Sudah delapan bulan berlalu sejak Rafa dan Nayla menetap di Semarang. Rumah sederhana mereka berdiri di kawasan yang tenang, tidak jauh dari pesantren tempat Rafa mengajar. Udara pagi selalu membawa aroma basah rumput dan azan subuh dari masjid kecil di ujung jalan. Setiap hari, Nayla bangun lebih awal. Ia akan menyiapkan teh jahe hangat, lalu membangunkan suaminya dengan lembut. “Ustadz, sudah subuh,” bisiknya sambil menyentuh lembut bahu Rafa. Rafa membuka mata, tersenyum kecil, lalu duduk. “Terima kasih, istriku. Kamu duluan wudhu, biar aku siapin sajadah.” Shalat subuh selalu mereka lakukan berjamaah. Selesai salam, Rafa membaca dzikir panjang, sementara Nayla menatap wajah suaminya penuh rasa syukur. Ia merasa tenang, sekalipun belum dikaruniai keturunan, cinta Rafa tidak berubah s

