Maira beranjak dari tempatnya. Tanpa mempedulikan Arman, ia meraih tas miliknya di atas meja, mencari benda pipih pintar miliknya. "Mau ke mana Mai?" tanya Arman, kewalahan membujuk Maira. "Mau pesan makanan di luar. Bapak makan saja sendiri! Kalau ada yang gratis, untuk apa bayar? Toh, gadis itu dengan senang hati membagi makanannya tanpa perlu imbalan atau bayaran," sahut Maira, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Kepala Arman terasa gatal. Habis sudah kata-kata yang bisa dia katakan untuk membujuk Maira. "Kamu yakin, mau pesan makanan di luar? Rumah ini jauh dari pusat kota. Memangnya, kurir yang mana, yang mau mengantar makanan sampai ke sini?" tanya Arman, berusaha mempengaruhi Maira untuk tidak jadi membeli makanan. "Di kota ini ada banyak kurir Pak! Kalau yang sa

