langsung terbuka tanpa aba-aba, membuat Dasha terkejut. Dia melihat dua pelayan yang membuka pintu itu, menunduk dengan hormat kepada mereka. "Tampak sangat ramah sekali mereka di sini," ucap Dasha. Dia melihat desain interior rumah ini, sangat mewah baginya. Didominasi oleh warna putih dan silver, juga beberapa furniture yang membuat tempat ini tampak lebih estetik daripada sebelumnya. Dasha tak menyangka bahwa selera Bara akan semewah ini. Dasha mengira kalau Bara menyukai sesuatu yang gelap, seperti sifatnya, cukup tertutup. "Kamarku ada di lantai 2. Alma bisa mengantarmu." Seorang pelayan yang tampak sudah berumur datang, menghampiri mereka. Wanita yang Dasha perkirakan memiliki umur 50-an itu, tampak tersenyum dengan penuh hormat kepada dirinya. "Alma, kau antarkan dia ke kamarnya dan kau temani dia juga." Alma menurut, dia mengajak Dasha untuk pergi dari tempat ini. Dengan menaiki satu-persatu anak tangga, akhirnya mereka telah sampai di lantai dua. Ada di lorong di sini dan Alma mengajaknya untuk mengambil lorong kanan, dimana ada beberapa pintu juga di sana. Sungguh, Dasha merasa kalau dirinya sedang berada di dalam hotel saja. "Rumah ini sangat mewah sekali," ucap Dasha dengan penuh rasa kagum nya. Dia melihat-lihat tempat yang menurutnya bagus ini, bahkan tak ada celah sedikitpun untuk dirinya mengkritik. "Ya, Tuan ingin rumah yang membuatnya tenang. Kau tahu, Tuan sering ke sini saat sedang stress memikirkan pekerjaan nya dan hanya Anda yang diajak ke sini" "Ya, aku tahu. Aku dengar, Luna juga belum pernah ke tempat ini?" "Benar. Dulu, Tuan ingin sekali menjadikan rumah ini sebagai hadiah pernikahan nya dengan Nona Luna." Dasha membulatkan mulutnya. Dia yakin, pasti Luna tak akan mau tinggal di rumah ini. Wanita itu tak tahu estetika dan hanya ingin tinggal di rumah yang terletak ditengah kota. Mereka menuju ke sebuah pintu. Alma membukakan pintu itu, membiarkan Dasha melihat kamar yang ada di dalam sana. Cukup menarik perhatiannya ternyata. "Nona bisa tinggal di sini." Alma mengajak Dasha untuk masuk. Dasha berdecak kagum, bahkan kamar ini sangat lebar sekali baginya. Ada beberapa pintu yang Dasha sendiri tak tahu apa isi dalam pintu itu. "Kamar ini dilengkapi dengan walk in closet, toilet, perpustakaan mini juga balkon. Semoga, Anda puas tinggal di sini." Dasha mengedipkan matanya beberapa kali. Astaga, apakah Bara sekaya itu? *** Dasha merasakan tubuhnya yang sangat lengket sekali saat ini. Dia membangunkan tubuhnya, melihat ke arah jam yang ada di tembok dan benar saja, kalau saat ini adalah waktunya untuk mandi. Karena sudah sore. "Waktunya mandi." Dasha memakai sendal nya, lalu dia menatap empat pintu yang tampak asing di kamar ini. Dia bahkan, belum mengecek satu-persatu isi dari pintu itu. Di mana kamar mandinya? Dengan terpaksa, Dasha membuka sebuah pintu yang ternyata adalah kamar mandi. Dia tersenyum senang, sendal yang dipakainya ditaruh ke depan pintu kamar mandi. Matanya menatap pada beberapa botol cairan yang ada di dekat wastafel. "Sabun mandi, sampo, sikat gigi ... astaga, bahkan tempat ini sangat lengkap sekali." Kalau sudah seperti ini, maka Dasha sangat yakin kalau dia akan nyaman tinggal di sini. Wanita itu mulai melakukan ritual mandi nya dan hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, dia telah selesai. Dasha memakai bathrobe nya dan dia keluar dati kamar mandi. "Astagfirullah." Dasha berucap saat dia melihat ada Bara yang sedang duduk di atas ranjangnya. Dia memeluk tali bathrobe nya dengan erat, berjaga-jaga kalau dia tak akan diapa-apain oleh pria itu. "Mengapa kau ada di sini?" Bara tertawa kecil saat dia melihat wajah Dasha yang menurutnya sangat menggemaskan. "Aku hanya ingin memberitahu mu, jika nanti malam ada pekerjaan untuk mu." Dasha mengangguk. "Bisakah kau keluar? Aku akan mengganti baju." "Oke, aku akan keluar. Senang bertemu dengan mu." Bara datang menghampirinya, membuat Dasha melangkah mundur. Mengapa dia semakin gugup saja jika Bara meneekatinya? Dia merasa terancam saat ini. "Mengapa kau mendekat?" Tangan Bara terangkat, dia mengelus sebentar wajah Dasha dan hingga di kepala wanita itu. "Ada buih sabun di wajah juga rambut mu," bisik Bara, seraya menunjukkan butuh sabun di tangannya. Dasha mengangguk percaya. Dia tadi sudah berpikir kotor saja tentang Bara. Lagian, kenapa aksi pria itu terlihat sangat s*****l, membuatnya berpikur yang aneh-aneh. "Aku akan keluar, aku tunggu mu di ruang makan." Setelah melihat Bata keluar dari kamar ini, langsung saja Dasha mengunci