Viona menangis untuk yang pertama kalinya setelah terakhir menangisi kepergian Ibundanya.
"Viona, maafkan Ayah," ucap Ayah Viona, masuk ke kamarnya.
Viona memalingkan mukanya, bukan marah. Viona hanya merasa kecewa dan sedih saja menerima semua perlakuan itu.
"Ayah tidak salah, aku yang salah," jawab Viona, mengusap air matanya.
"Katakan pada Ayah, siapa pria itu?" tanya Ayah Viona.
"Dia kekasihku, aku akan menikah dengan dia," jawab Viona, menatap sang Ayah.
"Kamu membuat Ayah kecewa, Vio. Apa semua ini karena perjodohan itu?" tanya Ayah Viona menebak.
"Bisa iya, bisa juga tidak. Maafkan Vio," sahut Viona.
Ayah Viona keluar dari kamar putrinya. Hatinya merasa sedikit sakit, putri yang dijaganya selama ini dengan sepenuh hatinya, tega melakukan perbuatan tercela dan bahkan bisa merusak nama baiknya.
Viona mencari tas kecil miliknya, tas yang dia pakai saat malam terlarang itu terjadi.
Dimana kertas itu? Aduh, kalau hilang bisa bahaya, batin Viona, menggeledah isi tasnya.
Setelah semua isi tas terbongkar, kertas kecil yang Viona cari ditemukan. Viona duduk di atas tempat tidurnya, sambil menekan satu persatu angka yang tertulis di kertas yang nampak kumal dan sudah mulai lusuh.
"Hallo, ini siapa?" tanya Axel, merasa tidak mengenali nomor yang baru masuk.
"Ini aku, wanita yang bertemu dengan kamu di hotel dua bulan yang lalu," jawab Viona.
Axel nampak mengingat sesuatu, sekuat tenaga Axel mengingatnya. Tapi, tetap saja Axel lupa.
"Wanita mana? Aku sering bertemu wanita lain di hotel," jawab Axel.
Mendengar kata-kata Axel, membuat Viona kesal setengah mati.
"Eh, pelayan. Kamu jangan pura-pura lupa padaku. Saat ini aku sedang hamil, dan aku mau kamu menikahi aku secepatnya!" ucap Viona memaksa.
Mendengar kata hamil membuat Axel mengingat semuanya. Ada keraguan di hatinya saat mendengar pengakuan Viona.
"Benar-benar hamil, atau cuma berpura-pura hamil? Aku tidak tau, apa yang saat ini kau rencanakan. Tapi, kalau kau sampai membohongiku, aku bisa melaporkan kau ke kantor polisi," ancam Axel.
"Dasar gila kamu, untuk apa aku berpura-pura hamil, hah? Jangan terlalu sombong, kamu itu hanya seorang pelayan! Kamu kira aku senang menikah dengan seorang pelayan hotel rendahan sepertimu?" bentak Viona, meremas bantal di dekatnya.
"Jangan terlalu banyak bicara! Aku minta bukti kehamilannya. Setengah jam lagi, temui aku di rumah sakit Harapan," perintah Axel, mematikan panggilan teleponnya.
Viona membanting ponselnya ke kasur. Dasar pelayan sialan! Memangnya dia pikir, dia siapa? Seharusnya dia bersyukur karena aku memintanya menjadi suami sewaanku dengan gaji yang jauh lebih besar dari pekerjaannya yang hanya seorang pelayan. Wajah saja tampan, tapi bodoh, umpat Viona, beranjak dari duduknya menuju lemari pakaiannya.
***
Viona berjalan santai menuju lorong rumah sakit. Dilihatnya seorang pria tampan sudah menunggu dirinya di depan sebuah ruangan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Viona, duduk di samping Axel.
"Iya," jawab Axel singkat.
"Pakaian kamu oke juga, beli di mana?" tanya Viona yang merasa penasaran karena pakaian Axel dari ujung kaki sampai ujung kepala bermerek.
"Pinjam dengan teman," sahut Axel berbohong.
"Oh pinjam. Kalau kamu menikah denganku, aku akan memberi kamu gaji dan pakaian seperti itu nanti. Jadi, kamu tidak perlu pinjam punya orang lagi," ucap Viona, tersenyum mengejek.
Axel tidak mempedulikan kata-kata Viona. Sombong sekali, memangnya dia sekaya apa? Bisa-bisanya dia mengatakan akan memberiku gaji. Umpat Axel.
Viona dan Axel masuk ke ruang pemeriksaan, setelah menjalani serangkaian tes. Akhirnya hasil tes keluar juga. Dokter menyatakan, kalau Viona benar-benar sedang hamil. Dan, usia kandungan Viona baru saja menginjak dua bulan.
"Bagaimana? Apa kamu percaya sekarang?" tanya Viona terlihat bangga.
"Kenapa kau terlihat seperti sangat bangga saat mengetahui hamil di luar nikah? Harusnya kau malu," sindir Axel, merasa tidak suka dengan gaya bicara Viona.
Viona terdiam, dirinya bukan merasa bangga. Viona juga sebenarnya merasa sangat malu. Tapi, demi menolak perjodohan sang ayah, Viona rela menanggung semua itu.
"Aku mau kamu menikahiku dalam waktu dekat ini. Semua biaya, biar aku saja yang menanggungnya. Kamu hanya perlu bersiap saja," ucap Viona, mengalihkan topik.
"Atur saja semuanya," sahut Axel datar.
"Baiklah, nanti malam kamu datang saja ke rumahku. Aku akan memperkenalkan kamu dengan ayahku, berpakaian yang rapi. Kalau dia bertanya, bilang saja kamu adalah kekasihku yang sangat mencintai aku," perintah Viona.
"Kenapa aku harus berbohong? Aku tidak mau," tolak Axel.
"Kamu harus mau, tolong bantu aku malam ini. Kalau tidak, Ayahku akan menjodohkan aku dengan pria yang kata orang aneh dan autis. Aku tidak mau, tolong aku," pinta Viona, memelas.
Mendengar alasan Viona, Axel terpaksa menurutinya.
Kini keduanya sudah berpisah, Viona kembali ke rumahnya. Sedangkan, Axel kembali ke rumah orang tuanya karena mendapat perintah penting.
"Ada apa Pa?" tanya Axel yang baru saja datang.
"Duduk sebentar, Xel!" perintah Papanya. "Perkenalkan, ini adalah Pak Budi. Kami berdua berencana menjodohkan kamu dengan putri Pak Budi. Apa kamu mau?" tanya Papa Axel.
Axel terbatuk-batuk mendengar pertanyaan sang Papa. Baru saja tadi siang dia bersedia bertanggung jawab atas kehamilan Viona. Sekarang Papanya meminta Axel menikah dengan wanita hasil perjodohan orang tuanya.
"Maaf Pa, aku tidak berminat. Aku bisa mencari calonku sendiri," sahut Axel, langsung berpamitan pulang.
"Xel, tunggu dulu!" panggil Mamanya, Axel tidak menggubris panggilan itu. Kakinya terus melangkah keluar dari rumah besar milik orang tuanya.
Apa-apaan Papa dan Mama ini, ini sudah jaman modern. Untuk apa lagi acara perjodohan diadakan. Ini bukan jaman Siti Nurbayah lagi. Kalau aku menerima perjodohan ini, bagaimana nasib wanita itu? Aku tidak mungkin mengingkari janjiku, apa lagi di dalam perutnya itu ada darah dagingku sendiri, gerutu Axel, menjalankan mobil sport kesayangannya.
"Maafkan putra saya, Pak Budi. Sepertinya Bapak benar, perjodohan ini sebaiknya dibatalkan saja. Kasihan anak-anak kalau kita memaksakan kehendak kita saja," ucap Papa Axel, merasa tidak enak dengan sikap Axel
"Tidak masalah Pak Pradipta. Saya juga minta maaf. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu," pamit Ayah Viona, bersalaman dengan mantan calon besannya.
***
Ayah Viona duduk bersama Viona, malam ini Viona berjanji akan memperkenalkan calon suaminya. Ayahnya terus menolak, tapi tekad kuat dari Viona berhasil melunakkan hati sang Ayah.
"Kalau Vio tidak menikah dengan kekasih Vio, siapa yang mau menerima Vio nanti? Apa lagi saat ini Vio sedang hamil," ucap Viona membujuk.
"Itu masalah kamu, seharusnya kamu berpikir lebih dulu dalam bertindak. Kebodohan kamu, yang membuat semua ini terjadi. Ayah mau lihat dulu seperti apa calon kamu? Kalau tidak beres, Ayah sendiri yang akan mengambil keputusan untuk masa depan kamu dan anak kamu itu," tegas Ayah Viona.
"Maaf Pak, di depan ada tamu. Katanya kekasih non Vio," Bi Wati, memberitahu majikannya perihal kedatangan Axel.
Mendengar tamu yang sudah ditunggu datang, Ayah Viona bergegas menuju pintu rumahnya.
Axel yang saat itu sedang dalam posisi membelakangi pintu rumah, dengan sangat terpaksa harus menerima bogem mentah mendadak dari calon mertuanya.
"Ayah, apa yang Ayah lalukan?" teriak Viona histeris.
Axel memegang pipi kanannya yang mengeluarkan sedikit darah. Axel tidak menyangka akan mendapatkan sambutan istimewa seperti ini.
"Kamu?" Ayah Viona terkejut saat melihat kekasih putrinya itu