bc

Playboy vs cewek Manja

book_age4+
4.2K
FOLLOW
22.1K
READ
city
addiction
like
intro-logo
Blurb

Meet Yoga dan Aya, si playboy m***m vs cewek manja yang bersahabat dari masa kuliah hingga lulus. Sahabat tapi seringkali adu mulut, jarang akur.

***

"Amit-amit jabang bayi! Jangan sampe deh, gue suka sama playboy cap kadal modelan lo gini." - Aya

"Jangan ngomong gitu. Nanti jilat ludah sendiri, rasain!" - Yoga

Yoga dan Aya hampir selalu saja ribut jika bertemu. Sahabat rasa musuh. Bagi Yoga, Aya itu adalah seorang perempuan yang manja dan juga ribet. Bagi Aya, Yoga itu adalah playboy m***m yang mulutnya suka asal ceplos dan sering mencari masalah dengannya.

Lalu, bagaimana jika kedua orang itu saling jatuh cinta?

Cover by @arashop

chap-preview
Free preview
Satu
Ketika pintu yang didorongnya terbuka, Aya mendengus kasar. "Sorry," ucapnya seraya menutup kembali pintu dengan membantingnya keras. "Dasar, playboy murahan! Ngelakuin yang enggak senonoh di sembarangan tempat," umpat Aya terus berjalan menuju parkiran. "Kok bisa-bisanya gue punya sahabat kayak gitu. Mata gue jadi ternoda hari ini." Yang dilihat Aya barusan adalah sahabat yang tengah dicarinya sedang bertukar saliva dengan seorang perempuan di dalam kelas. Perempuan itu duduk di atas meja dengan kaki yang melingkar di pinggang sahabat Aya yang bernama Yoga tersebut. Aya bisa melihat bagaimana rok hitam yang digunakan perempuan itu sehabis sidang, terangkat ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus. Walau hanya sekilas matanya mengarah ke sana, Aya melihat beberapa kancing teratas kemeja putih yang digunakan perempuan itu telah terbuka dengan tangan Yoga yang sudah bergerilya ke mana-mana. Aya berdecak. Bisa-bisanya dulu dia sempat menyukai lelaki itu, walau hanya sesaat. Setelah tahu bagaimana kelakuan lelaki itu, Aya segera mengubur dalam-dalam perasaannya, hilang seketika. "Ck... cocok benar mereka berdua. Sama-sama murahan!" Aya terus saja nyerocos sepanjang perjalanan. "Di kelas berani-beraninya mereka kayak gitu. Untung cuma gue yang lihat. Coba kalau dosen, mampus tuh orang berdua! Apa lagi kalau ada mahasiswa lain yang lihat terus iseng videoin, disebar. Bisa malu sampe ke ubun-ubun pastinya. Heran gue, si Yoga oon banget asal nyosorin anak orang aja." Sahabat Aya yang menjadi berbuat hal tidak senonoh di dalam kelas tadi, segera menjauhkan diri dari perempuan di depannya setelah tercyduk oleh Aya. Nafsunya ingin menggerangi lekuk tubuh perempuan di depannya sirna seketika. Perempuan cantik di hadapannya yang termasuk dalam kategori cewek hits di kampusnya, menggerutu kesal sambil mengancingi kemejanya. "Gue harus pergi," ucap Yoga sambil merapihkan kembali penampilannya. "Ke mana?" "Balik ke kosan." "Aku ikut!" Perempuan itu turun dari meja dan bergelayut manja di lengan Yoga. "Kita bisa melanjutkan yang barusan ketunda di kosan kamu." Yoga tersenyum miring. Perempuan di dekatnya ini cantik, tapi murahan sekali. Yoga jadi semakin tak berminat buat menjalin hubungan serius dengannya. Tak lama lagi, perempuan ini pasti akan dia tinggalkan begitu saja. Lagian, sampai saat ini, Yoga sama sekali belum menyatakan perasaannya. Usai sidang tadi, Yoga ditarik oleh perempuan itu menuju salah satu kelas untuk berbicara. Siapa sangka, dia malah disosor duluan ketika pembicaraan mereka belum selesai. Namanya juga lelaki normal, Yoga merespon apa yang dilakukan perempuan itu. Pesona seorang Yoga memang bisa melemahkan perempuan mana saja. Banyak perempuan yang rela melemparkan diri mereka begitu saja kepada