Satu jam lebih perjalanan pulang, Maira tidak mengeluarkan satu patah katapun. Sangat berbeda jauh dari perjalanan sebelumnya yang dipenuhi dengan obrolan seru. Langit sudah begitu gelap, begitu pula dengan jalanan menuju rumah yang kurang pencahayaan dari lampu jalan. Maira bergidik ngeri melihat keadaan sekitar yang sangat sepi, berbanding jauh dari suasana pusat kota yang selalu ramai dengan lampu kendaraan. "Mimpi apa aku kemarin malam, sampai harus tinggal di tempat sepi seperti ini? Jangankan warung kecil, pengendara lain saja jarang sekali melintas. Sudah seperti desa mati," batin Maira. Mobil berbelok ke arah rumah mereka. Beruntung sorot lampu mobil Arman terang benderang, hingga pandangan mata Maira sedikit nyaman melihat keadaan di depan sana. "Siapa yang berdiri di teras?"

