4. Titip🐆

931 Words
"WHAT THE HELLL...?!" "Jangan teriak!" "Ayah apa-apaan sih? Rachel bukan anak bocah lagi, ya! Rachel udah gede ngalahin Zafran!" "Terus?" Rachel mengeram kesal. Ayahnya habis kepentok pintu atau gimana? Masa ia yang sudah berumur 20 tahun masih harus dititipkan? WHAT THE HELL?! "Ayah gak mau tahu, pokoknya, Rachel harus nurut, karna Ayah bakal pergi selama 3 bulan. Ayah gak akan tenang jika kamu sendiri tanpa pengawasan, karna Rachel bakal mulai ke club," ucap Vino sambil berkacak pinggang didepan Rachel yang sedang duduk anteng diatas kasur. "Tapi, nanti kalo udah pulang, Rachel minta mobilnya Bunda ya, Yah?" "Dalam pengawasan," balas Vino yang dianggukki Rachel dengan cepat. Akhirnya... impiannya bisa terkabul. Memiliki mobil legend sang Bunda yang sudah termodif dengan mesin yang membuat jiwa para pembalap meronta-ronta ingin keluar. Masih ingat dengan mobil Lykan milik Syifa yang ia sembunyikan tapi ketahuan? Itulah mobil impiannya. "Sekarang bereskan kopermu 2 jam lagi kita berangkat." 2 jam? Katanya besok? Kok jadi 2 jam? Yang gila ia atau Ayahnya sih?! Kok buat emosi. Selang beberapa puluh menit kemudian, akhirnya beres-beresnya selesai, 1 koper jumbo yang berisi pakaian dan 1 koper sedang yang berisi kebutuhan kampusnya, buku. Ia menyiapkan tas ranselnya dan diisi dengan Carger, Powerbank, ponsel, obat-obatan, dan beberapa kotak yang berisi permen karet. Rachel menatap pantulan dirinya dicermin,  celana pendek setengah paha dengan atasan hoodie yang kebesaran sampai menutupi celananya bukan penampilan yang buruk. Ia menyatukan rambut panjangnya yang sampai kepinggang dan menjadikan 1 dibelakang kepalanya dengan penjepit rambut sebagai penahan agar rambutnya tak berantakan. Hingga ia menutup kepalanya dengan penutup hoodie lalu memakai tas ranselnya dan menyeret kedua kopernya keluar kamar menuju ruang tamu. $$$$ Disinilah ia sekarang, terdampar disebuah kamar yang bernuansa warna biru laut yang menenangkan. Ia menatap layar ponselnya lalu mengetikkan sesuatu pada sepupu laknatnya untuk menelfone. Ia sudah membereskan semuanya, kini ia tinggal istirahat dan kembali kuliah diesok harinya. Tak lama, suara dering telfone yang menyanyikan reff Love Warning dari Third k******e terdengar, dengan cepat, Rachel menjawab panggilan itu seraya menyisir rambutnya. "Kenapa, Pret? Kangen gue?" "Amit-amit gue kangen elo, Ar. Besok jemput gue, ya?" "Bantuin gue bujuk Bapak gue, ya?" "Lha? Emang Bapak lo kenapa?" Tanya Rachel dengan alis berkerutnya. "Gue disuruh Kinan buat lanjutin study di NY," ucap Arnold dari seberang. Emang kebiasaannha Arnold kalo kesel atau marah nyebut orang cuma pake nama doang, gada akhlak emang. "Ya kan itu semua karna elo sendiri, Bujang. Coba kalo lo dulu ambil kedokteran, pasti kagak dibuang kesono," ucap Rachel berjalan keluar kamar, ia merasa haus ingin merasakan yang seger-seger. "Apa jadi rumah gue, Kampreta?! Emak sama Bapak gue dokter semua, ditambah gue kalo jadi dokter? Rumah sakit pindah dirumah gue!" "Iya deh iya, yang hasil buat amoeba dokter mah beda, tapi kan Bapaknya juga bisnis, Sayang, bantuin Bapak negara," ucap Rachel sambil membuka kulkas dan mengambil sebuah kaleng lalu ditenggaknya. Sudah biasa memang jika Arlond dan Rachel ngobrol dan membahas itu, mereka akan menyebut Vino sebagai Bapak Negara dan Haris menjadi Bapaknya, entah Bapaknya siapa, mereka tak peduli akan hal itu. Tanpa Rachel sadari, Sang pemilik rumah menatapnya dengan sebuah smirk andalannya, ia kemudian berbalik dan menuju kamarnya, ia- Adalah Zion. Iya, Zion, sipemilik rumah yang siberi titipan oleh Vino. "Wellcome go to hell." ###### "Kamu tidak kuliah?" Tanya Zion saat ia selesai dengan sarapannya. Rachel menggeleng pelan dan menjawab, "Sore, jam nya Pak Rahmat." "Nanti kalo mau kekampus tolong ambilkan paket saya diruangan sekretariat, soalnya datangnya sore," ucap Zion sambil merapikan kemejanya dan langsung pergi beranjak keluar. Tapi, sebelum ia keluar dari ruang makan, ia mengacak rambut Rachel dan bilang, "Jangan keluyuran jauh-jauh." Jangan ditanyakkan bagaimana reaksinya. Rachel membuat sebuah goa yang kemungkinan untuk nyamuk menetas. Ia cengo. "Dosen k*****t," geramnya kesal. Setelah menyelesaikan makannya, Rachel segera kekamar dan bersiap untuk pergi hengkang dari rumah terkutuk itu, just kidding. Ia hanya pergi jalan-jalan bersama Arnold and the geng. Katakan sayang mengapa begini Sikapmu sungguh membingungkan hati Jika kau inginkan aku pergi Aku siap jika harus angkat kaki Cobalah sayang berfikir dewasa Kita harus benahi hubungan kita Jujur, dan katakan ada apa Lalu kita cari jalan keluarnya Rachel bersenandung kecil sambil berlari keluar mansion, menunggu jemputan dari Arnold. Ia berdiri didepan gerbang mansion dibawah pohon sekalian berteduh, tak lama sebuah pajero berhenti didepannya membuatnya langsung girang dan masuk kedalam mobil dengan cepat. "Nanti langsung kekampus kan?" Tanya Rachel yang duduk disamping Arnold sang pengemudi. "Pak Zion gimana, Chel?" Tanya Arnold melirik sepupunya yang anteng dengan ponsel. "Baik sih, cuma doi ngeselin," jawab Rachel dengan raut wajah yang terlihat kesal dan ketidaksukaan. "Kalo dia macem-macem sama lo bilang ke gue ya, Chel. Biar gue yang kasih pelajaran kedia," balas Arnold, Rachel hanya mengangguk dan kembali keponselnya. "Ar, pinjem hp." "For what?" "Srempet tikus," jawab Rachel langsung mengambil ponsel Arnold yang berada diatas dashboard. "Jangan aneh-aneh ya, Chel," ucap Arnold santai. Sudah Arnold tebak jika Rachel meminjam ponselnya hanya untuk mengetahui grup kelas. Ia memang tak ikut dalam grup kelas, karna didalam sana kebanyakkan OOT yaitu Out Of Topic dan lebih condong dibuat untuk ghibah. "Kok kagak bilang kalo lo itu admin," ucap Rachel yang masih fokus pada 2 ponsel dihadapannya. Arnold hanya menggeleng dan tetap fokus pada jalan Five MB Club B Zen_Arnold telah menambahkan anda Rachela Alx: Rame bener dah. Valeo_Jhn: WB Adera_ard: 2in Kareno_Alf: 3in Varo_aja: 4in AlletaRose: Bitch mamir Rachel tersenyum miring melihat balasan dari siratu rangrang. Five MB Club B Anda sekarang admin Rachel_Alx: See u Rachel_Alx telah mengeluarkan AllettaRosse Rachel_Alx: Mampos kau! Fachrul  tersenyum puas setelah ia mengeluarkan Letta dan menjadikan diirinya admin sendiri kecuali Arnold sipembuat grup. Emang enak dikick abis dibully? Salah bully sih $$$$
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD