Martabak

644 Words
Satu bulan sudah pernikahan Rudy dan Diana. Tentunya saja banyak lika liku dalam rumah tangga mereka. apa lagi ibu Rudy,selalu saja membuat masalah dengan Nely yang sedang berjualan. "Duh,ada mertua datang kesini pasti minta martabak lagi,". Gumam Nely. Ia melihat mertua nya datang bersama Tina dan cucunya. "Seperti bisa,". Ucap bu Lela kepada menantunya mereka bertiga duduk di bangku yang telah di sediakan untuk para pembeli menunggu Martabak nya lagi ulah. "Iya mba, martabaknya enak sekali,bikin tagih terus". Ujar Tina. "Ameera,mau terang bulan nek,". rengek cucunya "sekalian,terang bulannya dua,yang sepesial,". ujar bu Lela. Nely, memutarkan bola matanya dengan malas. ia pasrah apa yang di katakan mertuanya itu. Kalau seperti ini terus aku tidak ada hujungannya lagi, batin Nely. Sudah satu bulan mertua Nely,selalu datang meminta Martabak dengan gratis. mengucapkan kata terimakasih kasih saja tak pernah, selesai di buatkan mereka langsung saja pergi. Kalau satu masih mending,ini langsung tiga kotak mana menu spesial. "Bu, sudah satu bulan selalu minta martabak. Bahkan tidak ada hujungannya lagi untukku bu,". Ucap Nely. "Kamu ini yah dasar pelit,sudah menguasai gajih anakku,masih saja ngeluh,". Jawab Mertuanya dengan marah. "Gajih mas Rudy,cukup kami makan satu bulan saja bu,". bentak Nely. ia sudah semampu mungkin menahan emosi,setiap hari selalu saja datang mertuanya. "kamu berani membentak mertuanu ha,dasar menantu tidak tau diri kamu yah,". Mata bu Lela melotot menatap tajam ke arah menantunya. "Berani sekali kamu Nely, terhadap ibu mertua ku,dasar pelit,". Sahut Tina "aku tidak membentak bu,coba saja ibu di posisi ku bagaimana,". "Ayo Nit,kita pergi dari sini. Ibu tidak akan mengakuinya sebagai menantu,". Decak bu Lela. ia merampas bungkusan martabak itu di meja. "Astagfirullah,sabarkan hamba ya allah". Nely memusut kan dadanya. Malam hari. "Mas,dalam satu bulan ini, ibumu selalu saja marah kepadaku. Mana minta mertabak terus kalau satu bungkus masih mending,ini tiga bungkus mas,mana menu istimewa,". Kata Nely. Setiap hari ada saja Nely dan Rudy, bertengkar. "Kamu kenapa mau menuruti mereka,". "Kalau gak di turuti, jualanku di obrak-abrik sama ibumu dan Tina,". "Yasudah besok mas,akan bantu kamu,". "Iya mas,dalam satu bulan ini hanya sedikit hujungan jualan untuk kita,". Nely harus berbagi hujungan jualannya dengan ibunya. "Maafkan mas yah sayang,". Lirih pelan Rudy. "Iya mas,gak papa,". Jawab Nely, melihat wajah suaminya terlihat sedih. ."ya sudah,kita tidur dulu udah malam nih,". Ajak Rudy kepada istrinya. "Iya mas, Nely juga ngantuk,".jawab Nely. Malam semakin larut mereka tertidur ke alam mimpi. Di tempat lain. "Mamah,enak sekali yah martabaknya,". Kata Ameera. "Enak yah,nanti kita minta lagi,". Ujar bu Lela. Selama pernikahan Rudy dan Nely. Bu Lela selalu mengajak Tina dan anaknya, pergi ke tempat jualan Nely. Terkadang meminta uang kalau tidak martabak,dan terang bulan. Mereka selalu meminta dengan memaksa bahkan mengancam jika tidak di beri. Terpaksa lah Nely, menuruti kemauan Mertuanya. "Besok kesana lagi bu,". Tanya Tina. "Iya dong,ibu mau beli sesuatu,jadi uangnya dari Nely,". Jawab bu Lela. "Minta yang banyak dong bu,diakan pasti banyak uang mana gajih mas Rudy semuanya untuk mba Nely,". Ujar Tina. "Iya,enak saja mau memakai semua uang dari anakku,". "Iya bu,nanti keenakan malah mba Nely nya,". "Iya Nit,ibu tak rela ia terus menerus menghabisi uang Rudy,". "Bu,lebih baik jangan ganggu keluarga Rudy. Cukup sudah ibu telah memisahkan Rudy dan Diana,". Tegur pak Heru kepada istrinya. "Ck, bapak gak usah ikut campur. Ini urusan ibu, bapak urus saja sana pekerjaan bapak,". Sahut Bu Lela kepada suaminya. "Astagfirullah,tidak baik bu menjawab perkataan suami seperti itu, takut nanti kualat,". "Tak usah menasehati ku pak, mending cari uang banyak buat aku,bikin mood aku hancur saja,". Bu Lela,pergi kekamar meninggalkan suaminya. Krekk Pintu utama terbuka, terlihat Yoga baru saja dari luar. "Yoga,ajarkan istri mu menjadi lebih baik,jangan ikut-ikutan sama ibu,". "Iya pak,". Yoga mengajak istrinya kekamar. "Kamu kenapa sih,selalu saja membuat masalah,". Tanya Yoga. Tina cemberut saja tanpa menjawab pertanyaan dari Suaminya. Malah ditinggal tidur,menutup kepalanya dengan bantal. Yoga menggeleng kan kepalanya. Sifatnya sama seperti ibu penuh dengan egois,apa katanya itu selalu benar dan di turuti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD