Bab.27 Pengakuan Larashati

1453 Words

Sore itu, di balik tembok dapur yang selalu ramai oleh aroma nasi dan tumisan sayur, Neneng berdiri sambil memotong bawang. Tatapannya tak fokus pada irisan di depannya, melainkan sesekali menatap ke arah jendela kecil yang menghadap ke halaman depan, tempat Larashati sedang menyapu daun-daun kering. Sudah beberapa hari ini, mata Neneng tidak pernah lepas dari gerak-gerik gadis berwajah ayu itu. Larashati, santri baru berusia dua puluh tahun, yang baru saja diterima di pesantren setelah permintaan langsung dari ayahnya, seorang pengusaha besar dari Surabaya. Gadis itu memang menarik perhatian sejak hari pertama datang, bukan hanya karena kecantikannya yang memikat, tapi juga karena caranya berbicara yang kadang terlalu berani untuk ukuran santri perempuan. Dan yang paling membuat hati Ne

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD