Minta elus

1225 Words
Viona masih berada di kamarnya, dalam tradisi keluarga Viona, mempelai wanita tidak diperbolehkan keluar kamar, sampai sang mempelai pria sudah selesai mengucapkan ijab qobul. Hal ini sangat menguntungkan sekali untuk Axel. Dengan begitu, Viona tidak akan tau siapa nama asli dirinya. Ijab qobul sudah selesai di ucapkan, Viona keluar dari kamarnya dan berjalan pelan menuju tempat acara. Penampilan Viona terlihat begitu memukau, semua tamu undangan menatap Viona dengan tatapan kagum. Melihat semua tamu memandang ke arah belakangnya, Axel memalingkan pandangannya. Cantik sekali, gumam Axel, ikut menatap kagum. "Cantik sekali calon istri kamu, Xel," puji Mama Axel, merasa cocok dengan calon menantunya. Viona menghentikan langkahnya, saat dirinya sudah berada tepat di depan para saksi dan calon suaminya. Ternyata, calon suami sewaanku tampan juga. Tidak sia-sia aku memilihnya. Biarpun miskin, tapi paling tidak, masih bisa di ajak ke tempat umum. Ya, tinggal dipoles saja, pasti semakin oke, batin Viona. "Viona, kamu cantik sekali," puji Mama Axel, menyalami Viona. "Tante," Viona terkejut melihat kehadiran mantan calon mertuanya. "Terimakasih, Tan," sambung Viona, tersenyum kikuk, merasa tidak enak. "Dipta, kamu sudah mengucapkan ijab qobul, belum?" bisik Viona, mengalihkan fokusnya ke arah Axel. "Sudah," jawab Axel singkat. "Kenapa aku tidak mendengarnya? Ayah mana?" tanya Viona bingung. "Ada, sedang ke belakang. Jangan bertanya terus, fokus ke depan!" sahut Axel, mendengarkan kata-kata Pak penghulu. *** Acara yang tadinya ingin digelar secara tertutup dan sederhana, akhirnya berakhir meriah. Hari sudah mulai malam, Viona dan Axel kini sudah berada di kamar milik Viona. Ruangan wangi khas pewangi wanita menambah kesan menenangkan. Axel duduk di sofa yang ada di kamar Viona, matanya menatap ke sekeliling kamar. Banyak sekali foto milik Viona dari yang berukuran kecil, hingga berukuran besar dengan gaya foto yang bermacam-macam. "Kamu ini model?" tanya Axel. "Tidak!" jawab Viona, mengeringkan rambutnya. "Terus, kenapa foto kamu bergaya seperti model semuanya?" tanya Axel, mengerutkan keningnya. "Ya, suka-suka aku. Bergaya seperti itu bukan hanya model saja, semua orang juga bisa," sahut Viona, tanpa menoleh ke arah Axel. "Aku seorang presdir di perusahaan VON," sambung Viona, dengan angkuhnya. Oh, jadi wanita ini presdirnya. Bukannya perusahaan itu ada di bawah naungan perusahaan milikku? Cih, sok angkuh dan menyewaku, apa dia tidak tau, kalau aku adalah pemilik perusahaan yang dia banggakan itu? batin Chris, mengejek Viona. "Berhubung kita sudah menikah, bagaimana kalau kita membeli rumah baru untuk kita berdua tinggal?" usul Viona, memakai riasan di wajah mulusnya. "Tapi, aku," Belum selesai Axel bicara, Viona sudah menyela ucapan Axel. "Tidak usah dipikirkan. Aku tau kamu tidak punya cukup uang untuk membelinya. Jadi, karena aku yang punya uang lebih banyak dari kamu, aku yang akan membelinya. Nanti kamu tinggal beres-beres saja kalau aku berangkat kerja," ucap Viona, membuat Axel mendengus kesal. "Terserah kamu saja!" sahut Axel, merebahkan tubuhnya di sofa. Dasar sombong, dia kira aku tidak bisa memberikannya sebuah rumah? Belum selesai aku bicara, dia sudah menyelanya saja. Aku sudah cukup punya banyak rumah, untuk apa lagi membeli yang baru, gerutu Axel dalam hati. "Besok kita mencari rumah baru, aku punya kenalan dari perusahaan Xelta. Dia yang akan merekomendasikan rumah yang cocok untuk kita tinggali," ucap Viona. Axel sebenarnya mendengar kata-kata Viona. Tapi, mendengar kata-kata Viona yang dinilainya terlalu angkuh, Axel memilih mengabaikannya saja. Axel berpura-pura tidur, telinganya sudah merasa sangat sakit mendengar suara Viona. "Kamu tidur?" tanya Viona, menoleh ke arah Axel. Dasar tidak sopan, orang lagi bicara malah tidur. Memang ya, kalau orang rendahan itu tidak tau sopan santun, gerutu Viona, yang masih bisa didengar oleh Axel. Enak saja mengatakan aku orang rendahan, lihat saja nanti kamu. Akan aku buat kamu menjilat kembali kata-kata kamu itu, batin Axel. Viona yang merasa kesal sudah diabaikan oleh Axel, menghentakkan kakinya berjalan menuju tempat tidur. Aku bangunkan atau tidak, ya? Kasihan juga kalau dia tidur di sofa seperti itu. Tapi, dari cara tidurnya, dia seperti sudah biasa hidup susah seperti itu. Hem, lebih baik aku bangunkan saja, kasihan juga kalau sudah menikah dengan orang kaya sepertiku masih tidur di tempat tidur yang seperti itu, gumam Viona, berjalan menghampiri Axel. "Dipta, bangun!" panggil Viona, mencoba membangunkan Axel, yang masih pura-pura tidur. "Dipta! Ayo cepat bangun!" Viona mengeraskan volume suaranya. Axel masih tidak membuka matanya, tidak sengaja kakinya menyenggol bantal sofa dan jatuh di dekat kaki Viona. Viona yang merasa tidak direspon, berniat membangunkan Axel dengan cara mencubit pipi Axel. Tapi, Viona tidak menyadari kalau bantal yang Axel jatuhkan berada di dekat kakinya. Karena tidak hati-hati, Viona menginjak bantal itu dan berakhir jatuh di pelukan Axel. Axel menahan nafasnya kuat-kuat. Pipi Viona mendarat tepat di wajah Axel. Detak jantung Axel berpacu cepat, tidak hanya Axel yang merasakan itu. Viona juga merasakannya, ciuman di pipinya yang tidak disengaja berhasil membuat pipinya merah merona. "Apa yang sedang kamu lakukan?" Axel sedikit mendorong Viona menjauh dari tubuhnya. Viona dengan cepat berdiri, lalu merapikan pakaian dan rambutnya. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak sengaja terjatuh," sahut Viona, memalingkan pandangannya ke arah lain. Axel menatap Viona curiga, matanya beralih ke arah perut Viona yang masih terlihat rata. "Kalau jalan itu hati-hati! Kamu punya mata kan? Jalan itu tidak selalu menggunakan kaki saja, mata juga perlu digunakan. Jaga kandungan kamu itu!" ucap Axel, membenarkan posisi tidurnya. Viona mengumpat di dalam hati, ada perasaan senang saat pria di depannya memperhatikan kandungannya seperti ini. "Jangan tidur di sini! Tidur di kasur saja," ucap Viona. "Aku di sini saja," tolak Axel. "Kataku di kasur, ya di kasur! Untuk apa kamu tidur di sofa begini? Memangnya tidak ada tempat tidur yang lain?" omel Viona, menyilang kan kedua tangannya di d**a. Axel membuka matanya, saat pandangan keduanya bertemu. Viona dengan cepat mengalihkan pandangannya. Axel yang sudah merasa sangat lelah seharian ini, akhirnya memilih menuruti perintah Viona. Axel bangun dari tidurnya, lalu berjalan menuju kasur meninggalkan Viona yang masih berada di tempatnya. "Hei, mau ke mana?" tanya Viona mengikuti Axel. "Aku punya nama. Orang tuaku memberi aku nama, jangan hanya memanggil aku dengan sebutan, hei!" sahut Axel dingin. "Iya, maksudku Dipta. Kamu mau ke mana?" Viona mengulangi pertanyaannya. "Mau tidur," jawab Axel, berbaring di sisi kanan tempat tidur. Kenapa dia cuek sekali? Biasanya, para pria akan sangat senang kalau bertemu atau bicara denganku. Apa Dipta ini punya kelainan? Secara aku ini cantik, kaya, pintar, mapan lagi. Masa sih, Dipta tidak tertarik denganku? batin Viona. Keduanya berbaring di satu tempat tidur yang sama dan saling membelakangi. Malam ini, entah mengapa Viona merasa sangat gelisah sekali. Ada perasaan aneh yang muncul saat dirinya melihat Axel. Duh, kenapa aku mau perutku diusap oleh Dipta, ya? Aku bangunkan atau tidak? Tapi, rasanya aku ingin sekali, batin Viona, berbalik ke arah Axel yang masih belum bisa berlayar ke pulau mimpi. "Dipta, bangun!" Viona mendorong pelan pundak Axel. Aduh, apa lagi sih? Kenapa gadis ini begitu menyebalkan sekali! Baru saja mau tidur, dia malah menggangguku lagi, umpat Axel, berbalik. "Apa lagi?" tanya Axel ketus. "Tidak ada apa-apa," jawan Viona, merasa ragu menyampaikan keinginan gilanya. "Dasar aneh, mengganggu orang saja!" gerutu Axel, membalikkan tubuhnya lagi. Aduh, bagaimana cara mengatakannya, ya? Kalau aku langsung bilang, gengsi sekali rasanya. Mau ditaruh di mana wajahku nanti? Tapi, kalau tidak, aku pasti tidak bisa tidur nanti, batin Viona, menggigit bibir bawahnya. "Dipta!" panggil Viona lagi, memberanikan dirinya. "Hem, ada apa?" tanya Axel, tanpa menoleh. Viona menarik nafasnya dalam-dalam. "Anak kamu mau dielus-elus," sahut Viona, dengan satu tarikan nafas. Axel tidak bergeming, Viona masih menunggu respon dari Axel. Saat Axel membalikkan badannya, Viona mengalihkan pandangannya gugup, bagaimana reaksi Axel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD