Arman meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ia menatap Maira, lalu mengembangkan senyumnya. "Istriku tercinta, siapa yang mengatakan itu semua? Siapa yang meminta kamu menggadaikan ginjal? Aku tidak pernah berniat melakukan itu. Soal mahar itu,-" Arman menghentikan kata-katanya, kala ponsel dalam saku celana berdering. Merasa itu panggilan penting, Arman gegas mengeluarkan ponselnya. Kedua mata Maira membulat sempurna melihat ponsel milik Arman. "Tunggu di sini sebentar, aku mau angkat telpon dulu!" ucap Arman, lalu beranjak dan menjauh. Maira ingin mencegahnya, namun tidak sempat. Arman sudah menghilang dari pandangannya. Sepeninggal Arman, pesanan datang diantar oleh pelayan. Wajah Maira berubah pucat pasi melihat semua makanan yang ditata di atas meja. "Ya Allah, makanan seba