pintunya, berjaga-jaga agar Bara tak masuk ke tempat ini lagi secara sembarangan. Dia menghembuskan napasnya dengan lega. Wanita itu mengelus sejenak dadanya. "Mengapa pria itu menghantui ku?" Dasha memilih untuk langsung menuju ke walk un closet yang berada tepat di samping toilet. Dia melihat bebebrapa baju yang telah tersusun dengan baik di sini. "Sepertinya, baju-baju ini untuk Luna." Dasha tersenyum licik. Dia tak peduli jika saat ini, wanita itu mengambil seusatu yang dimiliki Luna. Bukankah Luna melakukan hal yang sama saat masa lampau? Dasha mengambil salah satu celana hotpants juga kaus putih. Rambutnya sengaja diuraikan, lalu setelah dia keluar dati kamar. Dasha sudah cukup hafal jalanan yang ada di sini, hanya berjalan lurus melewati lorong ini, dia sudah menemukan tangga. Mata Dasha melihat keberadaan Bara yang tengah terduduk di meja makan malam ini, dengan sebuah tablet yang menemaninya. Dasha menghampiri pria itu. "Duduk!" perintah Bara. Dasha mengambil tempat duduk yabg ada di sebelah Bara. Dia melihat beberapa makanan yang terlihat lezat di matanya. Beberapa pelayan datang dan menyajikan makanan langsung untuk mereka. Dasha tersenyum senang, mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah membantunya. "Untuk malam ini, aku ingin kau menyalin semua dokumen yang sudah aku kirim ke laptop yang ada di kamar mu dan dokumen itu harus di cek ulang." "Baik." Dasha mulai menikmati makananya. Dia sempat menengok ke arah Bara yang bahkan sampai sat ini masih asik dengan tablet nya. Dasha duduk tak tenang, dia tak suka situasi seperti saat ini. Wanita itu mengunyah makanan nya dengan cepat dan berkata, "Kau tak makan?" "Nanti saja." "Tak baik, makanan dianggurin seperti ini. Apakah ingin aku suapi?" tanya Dasha disertai dengan sedikit godaan. "Coba saja kalau kau berani." Dasha mengedipkan mataya beberapa kali, niatnya hanya ingin mengancam pria itu, tetapi sepertinya Bara mulai menantangnya. Wanita itu menyeringai, dia mengambil piring yang ada di depan Bara dan meraih satu sendok makanan. "Buka mulut mu." Bara menengok. Dia membuka mulutnya dan membiarkan makanan itu masuk. "Aku tak menyangka kau seberani ini kepada bos mu sendiri." Dasha tertawa kecil. "Kau bos ku saat di kantor saja." "Kau memang wanita yang menyebalkan," ucap Bara disertai dengan tawa kecilnya. Kedekatan mereka yang terjalin, membuat para pelayan bertanya-tanya. Bukankah tuan nya itu sudah memiliki kekasih? Sungguh, Bara tampak sangat mesra sekali saat dengan Luna. Entah apa yang Luna lakukan jika mengetahui kalau Bara tengah dekat dengan seorang wanita saat ini. 'Mungkin wanita itu akan mengamuk.' *** Dasha mengelilingi pandangannya, dua berusaha mencari keberadaan laptop saat ini. Laptop yang dikatakan oleh Bara tadi. Wanita itu menatap fokus pada sebuah meja. Dia mengampiri meja itu dan melihat sebuah benda yang berbentuk persegi di sana dengan sebuah lambang apel yang terpotong sebagai logo nya. Dia mengambil laptop tersebut dan membawanya ke atas ranjang. Dengan posisi tengkurap, dia mulai membuka laptop tersebut. Terdapat pesan yang terkirim untuknya. Pesan itu pasti dari Bara uang mengirimkan file kepadanya. Dia mulai mengecek file itu, dengan jumlah halaman 20, membuat Dasha hatus membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membacanya satu-persatu halaman. Tak boleh ada kekeliruan yang dilihatnya, membuat wanita itu harus benar-benar berhati-hati. Tentu saja dia tak ingin membuat Bara marah kepadanya hanya karena sedikit masalah. Hingga tak terasa, waktu berjalan dengan sangat cepat. Saat ini sudah pukul 22.00 dan matanya mualu mengantuk. Sepertinya, segelas kopi akan membuatnya tak mengantuk untuk malam ini. Namun, Dasha merasa sedikit segan untuk keluar dari kamar. Dia menggigit bibirnya. Pikirannya teringat dengan kata-kata yang diucapkan langsung oleh Alma untuknya. 'Anggap saja tempat ini sebagai rumah mu, jadi jangan ragu untuk keluar dati kamar.' Mengingat itu, membuar rasa tak yakin yang tadinya berada dalam diri Dasha mulai menghilang. Dia akan sebdiri mencoba intuk keluar dari kamar ini. Wanita itu membangunkan tubuhnya. Dia mulai keluar dari kamar ini. Langkahnya menuju ke lantai satu, dia harus berhati-hati berjalan saat ini, suasana yang ada di tempat ini sangat gelap sekali, membuatnya harus berhati-hati. 'Luna, kau berada di mana!' Suara dengan nada tinggi itu membuat Dasha terkaget. Dia langsung menengok ke arah sebuah sofa, di mana ada Bara di sana. "Ada apa dengan pria itu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD