Viona menggerutu kesal menghentakkan kakinya. Entah kenapa Viona merasa sangat kesal jika suaminya diremehkan atau direndahkan oleh orang lain termasuk Ayahnya sendiri.
Di hotel, Axel sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Baru saja Axel melangkah masuk ke kamarnya. Viona memanggilnya dari belakang. Viona berjalan pelan menghampiri Axel yang terpaku melihat penampilan istrinya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Axel heran.
"Harusnya aku yang bertanya itu. Kita ini sudah menikah, sudah aku katakan jangan bekerja sebagai pelayan lagi. Aku bisa memberikan kamu gaji lebih besar dari gaji yang kamu terima di hotel ini," sahut Viona.
"Sombong sekali kamu! Aku menyukai pekerjaanku, uangmu simpan saja untuk kamu sendiri," Axel mendesah kesal.
"Aku tidak sombong, aku hanya tidak mau saja orang-orang menghina kamu. Aku ini seorang presdir, masa suaminya bekerja seperti ini," ucap Viona.
"Kamu bukan takut aku dihina, tapi lebih menakutkan diri kamu sendiri," bantah Axel, menatap Viona sinis.
"Terserah apa kata kamu. Sekarang ikut aku, aku mau mengajak kamu melihat rumah baru kita. Besok pagi kita pindah ke rumah baru," ajak Viona, menarik tangan Axel.
"Kenapa memaksa seperti ini? Aku masih bekerja, tunggu malam saja setelah pekerjaanku selesai," tolak Axel menarik tangannya.
"Tidak bisa, kalau malam aku sudah capek. Apa kamu lupa, kalau sekarang aku sedang mengandung anak kamu? Kamu harus ikut aku sekarang, masalah pekerjaan kamu, tinggalkan saja! Aku akan mengganti gaji kamu hari ini tiga kali lipat!" Viona memaksa Axel.
Axel mendelik kesal melihat kesombongan itu. Dengan sangat terpaksa Axel mengikuti Viona. Bagas yang sedang bertugas mengawasi Axel hanya bisa menatap atasannya itu pergi tanpa bisa mencegahnya.
"Siang Tuan besar, saya mau laporan. Tuan Axel meninggalkan pekerjaannya dan pergi bersama seorang wanita," Bagas langsung melapor setelah Axel sudah benar-benar pergi.
"Biarkan saja Bagas, itu istrinya. Kamu kembali ke kantor utama saja!" perintah Papa Axel.
Axel memasuki mobil sport milik Viona dan duduk di kursi penumpang sesuai perintah Viona. "Maaf ya, seharusnya sih suami yang menyetir mobil untuk istrinya. Berhubung ini mobil sport, aku yakin kamu belum pernah mengendarainya. Jadi, untuk sementara ini aku saja yang menyetir untuk kamu. Besok-besok aku ajarkan kamu," ucap Viona, merendahkan Axel.
Dasar sombong! Baru punya mobil seperti ini saja sudah sombong. Tidak anaknya, tidak ayahnya, keduanya sama-sama suka merendahkan orang lain, gerutu Axel dalam hati.
Dua puluh menit keduanya melakukan perjalanan menuju rumah baru mereka. Akhirnya mobil yang dikendarai Viona dan Axel mulai memasuki kawasan perumahan elit. Axel terperangah saat dirinya melewati rumah pribadi miliknya.
"Kamu membeli rumah di kawasan ini?" tanya Axel.
"Iya, kenapa? Kamu terkejut? Aku akui ini memang perumahan elit dan mahal, wajar saja kalau kamu terkejut seperti itu. Rumah yang paling besar di depan sana itu katanya milik Axel, anak Pak Pradipta orang paling kaya nomor satu di kota ini. Yang membeli rumah di sini hanya para orang kaya saja, aku jadi maklum kalau reaksi kamu seperti itu," sahut Viona, tersenyum sinis.
Memang rumah itu milikku, itu rumah paling besar di sini. Aku juga tau kalau ini kawasan untuk orang yang berduit saja. Kenapa wanita ini kata-katanya selalu pedas? Apa jadinya anakku nanti kalau dia mengikuti gen ibunya. Bisa kacau dunia persilatan, batin Axel menepuk keningnya.
"Kamu kenapa? Aneh sekali! Kamu tidak pernah lihat rumah orang kaya, ya? Kening kamu itu jangan ditepuk seperti itu! Nanti otak kamu tergeser, aku juga yang susah," tegur Viona, membuat Axel kesal.
"Bicara saja sesuka hatimu! Di mana rumah yang baru kamu beli?" tanya Axel penasaran.
"Itu di depan sana, besar kan?" sahut Viona memamerkan rumah barunya.
"Hem, lumayan juga," ucap Axel terlihat biasa saja.
"Lumayan apa nya? Itu besar, itu rumah nomor empat dari depan. Semakin rumahnya masuk lebih dalam lagi, semakin kecil rumahnya dan semakin murah," protes Viona.
"Terserah saja!" sahut Axel, malas berdebat dengan Viona.
Axel dan Viona turun dari mobil, sebuah rumah besar bernuansa putih bercampur warna emas terpampang jelas di depan mereka. Gaya klasik dari rumah yang baru saja Viona beli, memiliki daya tari tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.
"Ayo masuk! Jangan bengong saja di sini!" ajak Viona menarik tangan Axel tanpa sadar.
Axel yang ditarik tiba-tiba terkejut, tanpa sengaja kakinya menginjak ujung sendalnya. Axel berhenti membenarkan sendalnya saat berdiri di depan pintu rumah. Viona yang salah mengira langsung menegur Axel.
"Eh, tidak perlu lepas sendal. Masuk saja pakai sendal kamu!" ucap Viona.
"Aku tidak sedang melepas sendal," sahut Axel, masuk mendahului Viona.
Kasihan sekali pria itu, sepertinya dia belum pernah masuk rumah semewah ini selain rumah milik ayah, batin Viona, mentertawakan Axel dalam hati.
***
"Ini kamar kita, aku sudah menyiapkan semuanya. Aku mendesain sendiri ukuran kasur kita, aku tidak mau kejadian tadi pagi terulang lagi," ucap Viona.
"Ya, terserah kamu saja. Aku mau melihat-lihat yang lainnya," sahut Axel, meninggalkan Viona sendirian.
Ternyata rumah ini berbeda jauh dengan rumahku. Di sini masih terlalu manual semua peralatannya. Wajar saja rumahnya jauh lebih murah, liftnya juga cuma ada satu. Punya rumah seperti ini saja tingkahnya sudah sombong. Bagaimana kalau wanita itu tau, kalau rumah paling depan itu adalah rumahku, bisa mati berdiri wanita itu, ejek Axel tertawa dalam hati.
"Bagaimana rumahnya? Oke kan?" tanya Viona mengejutkan Axel.
"Iya," jawab Axel singkat.
"Hanya itu saja respon kamu?" tanya Viona kesal.
"Lalu, aku harus bagaimana? Berteriak-teriak atau jungkir balik? Jangan terlalu mengkhayal tinggi, kalau jatuh sakit!" sahut Axel, meninggalkan Viona.
"Hei tunggu aku! Kamu mau ke mana?" tanya Viona mengejar Axel.
Axel tidak mempedulikan kata-kata Viona. Axel merasa bosan mendengar ocehan Viona yang selalu saja berkata sombong.
"Besok pagi kita pindah ke rumah ini, kamu siapkan saja semua pakaian yang mau kamu bawa!" perintah Viona, berjalan di samping Axel.
"Hem!'' sahut Axel dengan nada ketus.
"Kalau kamu sudah puas melihat-lihatnya, kita pulang sekarang!" ajak Viona yang tanpa sadar menginjak plastik.
Axel yang melihat Viona hampir terjatuh dengan sigap menangkap tubuh Viona. Pandangan mereka berdua saling beradu, Viona tampak terkesima melihat ketampanan wajah Axel dari jarak sangat dekat. Begitu pula dengan Axel. Bulu mata yang tebal dan lentik, alis mata yang natural dan bibir tipis berwarna merah muda membuat Axel juga ikut terkesima dan mengagumi wajah cantik istrinya.
Viona yang tersadar lebih dulu berontak dan melepaskan pegangan tangan Axel.
"Kamu sengaja ya melakukan ini? Kamu pasti mau mengambil kesempatan dariku, kan?" tuduh Viona merapikan penampilannya.
"Jadi orang itu banyak-banyak bersyukur dan berterimakasih! Kalau aku tidak menolong kamu, bisa saja kamu terjatuh. Bukannya berterimakasih, malah menuduh orang lain!" gerutu Axel, merasa tidak terima dengan tuduhan yang diberikan Viona padanya.