Dengan ragu-ragu, Maira mengambil tas kecil itu. Ia masih merasa enggan membuka dan melihat isi dalamnya. "Kenapa tidak dibuka?" tanya Arman. "Nanti saja di rumah. Bagaimana kalau kita keliling lagi?" tawar Maira, ia sudah tidak sabar berkeliling melihat toko-toko yang menjual barang-barang mahal. "Hem, terserah kamu saja!" jawab Arman sendu. Ekspetasinya langsung memudar, ternyata begitu sulit mendapatkan hati Maira. Dengan langkah gontai, Arman mengikuti langkah Maira yang begitu cepat. Berjam-jam sudah keduanya di pusat perbelanjaan. Akhirnya Maira memutuskan untuk pulang, setelah mereka selesai makan di sebuah resto. Banyak sekali barang belanjaan yang harus Arman bawa. Saking banyaknya, Arman harus berbagi tugas dengan Maira. "Pak, memangnya ini semua perlu? Kenapa belanja ban