Yoga. Namun, mereka harus gigit jari karena seorang Yoga yang notabene-nya pemilih. Dia tak mau bermain dengan perempuan sembarangan. Dalam kisah asmara pun, dia tak mau asal memilih pacar. Dari SMA hingga sekarang, hanya dua orang yang diseriusinya. Selebihnya, hanya menjadi mainannya. Toh bukan Yoga juga yang menarik perempuan-perempuan tersebut untuk jatuh ke dalam pelukannya. Mereka sendiri yang datang kepada Yoga. Di kampus, walau bukan yang menjadi idola nomor satu, tapi Yoga cukup digandrungi banyak perempuan di sana. Yang pertama, tentunya ada Fero, sahabat Yoga dan Aya yang terjebak friendzone dengan Maudy Ayninda, masih sahabat mereka juga. Yoga tahu persis kalau kedua sahabatnya itu saling suka, hanya saja tak menyadari satu sama lain. Atau, ada salah satu yang sadar, tapi lebih memilih untuk memendamnya? Yoga bersahabat dengan Aya, Fero dan Maudy sejak semester awal perkuliahan. Kebetulan, mereka sama-sama kuliah dan mengambil Fakultas Hukum. Pada semester tiga, bertambah satu orang lagi sahabat mereka, yaitu Dikta. Dan sampai sekarang, di saat semuanya selesai sidang, persahabatan mereka berlima masih terjalin. Yoga melepas tangan perempuan bernama Cindy yang bergelayut di lengannya. "Sorry, Cin, kosan gue nggak bebas." "Oh. Tapi nggak apa-apa. Aku mau mampir sebentar doang ke kosan kamu kalau gitu. Boleh 'kan kalau nggak lama?" Yoga sungguh malas ditempeli perempuan modelan begini. Dia merasa risih. "Gue ada acara sama sahabat-sahabat gue hari ini." Yoga tidak berbohong. Dia memang ada acara bersama para sahabatnya di tempat kosnya. Ada taman cukup luas di bagian belakang indekosnya yang mewah itu. Dan si pemilik kos tidak keberatan jika salah satu penyewa kosnya membuat acara di sana. Asal bisa membersihkan kembali kekacauan yang ditimbulkan usai acara. "Bagus kalau gitu! Aku pengen sesekali gabung sama geng kalian. Kayaknya seru deh!" seru Cindy antusias. Terbayang olehnya bisa bergabung dengan si paling tampan di kampus, Fero, si cantik Maudy dan si cowok dingin, Dikta. Kalau Aya yang baru saja menyebabkan kemesraannya dengan Yoga terganggu, Cindy sama sekali tidak respek padanya. Bagi Cindy, tidak ada sesuatu spesial yang bisa dilihat dari seorang Aya. Yang ada, minusnya perempuan itu. Bersuara cempreng dan sikap manjanya yang terkadang membuat Cindy muak. Pasalnya, beberapa kali dia melihat perempuan itu merengek pada Yoga. Ya, walau mereka sekedar sahabat, Cindy tidak senang saja melihatnya. Ya kali Yoga mengajak Cindy. Yang ada, Fero bakalan kesal padanya. Fero itu paling tidak mau jika mereka berlima mengadakan acara, ada perempuan lain yang diajak ikut bergabung. Pasalnya, pernah Yoga melakukan itu sekali. Dan perempuan itu tak hentinya cari perhatian pada Fero. Padahal, sudah ada Yoga di sebelahnya yang tampangnya tidak kalah menarik dibanding Fero. "Nggak bisa, Cin, Sorry. Kita cuma mau kumpul berlima aja." Bibir Cindy mengerucut sebal. "Ya udah deh kalau gitu. Kapan kita bisa ketemu lagi?" "Nanti gue kabarin," jawab Yoga cepat, biar tak berlama-lama dengan Cindy. *** "Lama amat sih, lo! Jangan bilang lo sampe ena-ena di dalam kelas," semprot Aya kepada Yoga yang baru saja datang menghampiri setelah dirinya berdiri cukup lama di depan mobil lelaki itu. Yoga mendengkus. "Ngaco lo!" "Kali aja gitu." Aya berjalan ke arah pintu mobil dan membukanya saat Yoga sudah menyalakan remote mobilnya. Diikuti dengan lelaki itu masuk setelahnya di bagian kemudi. "Lain kali kalau mau kayak tadi lagi, lihat tempat dulu lah! Gimana kalau ada yang diem-diem ngerekam apa yang kalian lakuin tadi?" "Gue kebawa nafsu aja tadi," sahut Yoga santai. "Lain kali nggak gitu lagi." "Kalian pacaran?" tanya Aya sambil mengenakan sabuk pengamanan. "Enggak." "Hah?! Terus tadi tuh kalian ngapain?" "Cipokan seperti yang lo lihat." "Gila!" "Lo tahu gimana gue, Ya." Yoga menyalakan mesin mobilnya, hendak meninggalkan parkiran kampus. "Gampangan banget si Cindy. Gue nggak nyangka dia murahan begitu." "Ya gitu deh!" "Terus lo kenapa mau begituan sama dia?" "Begituan gimana maksud lo? Yang jelas ngomongnya, Ay!" ujar Yoga menyengir. "Aya, bukan Ay!" Aya berdecak. Tak mau orang lain salah kira dengan Yoga yang kadang suka menggodanya dengan panggilan begitu. Nanti takutnya orang berpikiran kalau Yoga memanggilnya dengan singkatan dari ayang. Beda halnya kalau Maudy dan Fero yang memanggilnya begitu. "Oke, Ayang. Eh, Aya maksud gue." Aya berdecak. Kembali lagi ke topik awal, Aya masih penasaran kenapa si cantik Cindy yang terkenal pintar dan berkelas di kampus mereka itu, bisa merendahkan diri begitu saja di hadapan seorang Yoga. Aya melirik Yoga yang sudah mulai berkonsentrasi pada jalanan di depannya. "Ngapain lo lihat-lihat gue? Gue tahu gue emang ganteng. Lo baru sadar?" Aya mencebikkan bibirnya. "Gantengan juga Fero ke mana-mana. Lo kalah jauh dari dia." "Gue akui kalau Fero lebih ganteng dari pada gue. Tapi, lo harus tahu kalau gue termasuk dalam sepuluh besar jajaran cowok tertampan di kampus," ucap Yoga membanggakan diri. "Hasil survei dari mana itu? Jangan ngadi-ngadi lo." "Banyak yang bilang begitu." "Sulit dipercaya." Yoga sontak tertawa. "Apa sulitnya sih, ngakuin kalau sahabat lo yang satu ini juga tampan?" Ponsel Aya berbunyi, hingga perempuan itu tak meladeni pertanyaan Yoga. Ada telepon dari Maudy. "Ya, Dy?" ".......... " "On the way kosan Yoga, masih jauh, sih." ".......... " "Dia memadu kasih dulu tadi, lama. Kesel gue!" Aya melirik Yoga yang melotot padanya, namun dia tak peduli. ".......... " "Oke. Entar kabarin kalau udah mau nyampe." Aya mematikan sambungan teleponnya dengan Maudy. "Mereka udah di supermarket?" "Udah lah, dari tadi kali! Pasti udah selesai juga belanjanya. Sekarang mau jalan ke kosan lo. Lo sih, dari tadi gue cariin juga, malah mesumin anak orang." Aya sidang paling terakhir tadi dan Yoga menunggunya. Fero dan Maudy yang selesai sidang lebih dulu, mereka berbelanja ke supermarket membeli beberapa bahan makanan dan minuman untuk acara mereka berkumpul di indekos Yoga. Sedangkan Aya dan Yoga tugasnya akan langsung menuju indekos untuk mempersiapkan segala sesuatu di sana. Makanya, Yoga menunggui perempuan itu karena akan berangkat bersama menuju indekosnya. Sedangkan Dikta, akan menyusul belakangan. Dikta sudah seminggu yang lalu sidang dan hari ini dia ada interview kerja, sebelum datang ke acara mereka nanti. "Kalau begini, entar Maudy dan Fero duluan deh yang nyampe kosan lo." "Ya nggak apa-apa. Jadi kita siapin rame-rame," ucap Yoga cuek. "Lagian, gue nggak yakin kalau kita berdua yang siapin semisal tiba duluan di sana." "Kenapa?" "Anak manja kayak lo, mau nyapu halaman belakang kosan gue doang, emang bisa?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kala Terang Dinanti

read
11.0K
bc

My Secret Little Wife

read
52.6K
bc

Dilema Hati Istri Bayaran Sang Bos

read
46.0K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
6.9K
bc

Turun Ranjang, Dinikahi Kakak Ipar

read
26.9K
bc

Tuan Bara (Hasrat Terpendam Sang Majikan)

read
108.1K
bc

Nasib Istri Tersakiti

read
6.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook