"Heh, kalau orang lagi ajak bicara itu dilihat! Jangan malah membuang muka seperti itu! Apa ini hasil dari didikan suami kamu yang miskin itu?" sentak Dania kesal karena dirinya diabaikan. Hinaan Dania membuat darah Maira mendidih. Bukan ia mengambil hati untuk Arman. Hanya saja, ia tak suka dihina seperti itu di depan umum. "Tidak usah membahas soal didikan di sini Kak! Lebih baik Kakak bercermin dulu sebelum menghina orang lain! Oh iya, sepertinya di ujung sana ada kumpulan cermin yang dijual dengan banyak ukuran. Kakak ke sana saja dulu! Puas-puas bercermin, setelah itu baru hina orang lain!" Balas Maira. Rahang Dania mengeras menahan marah. Sedang Bima yang ada di sampingnya, memilih untuk tetap diam. Ia malas harus ikut campur urusan Maira dan Dania yang selalu saja bersitegang jik

